PER (Price to Earning Ratio) - Berapa Tahun Modal Lo Balik?
PER itu paling gampang dipahamin kayak gini: lo beli warung nasi goreng seharga 100 juta. Warung itu untung bersih 10 juta per tahun. Berapa tahun modal lo balik? Ya 10 tahun kan? (100 juta dibagi 10 juta). Nah, angka 10 itu adalah PER-nya! Simple banget kan? PER 10 artinya lo butuh 10 tahun buat balik modal dari profit perusahaan!
Di saham, cara hitung PER itu: Harga Saham dibagi Earning Per Share (EPS). Atau lebih gampang lagi, lo liat aja di aplikasi trading lo, biasanya udah ada angka PER-nya. Nah, gimana baca angkanya? PER rendah (5-10) biasanya dianggap murah atau undervalued. PER tinggi (20-30 atau lebih) dianggap mahal atau overvalued. Tapi ini nggak mutlak ya, tergantung sektor dan growth potential perusahaan juga!
Contoh nyata: Bank BCA (BBCA) PER-nya sekitar 20-25. Artinya lo butuh 20-25 tahun buat balik modal dari profit bank. Mahal dong? Nggak juga! Karena BCA punya kualitas dan pertumbuhan yang stabil. Investor rela bayar premium (PER tinggi) untuk kualitas! Sebaliknya, saham gorengan bisa aja PER-nya 5 atau bahkan negatif (rugi), tapi tetep nggak worth it dibeli karena fundamentalnya jelek!
PBV (Price to Book Value) - Berapa Kali Lipat Nilai Aset?
PBV itu gampangnya kayak gini: lo mau beli toko yang punya aset (bangunan, peralatan, stok barang) total nilai 100 juta. Terus pemiliknya jual toko itu seharga berapa? Kalau dijual 100 juta, berarti PBV-nya 1x (harga sama dengan nilai aset). Kalau dijual 200 juta, PBV-nya 2x (harga dua kali lipat nilai aset). Kalau dijual 50 juta, PBV-nya 0.5x (harga di bawah nilai aset - ini murah banget!).
Di saham, PBV dihitung dari: Harga Saham dibagi Book Value Per Share. Book value itu nilai aset bersih perusahaan (total aset dikurangi total utang). PBV di bawah 1x biasanya dianggap murah banget karena lo beli perusahaan di bawah nilai aset-nya. PBV 1-3x dianggap wajar. PBV di atas 5x dianggap mahal kecuali perusahaannya punya intangible assets yang valuable seperti brand atau technology!
Contoh: Saham bank biasanya PBV-nya 2-4x. Kenapa? Karena aset bank itu mostly duit dan piutang, jadi nilai bukunya tinggi. Sementara saham technology atau consumer goods bisa PBV-nya 5-10x karena yang valuable itu brand dan intellectual property-nya, bukan aset fisiknya! Jadi PBV harus dibandingkan dengan peers di sektor yang sama, jangan compare bank dengan teknologi!
CARA PAKE PER DAN PBV BUAT CARI SAHAM MURAH:
Gampangnya gini: lo buka screener di aplikasi trading lo, terus filter saham dengan PER di bawah 15 dan PBV di bawah 2. Ini biasanya saham-saham yang undervalued atau murah. Tapi jangan langsung beli! Lo masih harus cek fundamental lainnya: apakah perusahaannya profitable, utangnya wajar, dan bisnis model-nya sustainable. Kadang saham murah itu murah karena emang jelek, bukan karena undervalued!
Sebaliknya, ada saham yang PER dan PBV-nya tinggi tapi tetep worth it dibeli karena growth potential-nya gede! Contoh: saham teknologi atau perusahaan yang lagi fase ekspansi agresif. Mereka invest banyak buat growth, jadi profit sekarang kecil (PER tinggi), tapi potential future profit-nya gede! Makanya investor rela bayar premium!
$IHSG $BBCA $BBRI