Kamu Tidak Dipaksa, Kamu Dibentuk
Malam itu, kota terlihat normal. Terlalu normal. Lampu jalan menyala rapi, iklan digital berkedip dengan senyum palsu, dan orang-orang berjalan cepat seperti dikejar sesuatu yang tidak terlihat. Kalau kamu tanya mereka kenapa buru-buru, mereka akan bilang “capek kerja” atau “macet,” seolah semua ini masih masuk akal.
Padahal tidak.
Aku duduk di sudut kafe kecil yang masih buka lewat jam 11 malam. Tempatnya sempit, musiknya pelan, dan baristanya tampak seperti manusia yang sudah kehilangan harapan sejak 2019. Di layar ponselku, berita berjejer rapi: inflasi, suku bunga, PHK, perang dagang, krisis energi, AI menggantikan pekerjaan, harga rumah makin tidak masuk akal.
Semua berita itu seperti potongan puzzle yang sengaja disebar supaya kamu tidak pernah melihat gambar utuhnya.
Di meja sebelah, seorang pria paruh baya menatap laptopnya seperti sedang menunggu vonis. Dia pakai jaket hitam kusam, wajahnya setengah tertutup bayangan lampu. Dari tadi dia tidak pesan apa pun selain kopi hitam yang sudah dingin. Dia tidak terlihat seperti orang yang sedang menikmati malam. Dia terlihat seperti orang yang sedang menghindari sesuatu.
Aku tidak kenal dia. Tapi aku tahu tipe orang seperti ini.
Tipe yang tidak datang untuk bersantai. Tipe yang datang karena punya informasi.
Dan malam itu, aku dapat pelajaran paling mahal tentang sesuatu yang orang-orang sebut Great Reset.
Bukan sebagai teori. Bukan sebagai debat. Tapi sebagai pengalaman.
Dia menatapku tanpa senyum.
“Kamu percaya dunia ini berjalan normal?” katanya.
Aku menahan tawa kecil. “Normal versi siapa?”
Dia mengangguk pelan, seperti sudah menunggu jawaban itu.
“Bagus,” katanya. “Berarti kamu belum sepenuhnya tidur.”
Aku benci kalimat seperti itu. Terlalu dramatis. Terlalu gaya. Tapi cara dia mengatakannya bukan seperti orang yang sedang main peran. Dia bicara seperti orang yang sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.
Dia membuka laptopnya, menampilkan sebuah folder dengan nama sederhana: RESET.
Aku pikir itu cuma gimmick. Tapi setelah itu, semuanya berubah.
Dia tidak langsung menjelaskan. Dia tidak mulai dengan teori. Dia mulai dengan fakta kecil yang kamu sendiri pasti pernah rasakan, tapi selalu kamu anggap “ya namanya juga hidup.”
“Harga naik terus,” katanya pelan. “Tapi gaji segitu-segitu aja. Kamu kerja lebih keras, tapi hidup makin sempit. Kamu ngerasa sibuk, tapi nggak kaya-kaya. Kamu nabung, tapi nilai uang kamu kayak bocor pelan-pelan.”
Aku menatap layar ponselku. Ada notifikasi promo cicilan. Ada juga pesan dari teman yang baru kena PHK. Ada lagi iklan investasi “cuan cepat” yang jelas-jelas dibuat untuk orang putus asa.
Aku mendadak muak.
“Ini bukan kebetulan,” lanjutnya. “Ini desain.”
Aku menatap dia, mencoba menilai apakah ini orang gila atau orang yang terlalu banyak nonton dokumenter. Tapi matanya tidak kosong. Matanya tajam. Dan ada sesuatu yang lebih berbahaya dari kegilaan: keyakinan yang tenang.
“Kamu tahu apa yang paling efektif mengubah manusia?” dia bertanya.
Aku mengangkat bahu. “Uang?”
Dia tersenyum tipis. “Takut.”
Aku diam.
“Kalau manusia takut, mereka akan menerima apa pun,” katanya. “Mereka akan menyerahkan kebebasan demi rasa aman. Mereka akan menukar logika dengan kenyamanan. Mereka akan rela diawasi asal tetap bisa hidup.”
Dia memutar layar laptopnya ke arahku.
Di sana ada timeline. Rapi. Terstruktur. Terlihat seperti presentasi perusahaan. Tapi isi kalimatnya bukan tentang marketing. Ini tentang perilaku manusia.
Krisis.
Narasi.
Kontrol.
Adaptasi.
Normal baru.
Dia mengetuk layar.
“Kalau kamu lihat satu per satu, kamu akan bilang kebetulan. Tapi kalau kamu lihat sebagai rangkaian… kamu akan mulai paham kenapa mereka menyebutnya Reset.”
Aku menelan ludah. “Siapa ‘mereka’?”
Dia menatapku lama, seperti menimbang apakah aku layak tahu atau tidak.
“Kalau aku jawab, kamu bakal sibuk cari nama dan wajah,” katanya. “Padahal itu bukan inti.”
Aku mulai kesal. Aku benci orang yang bicara seperti teka-teki.
“Terus intinya apa?” tanyaku.
Dia menutup laptop sebentar. “Intinya adalah sistem.”
Dia mencondongkan badan. Suaranya turun satu tingkat, seperti takut ada telinga lain.
“Dulu, kontrol itu pakai kekerasan. Sekarang, kontrol itu pakai desain sistem. Kamu nggak dipaksa. Kamu dibentuk.”
Aku merasakan bulu kudukku naik sedikit. Bukan karena takut, tapi karena kalimat itu terasa terlalu cocok dengan dunia yang aku lihat setiap hari.
Dia melanjutkan, “Mereka nggak perlu melarang kamu. Mereka cukup bikin kamu sibuk. Bikin kamu capek. Bikin kamu merasa selalu kurang. Bikin kamu ketagihan validasi. Dan pada akhirnya… bikin kamu bergantung.”
Aku menatap keluar jendela kafe. Jalanan masih ramai. Tapi orang-orang tidak terlihat hidup. Mereka terlihat bergerak otomatis.
Dia membuka laptop lagi dan menunjukkan grafik. Aku tidak tahu itu grafik apa, tapi pola naik turunnya seperti detak jantung yang tidak stabil.
“Ekonomi itu bukan lagi tentang produksi,” katanya. “Ekonomi sekarang tentang perilaku. Tentang siapa yang bisa mengarahkan keputusan massal.”
Aku ingin bilang ini berlebihan. Tapi jujur, aku sudah lama merasa ada yang aneh. Dunia terasa seperti game yang rules-nya berubah terus, dan pemain kecil seperti kita selalu telat dikasih patch note.
“Kamu tahu kenapa orang sekarang gampang banget panik?” dia bertanya.
Aku menghela napas. “Karena hidup makin mahal.”
Dia mengangguk. “Dan karena informasi makin bising.”
Dia membuka tab lain. Daftar panjang: trending topic, berita viral, drama selebriti, konflik politik, ancaman resesi, rekomendasi saham, influencer finansial.
“Ini semua bukan cuma hiburan,” katanya. “Ini distraksi. Bukan untuk membuat kamu bodoh, tapi untuk membuat kamu lelah. Orang yang lelah nggak punya energi untuk berpikir.”
Aku menyandarkan punggung. “Oke, katakanlah benar. Terus apa hubungan semuanya sama Great Reset?”
Dia tersenyum. Kali ini bukan senyum ramah. Ini senyum orang yang tahu kamu baru masuk ke pintu, dan lorongnya masih panjang.
“Reset itu bukan tentang menghancurkan dunia,” katanya. “Reset itu tentang membentuk ulang cara dunia berjalan.”
Dia mengetuk meja pelan. Sekali. Dua kali. Seperti metronom.
“Kalau kamu ingin mengubah permainan, kamu harus mengubah aturan. Kalau kamu ingin mengubah aturan, kamu harus punya alasan. Dan alasan terbaik adalah krisis.”
Aku mengingat kembali beberapa tahun terakhir. Krisis datang bertubi-tubi, seperti dunia tidak pernah diberi jeda untuk bernapas.
Dan yang lebih aneh: setiap krisis selalu diikuti perubahan besar yang permanen.
Kebiasaan berubah.
Cara kerja berubah.
Cara belanja berubah.
Cara belajar berubah.
Cara berinteraksi berubah.
Dan kita semua menerimanya. Karena apa pilihan kita?
“Kamu sadar nggak,” kata pria itu, “kalau manusia sekarang hidup dalam dua dunia?”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
“Dunia nyata dan dunia digital,” jawabnya. “Dan dunia digital itu sekarang lebih menentukan hidup kamu daripada dunia nyata.”
Aku ingin membantah, tapi ponselku bergetar. Notifikasi lain. Algoritma lain. Pengingat lain. Seolah ponsel itu ingin membuktikan perkataannya.
Dia melanjutkan, “Di dunia digital, semua bisa diukur. Semua bisa diprediksi. Semua bisa diarahkan. Dan kalau perilaku bisa diarahkan, ekonomi bisa dikendalikan tanpa kamu merasa dikendalikan.”
Aku menatapnya. “Kamu bicara soal data.”
Dia mengangguk. “Data itu mata uang baru. Dan lucunya… kamu kasih gratis.”
Dia menatap layar ponselku sebentar, lalu berkata pelan, “Kamu tahu apa yang paling mengerikan? Bukan fakta bahwa kamu diawasi. Tapi fakta bahwa kamu terbiasa.”
Kalimat itu menampar lebih keras dari yang aku kira.
Karena benar. Kita semua tahu. Tapi kita tidak peduli. Kita menukar privasi demi kenyamanan. Kita menukar kebebasan demi fitur.
Aku mencoba mengubah topik, karena jujur saja aku mulai tidak nyaman.
“Kalau ini semua desain,” kataku, “berarti ada tujuan akhirnya.”
Dia mengangguk. “Ada.”
“Dan apa itu?”
Dia menatapku lama.
“Ketergantungan,” katanya.
Aku diam.
“Ketika manusia bergantung pada sistem untuk hidup, sistem tidak perlu memaksa,” lanjutnya. “Manusia akan menjaga sistem itu sendiri.”
Aku memikirkan cicilan. Langganan. Platform kerja. Skor kredit. Akses layanan. Semua itu seperti rantai halus yang tidak terlihat, tapi terasa ketika kamu mencoba lepas.
Pria itu membuka folder lain. Nama file-nya: NORMAL.
Dia tertawa kecil. “Lucu ya. Kata normal itu sekarang cuma alat marketing.”
Aku ikut tertawa, tapi hambar.
“Normal yang dulu sudah mati,” katanya. “Dan mereka nggak mau kamu sadar itu. Mereka mau kamu terus berharap dunia kembali seperti dulu. Karena orang yang berharap balik ke masa lalu tidak akan mempersiapkan masa depan.”
Aku menatapnya. “Kamu ngomong seolah-olah kamu tahu ini semua dari dalam.”
Dia menatap kopi hitamnya yang sudah dingin.
“Aku pernah kerja di tempat yang tugasnya bukan membuat produk,” katanya pelan. “Tapi membuat keputusan manusia terlihat seperti pilihan bebas.”
Aku merasakan dada aku mengencang.
“Perusahaan?”
Dia menggeleng. “Lebih besar.”
Aku menelan ludah lagi. Kali ini bukan karena takut, tapi karena otakku mulai menyusun kemungkinan yang tidak nyaman.
Dia menutup laptop, lalu menyodorkan sebuah flashdisk kecil ke arahku.
“Kalau kamu mau tahu lebih jauh,” katanya, “kamu bisa buka ini. Tapi satu hal… setelah kamu lihat, kamu nggak bisa pura-pura nggak tahu.”
Aku menatap flashdisk itu. Kecil. Murah. Tapi terasa berat.
Aku ingin bilang tidak. Aku ingin hidup normal. Aku ingin tetap percaya semuanya cuma kebetulan.
Tapi rasa penasaran itu seperti racun manis.
Aku ambil flashdisk itu.
Dan saat jari aku menyentuhnya, dia berdiri.
“Kamu nggak akan nemuin jawaban yang kamu mau,” katanya. “Kamu cuma akan nemuin pertanyaan yang lebih tajam.”
Aku menatapnya. “Siapa kamu?”
Dia berhenti sejenak.
“Anggap aja aku orang yang dulu percaya sistem ini netral,” katanya. “Sampai aku lihat sendiri… sistem itu cuma netral untuk orang yang punya kendali.”
Dia berjalan keluar tanpa menoleh.
Aku duduk membeku beberapa detik. Kafe masih sama. Musik masih pelan. Barista masih tampak lelah. Tapi suasana sudah berubah.
Seperti ada lapisan tipis realita yang terkelupas.
Aku pulang malam itu dengan kepala penuh suara.
Di rumah, aku colok flashdisk itu ke laptop.
Folder di dalamnya tidak banyak. Tapi nama-namanya membuat napasku pendek.
BEHAVIOR.
NARRATIVE.
CRISIS.
CONTROL.
RESET.
Aku buka satu per satu.
Isinya bukan dokumen rahasia dengan cap “TOP SECRET.” Tidak ada logo aneh. Tidak ada tanda tangan misterius. Justru itu yang bikin merinding.
Isinya terlihat seperti laporan biasa. PowerPoint biasa. Bahasa korporat biasa.
Tapi kalimatnya…
“Perubahan perilaku massal dapat dipercepat melalui ketidakpastian ekonomi.”
“Ketakutan meningkatkan kepatuhan.”
“Normalisasi pengawasan terjadi melalui kenyamanan.”
“Ketergantungan terbentuk melalui integrasi layanan.”
Aku menutup laptop cepat, seperti anak kecil yang baru lihat film horor.
Aku duduk di kasur, menatap dinding.
Aku ingin bilang ini cuma fiksi. Cuma permainan kata. Cuma kebetulan.
Tapi aku tahu satu hal: kalimat-kalimat itu terlalu cocok.
Terlalu presisi.
Terlalu rapi.
Dan aku benci mengakui ini, tapi… aku merasa seperti selama ini aku memang sedang dibentuk.
Keesokan paginya, aku bangun dengan notifikasi berita lagi.
“Ekonomi diprediksi melemah.”
“Pekerjaan masa depan akan berubah.”
“AI akan menggantikan banyak profesi.”
“Investasi aman adalah…”
Aku tertawa kecil.
Ternyata dunia tidak perlu menakut-nakuti kamu dengan monster. Dunia cukup menakut-nakuti kamu dengan masa depan.
Aku pergi kerja seperti biasa. Tapi kali ini aku memperhatikan detail yang dulu aku abaikan.
Orang-orang di kereta menatap layar ponsel. Semua. Tidak ada yang benar-benar hadir.
Di kantor, rapat dimulai dengan angka-angka. Semua terlihat penting, tapi tidak ada yang benar-benar bermakna.
Di siang hari, iklan muncul sesuai yang aku pikirkan tadi malam. Seolah ponselku mendengar, padahal aku tidak bilang apa-apa.
Aku mulai sadar: dunia ini bukan hanya bergerak cepat. Dunia ini bergerak terarah.
Sore itu, aku kembali ke kafe yang sama.
Pria itu tidak ada.
Aku tanya barista, “Mas, yang jaket hitam kemarin sering ke sini?”
Barista mengangkat bahu. “Nggak tahu, Kak. Orang-orang datang pergi.”
Jawaban yang normal. Tapi entah kenapa, itu terdengar seperti peringatan.
Aku duduk di tempat yang sama. Aku buka laptop.
Aku mulai menulis semua yang aku lihat, bukan untuk menyebarkan ketakutan, tapi untuk mengingat satu hal: kalau kamu tidak mengerti permainan, kamu akan jadi pion.
Dan Great Reset, dalam versi paling sederhana, adalah ini:
Dunia sedang diatur ulang bukan karena satu orang jahat menekan tombol, tapi karena sistem lama sudah tidak cukup untuk mengendalikan realita yang makin liar.
Mereka yang punya kendali akan selalu mencari cara agar kendali tetap di tangan mereka.
Mereka tidak perlu membuat kamu miskin.
Mereka cukup membuat kamu bergantung.
Mereka tidak perlu melarang kamu.
Mereka cukup mengarahkan kamu.
Mereka tidak perlu memaksa kamu.
Mereka cukup membentuk kamu.
Dan kamu?
Kamu masih punya pilihan.
Bukan untuk menghentikan reset itu. Kamu bukan tokoh utama film superhero.
Pilihanmu cuma satu: kamu mau sadar dan beradaptasi, atau tetap tidur dan merasa dunia ini “normal.”
Malam itu aku menatap layar laptop kosong.
Aku menulis satu kalimat terakhir, kalimat yang terasa seperti kutukan sekaligus petunjuk:
“Great Reset bukan terjadi pada dunia. Great Reset terjadi pada manusia yang akhirnya sadar bahwa kebebasan bisa hilang bukan karena dirampas… tapi karena ditukar dengan nyaman.”
Aku menutup laptop.
Di luar, lampu kota masih menyala rapi.
Terlalu rapi.
Dan entah kenapa, itu yang terasa menakutkan.
Catatan Disclaimer: Cerita ini adalah karya fiksi reflektif. Semua tokoh, tempat, dan kejadian dibuat untuk kebutuhan narasi serta pembelajaran, bukan merujuk pada individu, perusahaan, atau peristiwa nyata. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan, rekomendasi, atau nasihat investasi. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab pembaca.
$IHSG $BTC $BTCIDR
