Oke, seperti yang udah gw announce sebelumnya, kali ini kita akan bahas tentang GCG.
Anggaplah kalian lagi pegang uang 100 juta cash. Lalu ada orang yang kalian ga kenal, tiba-tiba ngajakin buat bikin bisnis ayam geprek bareng. Kira-kira kalian mau terima ajakannya ga? Kalau kita pakai akal sehat, ya pasti hampir semua orang gamau dong. Ya kali, uang 100 juta cape-cape dikumpulin, diserahin ke orang yang bibit, bebet, bobotnya kita gatau. Seminimal-minimalnya, kita cari tau dia siapa, track recordnya gmn, emg beneran bisa berbisnis ga? Bisa masak geprek beneran ga? Dll…
Begitu juga dengan berinvestasi, dimanapun ntah dipasar modal, real business, atau apapun itu. Selama kita ga jalanin bisnisnya sendiri, maka wajib kita untuk cari tau tentang partner kita. Apalagi di pasar modal, dimana disaat kita berinvestasi, perusahaan ini udah gede sizenya. Seharusnya sangat gampang buat pelajarin track record si orang ini. Kira-kira dia pernah kena kasus hukum ga? Gimana gaya dia berbisnis? Lebih suka ekspansi atau dividend? Atau suka berbisnis dengan modal utang? Dll… ini penting, karena pada dasarnya semua Keputusan bisnis di perusahaan ini akan bergantung dengan si “key person” ini.
Gw udah banyak pelajarin key person di beberapa perusahaan, izinkan kali ini gw share terkait salah satu orang yang gw anggap kompeten dalam berbisnis, ex bos besar astra, setelah itu bikin group sendiri, groupnya makin gede dan makin banyak bisnisnya sekarang, yaitu Theodore Permadi Rachmat atau TP Rachmat dari Triputra group. Triputra Group ini punya pengaruh di beberapa emiten di bursa (gambar 1), kali ini gw akan bahas dengan study case $ASSA di part 2.
Random Tag
$RMKO $BUMI
