Part 2 Skenario realistis strategi untuk pemerintah guna mengatasi kenaikan nilai tukar Rupiah ke Rp 17.000 per USD, yang disusun berdasarkan kondisi dan kebijakan terkini. By Natalie Zafirah
Jika Strategi Diubah menjadi menurunkan nilai tukar dari level saat ini (sekitar Rp 17.000 per USD) ke Rp 6.000 per USD Seperti Yang dilakukan Presiden Habibie Tempo Dulu (Dari 16 ribuan ke 6 ribuan lebih ) adalah target yang sangat ambisius, karena memerlukan apresiasi rupiah sekitar 65%.
Pencapaian ini membutuhkan perubahan fundamental dalam ekonomi, kepercayaan investor global, dan kondisi eksternal yang mendukung. Berikut adalah strategi komprehensif yang diperlukan, dikelompokkan berdasarkan pilar kebijakan utama.
š Strategi Kebijakan Komprehensif
Pencapaian target ini memerlukan koordinasi dan komitmen yang kuat dari otoritas moneter (Bank Indonesia) dan fiskal (Pemerintah). Berikut adalah langkah-langkah kunci yang harus dijalankan secara paralel.
Pilar Kebijakan Langkah-Langkah Kunci Contoh Historis / Kebijakan Terkini
1. Kebijakan Moneter & Nilai Tukar (Bank Indonesia) ⢠Intervensi terukur di pasar spot, NDF, dan DNDF untuk mengurangi volatilitas dan spekulasi. ⢠Menjaga suku bunga yang kompetitif untuk menarik arus modal asing. ⢠Memperkuat operasi moneter pro-market dan koordinasi dengan bank sentral lain. BI telah meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar NDF dan spot untuk menjaga stabilitas.
2. Kebijakan Fiskal & Struktural (Pemerintah) ⢠Mengelola defisit APBN secara ketat dan meningkatkan penerimaan pajak. ⢠Mempercepat reformasi struktural (kemudahan berusaha, kepastian hukum, liberalisasi sektor). ⢠Mendorong investasi langsung (FDI) di sektor produktif (hilirisasi, energi terbarukan, infrastruktur). Langkah restrukturisasi perbankan dan independensi BI pada era Habibie berhasil memulihkan kepercayaan.
3. Penguatan Fundamental Ekonomi ⢠Meningkatkan cadangan devisa melalui ekspor yang kompetitif dan repatriasi hasil ekspor. ⢠Menjaga inflasi rendah dan stabil (target 2,5% ±1%). ⢠Mengurangi ketergantungan pada impor (substitusi energi, pangan, barang modal). BI menekankan pentingnya inflasi rendah dan prospek pertumbuhan yang baik untuk stabilitas nilai tukar.
4. Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan ⢠Sinergi BI-Pemerintah yang kuat dalam mengelola ekspektasi pasar. ⢠Komunikasi yang jelas dan konsisten untuk membangun kepercayaan investor. BI menyatakan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan yang terukur.
šļø Perkiraan Waktu & Skenario
Mengingat besarnya apresiasi yang ditargetkan, berikut adalah tiga skenario realistis dengan perkiraan waktu pencapaiannya.
Skenario Kondisi yang Diperlukan Perkiraan Waktu
Best-Case Koordinasi kebijakan moneter-fiskal sangat solid, reformasi struktural berjalan cepat, kondisi eksternal sangat mendukung (The Fed menurunkan suku bunga, ketegangan geopolitik mereda, harga komoditas kuat). 3ā5 tahun (2028ā2030)
Good-Case Kebijakan terkordinasi dengan baik, reformasi berjalan bertahap, kondisi eksternal netral (tidak memburuk). Rupiah menguat signifikan, tetapi belum mencapai Rp 6.000. 5ā8 tahun (2031ā2034)
Worse-Case Kebijakan tidak terkoordinasi, reformasi mandek, kondisi eksternal memburuk (resesi global, ketegangan geopolitik meningkat, suku bunga AS tetap tinggi). Rupiah justru tertekan lebih dalam. Target Rp 6.000 tidak tercapai dalam 10 tahun ke depan.
š Kesimpulan
Mencapai nilai tukar Rp 6.000/USD bukan proses jangka pendek yang dapat diselesaikan dalam hitungan hari atau bulan, melainkan perjalanan struktural jangka panjang (3-8 tahun). Kunci utamanya adalah koordinasi kebijakan yang solid, reformasi struktural berkelanjutan, dan kondisi eksternal yang mendukung. Tanpa itu, target tersebut akan sulit dicapai.
Catatan: Analisis ini didasarkan pada kondisi ekonomi global dan domestik per Januari 2026. Dinamika yang cepat dapat mengubah skenario dan timeline.
Jika Anda ingin mendalami strategi spesifik untuk salah satu pilar kebijakan di atas (misalnya, reformasi struktural atau mekanisme intervensi BI), silakan tanyakan lebih lanjut. $IHSG $USDT $USDC