Bercermin di Kolam Keruh
Kantornya Bayu tidak punya jendela menghadap ke jalan raya. “Gangguan visual,” begitu ia selalu bilang. Yang ada hanyela layar besar dengan empat kuadran: grafik, berita utama, terminal perdagangan, dan—yang paling besar—dokumen PDF laporan tahunan berbagai perusahaan. Suasana hening itu pecah oleh dering notifikasi yang bertalu-talu dari ponsel Revan.
“Bay, lihat timeline-ku. Ramai sekali,” kata Revan, yang baru saja masuk dengan wajah masam. “Seperti pasar ikan. Semua jadi nabi, semua jadi ahli.”
Bayu mengalihkan pandangannya dari laporan arus kas. Di layar kedua, ia membuka platform media sosial. Terpampanglah satu thread panjang dari seorang akun berpengikut ratusan ribu, bergaya mantan pelaku pasar yang sedang memberi wejangan.
“Baca ini,” ucap Revan. “Isinya tentang kita. Tepatnya, tentang orang-orang seperti kita yang disebutnya ‘penangkap pisau jatuh’.”
Bayu membacanya dengan tenang. Thread itu penuh dengan angka: proyeksi laba turun 27-39%, perhitungan PER jika $UNTR kehilangan separuh labanya, spekulasi tentang denda dan PHK, hingga kesimpulan bahwa harga wajar UNTR adalah seperempat dari harga sebelumnya, dan bahwa narasi emas yang selama ini mendongkrak harga telah runtuh.
“Dia pintar,” gumam Bayu akhirnya, bukan dengan nada kagum, tapi seperti dokter yang mendiagnosis gejala. “Dia menggunakan logika yang terlihat sangat rasional. Ambil angka dari sumber terpercaya, buat skenario terburuk, lalu simpulkan harga. Ini adalah seni menciptakan kepastian dari ketidakpastian. Pasar suka ini. Pasar lapar akan kepastian, meski itu palsu.”
“Tapi angkanya salah?” tanya Revan.
“Bukan salah, Rev. Tidak lengkap. Ibaratnya, dia dengan cermat mengukur berat dan warna ‘pisau’ yang jatuh—yaitu krisis Martabe. Tapi dia sama sekali tidak mengukur kekuatan, keseimbangan, dan pengalaman tangan ‘penangkap’nya, apalagi mengukur seluruh ‘pabrik senjata’ di belakangnya. Dia mengkalkulasi risiko, tetapi mengabaikan kapasitas.”
Bayu meminjam ponsel Revan, menggulir ke deretan komentar. “Lihat responsnya. ‘Terima kasih insightnya, Pak.’ ‘Semoga sehat selalu.’ Ini adalah bahasa pemujaan. Mereka tidak sedang mendiskusikan analisis; mereka sedang mencari ketenangan dari seorang ‘nabi’. Dan nabi ini memberikannya dengan harga murah: rasa takut.”
Perang Dua Filsafat: Harga vs. Kepemilikan
Revan duduk, frustasinya mulai berubah menjadi penasaran. “Jadi, bagaimana kita merespons? Mereka mendominasi narasi.”
“Kita tidak perlu merespons,” kata Bayu, kembali ke layar terminalnya. “Kita bertindak. Lihat, thread itu menyebut dua tipe orang yang panic sell. Dia lupa tipe ketiga.”
“Tipe ketiga?”
“Tipe yang tidak melakukan apa-apa karena tidak ada yang berubah. Bagi tipe ini, saham bukan harga yang berfluktuasi; ia adalah kepemilikan atas bisnis. Jika Anda pemilik warung bakmi, dan satu gerai cabang Anda ditutup sementara karena masalah izin, apakah Anda akan panik jual seluruh warung bakmi Anda dengan harga diskon 40%? Tentu tidak. Anda akan fokus mengamankan izin, memastikan gerai lain berjalan baik, dan memakai kas dari gerai yang sehat untuk melewati masa sulit. Persis seperti yang UNTR lakukan dengan cash flow dari alat berat dan batubara.”
Tiba-tiba, sebuah alert muncul di layar berita Bayu. Wajahnya sedikit tersenyum. “Dan lihat, pemilik warung bakminya sendiri ternyata sepikiran dengan kita.”
Dia memutar layarnya. Berita itu singkat: Iwan Hadiantoro, Direktur UNTR dan Komisaris Utama Agincourt, membeli 40.000 saham UNTR di harga Rp 27.250.
“Ini,” Bayu menunjuk layar, suaranya tegas, “adalah bahasa yang lebih keras dari semua thread influencer. Ini bukan analisis di awan. Ini adalah aksi dengan uang sendiri, di titik yang oleh si ‘nabi’ tadi disebut sebagai ‘menangkap pisau jatuh’. Sang direktur, yang paling tahu persis dampak operasionalnya, justru melihat ini bukan sebagai pisau, tapi sebagai koin emas yang tercecer. Dia tidak sedang average down karena panik. Dia sedang loading up karena yakin.”
Membedah Ilusi Narasi
Revan terdiam, memproses. “Jadi, narasi emas yang disebut-sebut runtuh itu…”
“… adalah ilusi pasar yang sekarang diungkit lagi untuk menakut-nakuti,” sambung Bayu. “Pasar tahun lalu membeli UNTR karena narasi emas naik. Sekarang mereka menjual karena narasi izin emas runtuh. Mereka diperbudak oleh narasi yang mereka ciptakan sendiri. Bisnis inti UNTR dari 2018, sebelum harga emas naik, apa? Alat berat, kontraktor tambang, batubara. Itu masih ada. Bahkan, itu masih menyumbang lebih dari 90% pendapatan. Apakah bisnis intinya rusak? Tidak. Apakah kekompetitifannya tiba-tiba lebih hebat? Tidak. Apakah manajemennya jadi tidak kompeten? Buktinya, mereka malah beli saham sendiri.”
Bayu kemudian membuka grafik UNTR vs ITMG (Indo Tambangraya). “Dia bilang UNTR akan kembali ‘bersanding’ dengan ITMG di level Rp 20.000-an. Ini analisis yang malas. Hanya melihat harga historis. Dia tidak bertanya: apakah struktur bisnis, moat kompetitif, dan kualitas manajemen kedua perusahaan ini sama? Membandingkan UNTR yang terintegrasi vertikal dan punya disribusi eksklusif Komatsu dengan perusahaan tambang batubara murni, itu seperti membandingkan pabrikan mobil dengan dealer besi tua.”
Ketenangan Sebagai Senjata
“Lalu apa yang kita lakukan?” tanya Revan.
“Apa yang sudah kita rencanakan kemarin. Saya sudah memasukkan order beli di harga Rp 27.300 tadi pagi. Terisi sebagian,” ujar Bayu dengan santai. “Sementara mereka sibuk berdebat di kolom komentar apakah PER 13x atau 10x yang wajar untuk sebuah perusahaan yang sedang ‘tersandung’, kita sedang memperbesar kepemilikan atas bisnis yang sebenarnya tidak tergores.”
Bayu menutup semua tab media sosial di layarnya. Keributan digital itu lenyap, kembali hanya menyisakan grafik dan laporan keuangan.
“Revan, dalam kegaduhan seperti ini, ketenangan bukanlah sifat pasif. Ia adalah senjata aktif. Influencer itu mencari kebenaran dengan meneriakkan pertanyaan ke kerumunan. Kita mencari kebenaran dengan membaca laporan, menelepon kontak di lapangan, dan mengamati tindakan insider. Dia menjual ketakutan untuk engagement. Kita, dengan membeli saham ini, sedang ‘membeli’ keyakinan bahwa pasar pada akhirnya akan melihat apa yang kita lihat: sebuah perusahaan unggul yang sedang diberi diskon karena salah satu dari puluhan anak perusahaannya mengalami masalah administratif.”
Keesokan harinya, berita tentang pembelian saham oleh direktur itu mulai menyebar. Harga UNTR mulai merangkak naik, tidak drastis, tetapi pasti. Komentar di bawah thread sang influencer mulai beragam. Mulai muncul yang bertanya, “Tapi kok direktur beli ya?”.
Revan mengirimkan pesan singkat ke Bayu: “Pisau yang jatuh itu, ternyata gagangnya terbuat dari emas.”
Bayu membalas: “Bukan. Pisau itu cuma ilusi. Yang kita tangkap adalah pabriknya.”
Mereka pun bersiap untuk pertemuan berikutnya, di mana seorang kontak di Kementerian ESDM akan memberikan konteks yang lebih jelas tentang gelombang kebijakan “Garda Hijau” ini. Perang narasi belum usai, tetapi bagi mereka yang bisa membedakan antara kebisingan dan sinyal, peluang justru semakin jelas.
$ASII $IHSG
