Ada kabar terbaru soal Pak Prabowo sepulang dari Inggris (hasil kunjungan/agenda terakhirnya di London).
Ringkasan kabarnya:
• Pak Prabowo menutup lawatan di Inggris dengan membawa komitmen investasi sekitar 4 miliar pound sterling (± Rp90 triliun), fokusnya sektor maritim.
• Salah satu poin yang ramai diberitakan: kerja sama pembangunan ±1.582 kapal nelayan, dan prosesnya disebut akan diproduksi/dirakit di Indonesia.
Sampai hari ini, belum ada nama perusahaan galangan tertentu yang diumumkan resmi sebagai pembuat 1.582 kapal nelayan itu. Yang disampaikan resmi baru levelnya: “diproduksi dan dirakit di Indonesia”.
Tapi kalau kita tebak secara realistis, kemungkinan besar akan dibagi ke beberapa galangan (tidak mungkin 1 perusahaan sanggup 1.582 kapal sendirian). Dan yang paling masuk akal:
1) Kandidat paling kuat (BUMN galangan besar)
PT PAL Indonesia (Persero)
Alasannya: kapasitas terbesar untuk proyek kapal besar, dan sering jadi eksekutor proyek strategis. (Walau belum ada konfirmasi resmi untuk proyek 1.582 ini).
2) Galangan swasta Indonesia yang berpeluang dapat “jatah produksi”
Biasanya kalau proyek massal, pemerintah akan sebar ke galangan-galangan swasta, misalnya:
• Daya Radar Utama (DRU)
• DOK & Perkapalan Kodja Bahari (Persero) (BUMN juga)
• Steadfast Marine / Batam & Karimun shipyard area
• Galangan Surabaya/Gresik (klaster Jatim)
3) Dari sisi “emiten saham” (yang berpotensi kecipratan sentimen)
Ini yang sering dibahas karena efek ke pasar:
Paling sering dikaitkan (galangan)
• SMDR / Samudera Indonesia (lebih kuat di logistik & pelayaran)
• TMAS (pelayaran/logistik)
• NELY (pelayaran)
• SOCS (pelayaran)
Tapi jujur ya: emiten-emiten di atas lebih dominan operator kapal/logistik, bukan “tukang bikin kapal”. Jadi kalau proyeknya benar-benar produksi kapal, yang paling diuntungkan justru galangan, dan banyak galangan itu belum tentu emiten.
$SMDR $TMAS $NELY