Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) milik Danantara memicu lonjakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, serta saham-saham apa saja yang patut Anda perhatikan.
Proyek waste to energy (WtE) Danantara diperkirakan akan mengumumkan pemenang lelang pada Februari 2026. Sentimen positif ini sudah mulai menggerakkan pasar, terutama karena semua 24 peserta lelang merupakan perusahaan asing, mayoritas berasal dari China, serta tiga dari Jepang dan satu dari Prancis.
Di sisi domestik, beberapa emiten memiliki keterkaitan langsung dengan proyek ini. PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) lewat anak usahanya Parivarta Energi Nusantara telah membentuk konsorsium bersama Hunan Construction Engineering Group (China) dan Kintan Usahasama (Malaysia). Sementara PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) menargetkan wilayah Bogor Raya dan Denpasar Raya dengan bergabung bersama Grandblue Environment Co. Ltd.
Selain SOFA dan OASA, ada pula PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang juga terkait dengan proyek PSEL.
Bagaimana performa saham mereka? Sejak awal tahun, saham SOFA naik 25,27% menjadi Rp466, OASA melonjak tajam 80,30% ke Rp476, dan TOBA meningkat 10,81% ke Rp830. MHKI, BIPI, dan IMPC juga menunjukkan kenaikan, meski lebih dipengaruhi sentimen proyek daripada fundamental.
Ringkasnya, berikut data utama:
SOFA: Konsorsium PSEL, YTD +25,27%, harga Rp466.
OASA: Konsorsium wilayah Bogor & Denpasar, YTD +80,30%, harga Rp476.
TOBA: Energi & infrastruktur, YTD +10,81%, harga Rp830.
MHKI: Pengelolaan sampah, YTD positif, harga Rp254.
BIPI & IMPC: Kenaikan dipicu sentimen proyek.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai bahwa kenaikan saham tersebut lebih dipengaruhi sentimen PSEL. Namun, dari sisi fundamental, MHKI menonjol karena pertumbuhan pendapatan 23,83% YoY menjadi Rp148,80miliar dan laba bersih naik 20,35% menjadi Rp27,12miliar pada kuartal III2025. Proyek pabrik baru di Lamongan diprediksi menjadi katalis positif bagi MHKI.
Sukarno menyarankan investor dengan profil risiko konservatif untuk fokus pada emiten berfundamental kuat seperti MHKI, sementara saham yang dipicu sentimen lebih cocok untuk strategi trading jangka pendek dengan manajemen risiko yang ketat.
$OASA $IMPC $TOBA