$BELL
Rangkuman Public Expose
PT Trimitra Trans Persada Tbk (BELL)
Manajemen BELL menyampaikan bahwa fokus perusahaan saat ini adalah memperkuat fundamental internal, bukan melakukan ekspansi agresif. Strategi utama diarahkan pada efisiensi biaya, peningkatan kualitas produk, serta diferensiasi, agar tetap mampu bersaing di tengah lemahnya permintaan domestik dan ketatnya produk impor, khususnya dari China.
Dari sisi belanja modal, BELL menganggarkan CAPEX sekitar Rp21 miliar, dengan sekitar 70% dialokasikan untuk peremajaan mesin produksi, sementara sisanya untuk pengembangan outlet atau gerai. Peremajaan mesin diklaim sudah berjalan sesuai target menjelang Lebaran dan ditujukan untuk menekan biaya produksi, meningkatkan efisiensi energi, menjaga konsistensi kualitas, serta mendukung pengembangan produk yang lebih inovatif. Bagi pasar, langkah ini lebih mencerminkan CAPEX defensif dan efisiensi, dengan dampak positif jangka menengah, namun belum langsung mendorong lonjakan laba dalam waktu dekat.
Manajemen juga menekankan penguatan R&D dan pembangunan Trisula Innovation Center (TIC) sebagai pusat inovasi. Fokus utama tetap pada kain dan pakaian jadi sebagai kontributor pendapatan terbesar, dengan pengembangan produk unik dan bersifat customized, bukan produk massal. Untuk pasar ekspor, BELL menargetkan mulai memproduksi kain baru pada 2026 dengan pendekatan menyesuaikan kebutuhan masing-masing negara. Strategi ini memperkuat cerita jangka panjang, namun belum disertai target volume, kontrak, atau proyeksi keuangan yang bisa menjadi katalis harga jangka pendek.
Dalam menghadapi produk impor, manajemen menyampaikan komitmen untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk China dengan menawarkan produk lokal yang lebih berkualitas dan memiliki diferensiasi, termasuk untuk kebutuhan institusi dan BUMN. BELL juga menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam memberantas impor ilegal. Narasi ini positif dari sisi sentimen dan regulasi, namun bagi pasar masih menunggu realisasi konkret dalam bentuk kontrak atau peningkatan pendapatan.
Terkait rencana pemerintah mengalokasikan Rp101 triliun untuk industri tekstil, manajemen secara terbuka menyampaikan bahwa mereka belum mengetahui skema, bentuk penyaluran, maupun dampak langsung terhadap BELL. Meski demikian, manajemen menilai program tersebut berpotensi positif jika nantinya mendukung perusahaan. Bagi pasar, hal ini masih sebatas potensi upside, belum dapat dimasukkan ke dalam valuasi.
Dari sisi kinerja, manajemen mengakui adanya penurunan laba bersih pada Q3, namun optimistis perbaikan dapat dikejar pada Q4 melalui efisiensi biaya, penjagaan margin, dan peningkatan produktivitas. Selain itu, perusahaan juga berencana memanfaatkan AI dalam perencanaan produksi untuk menekan inefisiensi dan menyesuaikan kapasitas dengan permintaan, meski perannya lebih sebagai pendukung operasional, bukan pengubah permainan.
Menanggapi lonjakan harga saham, manajemen menyampaikan apresiasi atas kepercayaan investor, namun tidak mengaitkan kenaikan harga dengan aksi korporasi atau katalis fundamental tertentu, serta menegaskan fokus tetap pada penguatan fundamental, margin, dan digitalisasi. Pernyataan ini bersifat aman dan standar, tanpa konfirmasi katalis baru.
Dampak ke Pasar
Secara keseluruhan, fundamental BELL menunjukkan perbaikan bertahap namun belum kuat, dengan narasi perusahaan yang rapi, nasionalis, dan sejalan dengan arah kebijakan pemerintah, tetapi minim katalis konkret. Pergerakan saham saat ini lebih berpotensi dipengaruhi oleh sentimen dan momentum pasar dibandingkan dorongan fundamental yang agresif.
Kesimpulan
Sentimen pasar: netral cenderung hati-hati.
BELL bukan berada dalam fase ekspansi besar atau lonjakan kinerja, namun juga tidak menunjukkan masalah serius. Saham ini lebih cocok untuk momentum play jangka pendek, sementara untuk jangka panjang masih memerlukan bukti realisasi kinerja dan katalis yang lebih jelas.