$IHSG – Ketika Kerja Keras Belajar Berhenti

Pada dasarnya, ini bukan kisah tentang orang yang menolak kerja keras. Saya sudah terlalu lama hidup di dunia active income untuk berpura-pura suci dari keringat. Saya pernah mengejar target, menunggu tanggal gajian, dan merasa berguna hanya karena kalender dipenuhi oleh agenda terjadwal, hingga terkadang saya sendiri merasa mati rasa. Sebuah fase hidup yang dulu saya bela mati-matian, bahkan ketika diam-diam mulai terasa seperti menjadi “budak corporate” yang bangga pada kelelahan sendiri.

Keputusan untuk melepaskan diri dari active income bukan spontan. Saya telah merencanakannya sejak mulai menanam modal di saham sebagai langkah awal membangun passive income, tujuh tahun sebelum akhirnya benar-benar pensiun dini. Saat itu saya masih produktif, tubuh masih sanggup dan gaji masih tinggi, tetapi hati dan pikiran sudah lelah menimbang harga diri, risiko moral, dan tuntutan dunia kerja yang tak pernah mengenal kata cukup. Tubuh terasa melambat bukan sekadar karena kelelahan fisik, namun karena mulai mampu menilai mana beban yang benar-benar penting untuk dipikul dan mana yang hanya kesibukan kosong. Semangat tidak hilang, tetapi harga diri menolak tunduk pada tuntutan yang merendahkan.

Suatu pagi, ketika tubuh menolak lagi dipaksa mengejar target, muncul sebuah kesadaran sederhana: jika tubuh dan pikiran mulai enggan menumpahkan keringat untuk pekerjaan rutin, biarlah energi itu bekerja dengan cara berbeda melalui penghasilan yang pasif.

Yang muncul setelah itu bukan euforia, tapi ketenangan yang tak perlu dibela. Ada fase hidup di mana seseorang hanya ingin menjalani hari tanpa terus-menerus menawar dirinya sendiri. Perasaan itu terasa seperti lega yang paling mendasar, hak untuk sekadar ada tanpa harus selalu menjadi sesuatu, yang barangkali dirindukan oleh siapa pun yang pernah merasa lelah.

Keputusan itu tidak datang tanpa rasa gentar. Ketakutan membuat tubuh dan pikiran saya membeku sejenak saat pertama kali keluar dari pola hidup rutin yang selama ini dijalani. Dunia terasa bising, seolah meneriaki saya sebagai pecundang yang menyerah, seseorang yang melepas kendali sebelum waktunya. Ada malam-malam ketika keputusan itu terasa seperti kesalahan yang tak bisa ditarik kembali. Ancaman itu bukan soal lapar, tapi soal harga diri.

Saya ingat membuka ponsel berulang kali, bukan untuk mencari peluang, hanya untuk memastikan tidak ada pesan yang mempertanyakan mengapa saya menepi dari dunia pekerjaan yang selama ini membuat saya merasa berhasil. Yang saya takutkan bukan kekurangan uang, melainkan kemungkinan dianggap tidak lagi berguna. Pada saat-saat itu, sunyi belum terasa sebagai sesuatu yang berharga. Sunyi justru tampak seperti kemewahan yang belum sepenuhnya pantas. Namun dari kesenyapan itulah, secara perlahan, muncul pemahaman bahwa melepaskan kendali tidak selalu berarti kehilangan arah. Kadang langkah itu justru menjadi awal untuk menemukan ritme hidup yang lebih jujur.

Dari sanalah hidup berubah arah.

Pasar modal menjadi sekolah kedua saya, sekolah tanpa kurikulum moral, tanpa motivator, tanpa janji. Saham memberi pelajaran yang getir: kepemilikan tidak selalu berarti kendali. Kita ikut memiliki, tapi tidak berhak memerintah. Harga naik turun seperti iman; kadang kokoh tanpa alasan, kadang rapuh tanpa peringatan. Dividen datang seperti tamu yang sopan tapi tidak bisa diatur. Kadang besar, kadang kecil, kadang absen. Tidak ada kepastian dan tidak ada janji. Justru di situ letak kejujurannya. Dividen adalah hasil partisipasi, bukan upah waktu.

Capital gain berbeda. Laba yang muncul dari pergerakan harga ini berasal dari keberuntungan momentum dan kesediaan menanggung fluktuasi pasar. Mekanisme saham membagi risiko, tidak memindahkannya ke pihak lain. Pasar memaksa setiap pemilik belajar menerima untung dan rugi dengan dewasa, termasuk menentukan kapan harus cut loss dan melepaskan posisi yang merugi untuk menjaga modal dan kewarasan.

Namun hidup tidak bisa ditopang oleh ketegangan pikiran terus-menerus. Keyakinan pun memerlukan ruang untuk bernapas. Di situlah deposito masuk ke panggung. Saya memilih instrumen ini karena saat itu belum menemukan alternatif lain yang lebih sesuai untuk masuk. Banyak orang menyepelekan instrumen ini, bahkan mencurigainya. Tapi bagi saya, justru deposito yang menyelamatkan kewarasan. Perannya mirip pergantian gigi transmisi dalam perjalanan panjang, bukan untuk melaju lebih kencang, tetapi agar mesin tidak rusak sebelum tiba.

Bunga deposito bukan teriakan kemenangan. Tambahan ini tidak membuat dada membusung. Angkanya kecil, rutin, dan membosankan. Justru karena sifat itulah instrumen ini berguna. Deposito berfungsi sebagai jangkar psikologis, penanda bahwa hidup tidak selalu harus dipertaruhkan setiap hari. Tidak ada yang tercekik di sana. Tidak ada paksaan. Penabung berada di posisi bebas, kuat, dan penuh pilihan. Tambahan yang diterima bukan hasil pemerasan, melainkan kompensasi atas waktu dan erosi nilai uang.

Jika riba dimaknai sebagai struktur yang mencekik leher pihak lemah, maka secara intelektual sulit menyamakan bunga deposito dengan dosa struktural. Tidak ada jeritan. Tidak ada spiral utang. Yang hadir justru stabilitas yang tenang dan datar, sesuatu yang kerap dicurigai karena tidak dramatis dan tidak menawarkan sensasi moral.

Lalu ada obligasi, instrumen yang paling tidak seksi tapi paling dewasa. Kupon obligasi adalah kesepakatan rasional antara warga dan negara: menunda konsumsi hari ini, negara berjanji membayar kembali dengan tambahan yang wajar. Tidak ada ilusi pertumbuhan tanpa batas. Tidak ada spekulasi. Hanya kontrak yang berdiri di atas kepercayaan terbatas. Kepercayaan itu sendiri tidak sepenuhnya rasional, karena ada sejarah yang tidak selalu bersih dan kemungkinan untuk dikhianati selalu ada. Namun di usia tertentu, memilih percaya bukan karena sistemnya suci. Pilihan itu muncul karena hidup terlalu singkat untuk terus-terusan was-was.

Obligasi mengajarkan satu hal penting: tidak semua penghasilan harus lahir dari ketidakpastian. Ada fase hidup di mana kepastian terbatas terasa lebih bijaksana daripada mengejar imbal hasil tinggi dengan jantung berdebar. Kupon obligasi memang tidak membuat kaya mendadak, namun tidur nyenyak yang menyertainya adalah nilai yang kerap diremehkan oleh mereka yang masih muda dan penuh adrenalin.

Saya ingat satu pagi yang sangat biasa. Duduk di meja makan, seberkas matahari memotong tepat di atas layar ponsel. Debu-debu berputar pelan di udara. Kopi sudah mendingin. Mutasi rekening terbuka tanpa harap apa-apa. Angkanya tidak besar, tidak dramatis. Jari tidak gemetar. Napas tetap rata. Pagi itu tidak diisi kecemasan. Tidak ada dorongan untuk segera mencari sesuatu. Yang muncul justru kesadaran utuh bahwa hari ini bisa dijalani apa adanya. Di momen kecil semacam itulah saya memahami bahwa ketenangan ternyata bisa sangat konkret.

Selama masa pensiun ini, banyak godaan untuk terlibat dalam kerja sama bisnis. Ada yang saya tolak, ada yang diterima tetapi berakhir pahit. Uang saya tertipu oleh teman, meskipun kerugiannya hanya sekitar 1,5 persen dari total aset portofolio. Setelah pengalaman itu, kapok muncul. Tidak ada lagi niat memulai bisnis baru. Fokus sepenuhnya ada pada investasi dan trading saham, instrumen yang sudah dikuasai, risiko dipahami, dan memberi kendali lebih jelas atas kehidupan finansial.

Menariknya, instrumen-instrumen yang menopang passive income paling stabil sering dicurigai secara moral. Seolah-olah hidup yang tertata adalah bentuk kelalaian spiritual. Padahal Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan manusia hidup dalam kecemasan permanen. “Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash: 77). Kalimat ini terdengar sederhana, sampai sadar betapa seringnya pesan tersebut dikalahkan oleh kesalehan yang gemar dipamerkan.

Saham, deposito, dan obligasi, bila dilihat bersama, bukan sekadar portofolio. Ketiganya membentuk narasi hidup. Saham melatih keberanian dan kesabaran. Deposito menjaga kewarasan. Obligasi mengajarkan kepercayaan pada sistem, meski tanpa kepolosan. Semua itu membentuk evolusi yang pelan: dari mengorbankan tubuh, lalu mengelola risiko, hingga akhirnya belajar mempercayai waktu.

Di fase hidup ini, passive income bukan lagi soal maksimalisasi. Fokusnya bergeser menjadi soal cukup. Cukup untuk hidup tanpa mengganggu orang lain. Cukup untuk menolak pekerjaan yang merendahkan martabat hanya demi menyambung hidup. Cukup untuk berkata tidak tanpa perlu menghitung sisa saldo di kepala. Lebih dari itu, cukup untuk duduk mendengarkan cerita anak dan istri, tanpa mata terus melirik jam dan pikiran sibuk menghitung target. Di titik ini, uang bukan lagi alat tukar barang, melainkan sudah menjadi alat tukar kedaulatan: kedaulatan untuk kembali hadir sepenuhnya bagi manusia lain.

Ada ironi yang sering luput: mereka yang paling lantang mengutuk bunga dan kupon justru kerap hidup dari biaya yang tak pasti, fee musiman, proyek yang bergantung mood pasar, atau janji-janji yang menggantung. Kegaduhan dirayakan, sementara stabilitas dituduh sebagai dosa yang tak tertulis. Pada saat yang sama, pensiunan yang hidup dari dividen, capital gain, bunga deposito, dan obligasi sering dicurigai terlalu nyaman, seolah kenyamanan itu sendiri merupakan kesalahan moral.

Padahal Nabi mengingatkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas keluarganya. Tanggung jawab semacam ini tidak romantis. Sifatnya praktis. Intinya tentang kestabilan, bukan heroisme.

Di titik itu saya tersadar: passive income hanyalah jejak keringat masa lalu yang belajar bekerja menggantikan tubuh. Kerja keras tidak dikhianati; kerja keras hanya akhirnya diberi izin untuk berhenti.

Pilihan ini menutup bab hidup yang panjang. Saat dividen, capital gain, bunga, dan kupon datang tanpa suara, yang hadir bukan angka, melainkan izin untuk menarik napas, benar-benar hadir, dan berhenti berlari.

$BMRI $BBRI

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy