Mencari Saham MSCI
Diskusi hari ini di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Penentuan saham yang bisa masuk MSCI itu kelihatan seperti misteri karena hasil akhirnya cuma terlihat sebagai daftar nama, sementara prosesnya terjadi di balik layar, pakai angka yang kebanyakan investor tidak pernah hitung. Yang bikin tambah menyebalkan, saham bisa ramai di grup, bisa trending, bisa naik gila-gilaan, tapi tetap saja tidak dilirik karena yang dicari MSCI bukan cerita, melainkan bisa tidak sebuah dana besar keluar-masuk tanpa merusak harga. Banyak investor mengira cukup jadi emiten besar, padahal besar saja itu cuma syarat perlu, bukan syarat cukup. Ada juga saham yang kapitalisasi pasar-nya besar, tapi di pasar nyaris tidak ada barang yang benar-benar bisa dibeli, akhirnya indeks menganggapnya seperti etalase, bagus dilihat, susah dipakai. Di sisi lain, ada saham yang kelihatannya tidak sepopuler bluechip tertentu, tapi transaksi dan free float-nya sehat, justru lebih masuk akal bagi indeks. Jadi misterinya bukan karena MSCI pakai ilmu gaib, tapi karena kebanyakan investor tidak mau mengotori tangan dengan metrik yang membunuh narasi. Kalau investor mau jujur, MSCI itu mesin penyaring yang kejam, dan ia tidak peduli opini, hanya peduli kelayakan diperdagangkan dan ukuran yang relevan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau mau bikin sistem skrining yang bisa mendeteksi saham berpotensi masuk, keluar, atau bertahan, kuncinya cuma tiga poros besar. Likuiditas, ukuran, dan faktor inklusi. Likuiditas paling inti biasanya berkumpul di Annualized Traded Value Ratio (ATVR) yang dibangun dari Monthly Traded Value Ratio (MTVR). Ukuran bertumpu pada market cap, tapi bukan market cap versi brosur, melainkan market cap yang sudah disesuaikan dengan free float lewat Foreign Inclusion Factor (FIF) atau Domestic Inclusion Factor (DIF). Lalu faktor inklusi adalah pengali terakhir yang menentukan seberapa nyata saham itu bisa dimiliki investor besar, bukan sekadar tercatat di papan. Begitu tiga poros ini dipasang, misterinya langsung berubah jadi pekerjaan statistik rutin yang melelahkan, tapi justru itu yang membuatnya bisa diprediksi.
Bagian yang sering bikin investor salah langkah adalah cara MSCI mengukur likuiditas, karena ia tidak suka lonjakan volume sehari-dua hari yang sifatnya kosmetik. Yang dipakai adalah median nilai transaksi bulanan, supaya spike ekstrem tidak menipu. Dari situ dihitung MTVR, secara konsep itu nilai transaksi bulanan dibagi free-float adjusted market cap. Setelah itu, ATVR dibentuk dari akumulasi MTVR 12 bulan, sehingga syarat minimalnya bukan cuma harus likuid hari ini, tetapi harus konsisten satu tahun penuh. Ini sebabnya banyak saham IPO atau saham yang baru saja digoreng volumenya sering gagal, bukan karena jelek, tapi karena datanya belum cukup atau pola likuiditasnya tidak stabil. Dalam praktik skrining, investor perlu menyimpan data 12 titik bulanan, bukan sekadar moving average harian, karena sumber masalah paling umum adalah investor menilai likuiditas dari beberapa minggu terakhir lalu menyimpulkan terlalu cepat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Poros kedua adalah ukuran yang benar-benar dipakai indeks. Full market cap itu sekadar jumlah saham beredar dikali harga, tapi MSCI lebih peduli ukuran yang bisa diinvestasikan, yaitu full market cap yang dikali faktor inklusi seperti FIF. Jadi emiten bisa tampak raksasa, tapi kalau free float rendah, ukuran investable-nya mengecil drastis. Ini juga menjelaskan kenapa sebagian saham yang terlihat sangat besar tetap sulit masuk, karena indeks tidak mau menanggung risiko exit yang macet ketika dana global harus rebalancing. Investor yang membangun screener wajib memisahkan dua ranking, ranking full market cap untuk lihat skala perusahaan, lalu ranking free-float adjusted market cap untuk lihat skala yang benar-benar bisa disentuh dana besar.
Biar terasa konkret, gunakan angka yang sudah ada. Dengan kurs Rp16.900 per $1, market cap IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sekitar $965 miliar atau kira-kira Rp16.308 triliun, dan rata-rata transaksi harian sekitar Rp31,502 triliun. Itu baseline ekosistem, artinya secara agregat pasar Indonesia cukup dalam, tapi kedalaman itu tidak merata, karena likuiditas menumpuk di sebagian kecil saham. Di sinilah MSCI bekerja seperti filter gravitasi, ia menarik saham yang likuid dan investable, lalu membiarkan sisanya jadi cerita komunitas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Contoh saham yang statusnya hampir pasti bertahan adalah $BMRI. Dengan harga Rp4.990 dan jumlah saham 93,33 miliar lembar, full market cap-nya sekitar Rp465,7 triliun atau $27,55 miliar. Setelah dikali free float 37,47% (FIF 0,3747), free-float adjusted market cap-nya kira-kira $10,32 miliar, ini sudah kelas berat untuk radar indeks. Dari sisi likuiditas, nilai transaksi harian rata-rata Rp814,56 miliar, kalau diasumsikan 20 hari bursa per bulan, nilai transaksi bulanan sekitar Rp16,29 triliun. Dibandingkan free-float adjusted market cap dalam rupiah sekitar Rp174,48 triliun, MTVR-nya sekitar 9,34%, lalu ATVR 12 bulan menjadi sekitar 112,08%. Dengan profil seperti ini, BMRI itu bukan cuma layak, tapi terlalu layak, sehingga perubahan status biasanya baru terjadi kalau ada guncangan besar seperti penurunan ukuran yang ekstrem, kekeringan volume berkepanjangan, atau corporate action yang membuat saham tidak eligible.
Sekarang lihat kebalikan yang menyakitkan buat banyak investor, saham yang besar tapi sepi, contohnya $MORA. Full market cap sekitar Rp327,506 triliun atau $19,38 miliar, lalu free-float adjusted market cap sekitar $6,56 miliar dengan free float 33,83%. Secara ukuran, ini tampak lebih dari cukup. Tapi nilai transaksi harian cuma sekitar Rp6,31 miliar, sehingga nilai bulanan kira-kira Rp126,2 miliar. Dibagi free-float adjusted market cap dalam rupiah sekitar Rp110,795 triliun, MTVR-nya hanya sekitar 0,114%, lalu ATVR setahun cuma sekitar 1,37%. Ini titik di mana investor harus berhenti menghibur diri. Saham seperti ini mungkin bagus untuk narasi jangka panjang atau untuk pemegang yang tidak peduli likuiditas, tapi untuk MSCI, ini risiko exit yang tidak bisa ditoleransi. Investor yang mau memprediksi pergerakan MSCI harus berani mengatakan ini keras kepala secara data, ukuran besar tidak menyelamatkan likuiditas yang kering. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Contoh kandidat masuk biasanya saham yang menang di dua sisi sekaligus, ukuran investable cukup dan ATVR jauh di atas batas praktis. $PTRO misalnya. Full market cap sekitar Rp124,86 triliun atau $7,39 miliar, dengan free float 29,17% menghasilkan free-float adjusted market cap sekitar $2,15 miliar. Nilai transaksi harian Rp360,18 miliar, bulanan sekitar Rp7,20 triliun. Dibagi free-float adjusted market cap rupiah sekitar Rp36,42 triliun, MTVR sekitar 19,76%, sehingga ATVR sekitar 237,12%. Ini bukan sekadar lolos, ini profil yang biasanya membuat saham terlihat seperti mesin likuiditas. IMPC juga menarik karena kombinasi ukuran dan likuiditasnya masuk akal. Full market cap sekitar Rp194,9 triliun atau $11,53 miliar, free-float adjusted market cap sekitar $2,87 miliar dengan free float 24,89%. Nilai transaksi harian Rp77,33 miliar, bulanan sekitar Rp1,54 triliun, MTVR sekitar 3,17%, ATVR sekitar 38,04%. Tidak sebrutal PTRO, tapi masih terlihat memenuhi logika kelayakan.
Sementara itu, contoh yang sering bikin investor salah kaprah adalah RISE. Ukurannya sebenarnya lumayan, full market cap sekitar Rp110,16 triliun atau $6,52 miliar, free-float adjusted market cap sekitar $1,13 miliar dengan free float 17,32%. Tetapi nilai transaksi harian cuma Rp5,25 miliar, bulanan sekitar Rp105 miliar, MTVR sekitar 0,55%, ATVR sekitar 6,6%. Jadi kalau investor bertanya kenapa saham yang terlihat besar tidak kunjung masuk radar, jawabannya sederhana, free float rendah membuat investable size mengecil, lalu transaksi harian tidak mengejar, akhirnya ATVR gagal. Untuk tembus, bukan butuh satu-dua minggu ramai, tapi butuh eskalasi nilai transaksi yang bertahan lama, secara kasar 2,5 sampai 3 kali dari kondisi sekarang kalau ukuran investable tidak berubah. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Setelah likuiditas dan ukuran, poros ketiga adalah pemicu perubahan status yang sering datang dari corporate action dan eligibility. Aksi seperti rights issue, buyback, spin-off, perubahan batas kepemilikan asing, atau perubahan klasifikasi sektor dapat mengubah faktor inklusi, mengubah jumlah saham yang dianggap investable, atau membuat entitas hasil pemisahan langsung dijual keluar indeks pada ex-date jika dianggap tidak eligible. Sistem skrining yang serius wajib punya modul event, karena kadang saham tidak keluar karena metriknya turun perlahan, tapi karena aturan eligibility berubah dalam satu hari. Di sisi teknis perhitungan indeks, hal-hal seperti Price Adjustment Factor (PAF) dan perlakuan dividen spesial juga bisa mengganggu pembacaan data kalau investor tidak memisahkan mana perubahan ekonomi, mana perubahan mekanik perhitungan.
Kalau investor mau menyusun workflow yang benar-benar bisa dipakai, bayangkan pipeline yang berjalan tiap bulan. Pertama, tentukan universe saham dan kumpulkan data jumlah saham, harga penutupan, free float untuk menghitung FIF, lalu hitung free-float adjusted market cap. Kedua, kumpulkan nilai transaksi bulanan berbasis median harian per bulan, lalu hitung MTVR tiap bulan dan akumulasi 12 bulan menjadi ATVR. Ketiga, buat peta status. Kandidat bertahan adalah yang ukuran investable-nya aman dan ATVR-nya konsisten tinggi. Kandidat masuk adalah yang baru melewati ambang likuiditas secara konsisten dan ukuran investable-nya sudah menembus batas segmen. Kandidat keluar adalah yang ATVR-nya turun terus atau terkena event eligibility. Kalau investor melakukan ini disiplin, prediksi MSCI berhenti jadi misteri, dan berubah jadi permainan probabilitas yang bisa diperdebatkan dengan angka, bukan dengan feeling. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/4



