Saham Turun Terus, Tapi Bisnisnya Bagus : Jual atau Justru Nambah?
Banyak investor pemula panik saat lihat saham yang dia pegang turun terus, padahal kalau dicek lebih dalam, bisnis perusahaannya masih sehat. Revenue masih tumbuh, laba stabil, arus kas positif, neraca keuangan nggak bermasalah, dan dividend yield masih besar. Tapi karena harga saham turun, logika langsung kebalik: “Ini saham jelek ya?” Padahal harga dan bisnis itu dua hal yang beda.
Market sering bereaksi berlebihan terhadap sentimen jangka pendek. Bisa karena isu makro, suku bunga, atau sekadar rotasi dana ke sektor lain. Di kondisi seperti ini, yang harus dicek bukan chart harian, tapi laporan keuangan: apakah laba masih konsisten, apakah utang terkendali, apakah dividennya menarik dan apakah perusahaan masih punya economic moat yang kuat.
Kalau fundamentalnya masih kuat, valuasi makin murah, dan dividennya besar, justru ini area menarik buat investor jangka panjang. Banyak saham bagus dalam sejarah pasar yang performa terbaiknya dimulai setelah fase “ditinggal market”. Masalahnya, cuma sedikit orang yang cukup sabar buat nunggu.
Di sinilah prinsip be greedy when others are fearful diuji. Bukan berarti asal nambah saham yang turun, tapi berani nambah saat data bilang bisnisnya masih oke. Harga bisa bohong dalam jangka pendek, tapi kinerja bisnis jarang bohong dalam jangka panjang.
Prinsip ini memang klise, tapi banyak investor tidak mampu menerapkannya karena emosinya terpengaruh kondisi Mr. Market.
$BBCA $BBRI $BMRI