Dollar Meroket Adalah Berkah Buat Saham yang Doyan Ekspor
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Ada investor yang sengaja cari saham nyangkut yang punya napas ekspor, karena ketika USD meroket, peluang cuan bisa datang dari dua arah sekaligus. Banyak orang mengira semua emiten yang terdengar global otomatis aman saat rupiah melemah. Padahal yang paling menentukan itu struktur pendapatan, struktur biaya, dan posisi moneter valas. Ekspor yang benar-benar hidup di laporan biasanya terasa seperti tameng alami. Impor yang dominan justru bisa berubah jadi beban yang diam-diam menggerus margin. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Cara baca yang paling aman adalah memisahkan dua sumber dampak USD. Pertama, dampak operasional, yaitu penjualan ekspor yang dibayar valas atau yang bergerak searah USD. Kedua, dampak akuntansi, yaitu laba-rugi selisih kurs dari aset moneter neto valas. Keduanya bisa sama-sama positif, tapi bobotnya bisa sangat beda antar emiten. Karena itu, angka posisi valas yang besar tidak otomatis berarti bisnisnya pro-USD.
$FWCT kelihatan paling jelas membawa cerita ekspor sebagai mesin bisnis inti. Sampai September 2025, ada beban penjualan ekspor Rp35,5 miliar, lalu ada pelanggan utama Far East American Inc dan Concannon Lumber Co dengan nilai transaksi Rp457,7 miliar. Dengan pendapatan FWCT Rp1,14 triliun, transaksi ke dua pelanggan itu setara kira-kira 40,1% dari pendapatan, jadi ekspor FWCT besar sekaligus terkonsentrasi. FWCT juga punya fasilitas Kredit Pembiayaan Modal Kerja Ekspor dari Eximbank, jadi ekspornya bukan sekadar klaim, tetapi memang ada infrastruktur pembiayaannya.
Konsekuensi dari konsentrasi itu dua sisi. Di satu sisi, kalau order dari pelanggan utama stabil, utilisasi produksi dan arus kas bisa jauh lebih terjaga dibanding emiten yang ekspornya hanya sisipan. Di sisi lain, ketergantungan pada sedikit nama membuat risiko permintaan menjadi lebih tajam. Saat ada gangguan order atau renegosiasi harga, efeknya bisa langsung merembet ke volume dan margin. Jadi, FWCT menarik bukan karena ekspornya ada, tetapi karena ekspornya dominan dan terukur.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
$GOOD juga punya ekspor yang nyata, penjualan ekspor Rp283,6 miliar sampai September 2025. Bedanya dengan FWCT, GOOD lebih mengandalkan distributor pihak ketiga untuk pasar luar negeri, dengan perjanjian distribusi berdurasi 8 bulan sampai 2 tahun. Model ini biasanya membuat ekspansi pasar terasa lebih ringan dari sisi capex dan operasional. Namun ada titik rawan yang perlu disadari investor, yaitu perjanjian seperti ini bisa diakhiri oleh salah satu pihak dengan pemberitahuan tertentu, sehingga kesinambungan kanal perlu dijaga terus-menerus.
$CPIN punya penjualan luar negeri Rp196 miliar untuk 9M 2025, tetapi dibanding penjualan neto konsolidasian Rp50,6 triliun, porsinya hanya sekitar 0,39%. Artinya, kalau ada investor yang menjadikan CPIN sebagai pegangan ekspor ketika USD melonjak, pijakan utamanya bukan dari porsi ekspor. Pijakan CPIN lebih banyak ada pada skala domestik, kemampuan menjaga margin, dan kemampuan meneruskan perubahan biaya ke harga jual. Di CPIN, cerita besarnya lebih dekat ke manajemen komoditas dan risiko operasional, bukan ke cerita ekspor.
ACES paling berbeda karena inti bisnisnya ritel domestik, bukan penjualan ekspor yang material. ACES punya ketergantungan impor yang tinggi, 87,03% dari total pembelian adalah barang impor. Jadi ketika USD menguat, tekanan pertama yang muncul sering kali ada di harga pokok barang dagangan. Jika penyesuaian harga jual tidak mulus, margin bisa tertekan meskipun secara akuntansi ada komponen valas yang terlihat positif. Ini yang membuat ACES terlihat seperti punya exposure valas, tetapi secara bisnis bisa merasakan sisi yang berlawanan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi laba-rugi kurs dan posisi moneter neto valas, semua emiten ini sebenarnya berada di sisi yang secara teori diuntungkan USD karena aset moneter neto valasnya positif. FWCT mencatat laba kurs Rp4,69 miliar, dengan posisi moneter neto valas positif Rp96,8 miliar, dan kenaikan 1% kurs USD meningkatkan laba sebelum pajak Rp5,8 miliar. CPIN mencatat laba kurs Rp47,6 miliar, posisi moneter neto valas positif Rp491 miliar, dan kenaikan 1% kurs USD berdampak Rp5,2 miliar pada laba sebelum pajak. GOOD punya posisi moneter neto valas positif Rp170,7 miliar, dan penguatan 1% USD meningkatkan laba setelah pajak Rp1,33 miliar.
ACES mencatat rugi kurs Rp10,1 miliar meskipun posisi moneter neto valasnya positif Rp282,4 miliar, dan kenaikan 1% kurs USD berdampak Rp2,8 miliar pada laba sebelum pajak. Ini contoh bagus bahwa arah dampak tidak berhenti di angka moneter neto saja, karena realisasi kurs, struktur transaksi, dan timing bisa membuat hasil periode berjalan terlihat berbeda. Dan yang lebih penting untuk investor, ACES tetap membawa risiko operasional dari sisi impor 87,03% yang bisa menekan margin ketika USD naik. Jadi, gain kurs yang terlihat bisa saja tidak cukup untuk menutup kenaikan biaya barang.
Kalau dibanding dari sisi risiko yang paling menentukan hasil akhir, FWCT dan GOOD lebih dekat ke pola natural hedge karena ada penjualan ekspor yang bisa membantu menyeimbangkan tekanan biaya terkait USD. CPIN lebih ditentukan oleh risiko bisnis dan komoditas, termasuk ketidakpastian faktor alam seperti penyakit ayam, serta fluktuasi jagung dan bungkil kedelai, dengan mitigasi utama lewat penyesuaian harga. ACES membawa risiko pasokan dan harga impor yang membuat USD kuat berpotensi menjadi tekanan, terutama bila daya beli dan kompetisi ritel membatasi ruang kenaikan harga. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Jadi untuk investor yang sengaja mencari saham nyangkut yang pro-USD, yang paling nyaman biasanya bukan yang sekadar punya aset moneter neto valas positif, melainkan yang punya arus pendapatan ekspor yang cukup nyata untuk menjaga margin tetap hidup saat USD naik.
๐ Saham ekspor dan sensitivitas USD
๐ฒ FWCT ekspor kayu lapis dan veneer dominan
โโ๐ฆ Transaksi pelanggan luar negeri Rp457,7 miliar
โโ๐ต Beban penjualan ekspor Rp35,5 miliar
โโ๐ฆ Kredit modal kerja ekspor Eximbank
โโ๐ Posisi moneter valas positif Rp96,8 miliar
โโ๐ USD naik 1% laba sebelum pajak naik Rp5,8 miliar Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
๐ CPIN bisnis domestik skala besar
โโ๐ข Penjualan luar negeri Rp196 miliar
โโ๐ Porsi ekspor sekitar 0,39% dari revenue
โโ๐ฐ Posisi moneter valas positif Rp491 miliar
โโ๐ USD naik 1% laba sebelum pajak naik Rp5,2 miliar
โโ๐ฝ Risiko utama jagung bungkil kedelai dan penyakit ayam
๐ช GOOD ekspor lewat distributor
โโ๐ Penjualan ekspor Rp283,6 miliar
โโ๐ค Kontrak distribusi 8 bulan sampai 2 tahun
โโ๐ต Posisi moneter valas positif Rp170,7 miliar
โโ๐ USD naik 1% laba setelah pajak naik Rp1,33 miliar
๐ฌ ACES ritel domestik impor berat
โโ๐ฆ Impor 87,03% dari total pembelian
โโ๐ผ Posisi moneter valas positif Rp282,4 miliar
โโ๐ Rugi kurs Rp10,1 miliar
โโโ ๏ธ USD naik tekan margin karena biaya barang Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
โโโ
Pro USD operasional FWCT
โโโ๏ธ Seimbang ringan GOOD
โโ๐ญ Domestik kuat CPIN
โโ๐จ Rentan USD kuat ACES
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/10









