imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Jika Memang Terpaksa Harus Nyangkut Saham

Lanjutan dari diskusi nyangkut di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Kalau investor mau nyangkut di $CPIN, $FWCT, GOOD, dan $ACES, riset yang benar itu adalah hal yang wajib, bukan untuk gaya-gayaan, riset itu adalah alat keselamatan. Banyak orang di Stockbit beli saham seperti beli tren, ikut-ikutan karena ada influencer yang teriak gas all in, lalu baru panik saat laporan keuangan bicara hal yang tidak mereka pahami dan harga anjlok. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Yang bikin bahaya investor adalah sumber nyangkut paling menyakitkan bukan cuma karena harga turun, tetapi juga karena salah paham terhadap tata kelola, pihak berelasi, dan risiko hukum yang diam-diam bisa menyedot laba dan kas. Investor yang tidak punya alasan beli dan rencana jual biasanya akan menyerah di momen terburuk, karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik angka. Sebaliknya, kalau nyangkut atas kesadaran sendiri, nyangkut lama pun masih bisa ikhlas, karena investor paham pemicunya dan paham apa yang harus dipantau.

Kalau dibandingkan dari ekosistem pengendali, empat emiten ini sama-sama hidup di bawah payung grup yang protektif, hanya bentuk proteksinya berbeda dan dampaknya ke investor juga beda. CPIN dikendalikan keluarga Jiaravanon lewat struktur grup dengan PSP 55,53%, dan integrasi hulu-hilirnya lengkap dari pembibitan, pakan, sampai olahan, plus ada lisensi intelektual dari entitas pengendali global yang dibayar lewat royalti.
FWCT lebih terpusat ke figur pengendali, PSP 58,08% lewat PT Fortuna Anugrah Sumber Terpadu dengan Aris Sunarko sebagai ultimate shareholder, dan rantai hulunya tergantung pemasok veneer WTPI, lalu hilirnya mulai melebar ke pelayaran lewat anak usaha baru.
GOOD terlihat punya jangkar global yang unik, Hormel 30,17% dan PSP PT Tudung Putra Putri Jaya 10,04%, lalu hilirnya ditarik kuat oleh SNS sebagai distribusi dan MBR untuk pengolahan, ditambah GBS yang sudah terintegrasi penuh pasca akuisisi.
ACES dikendalikan PT Kawan Lama Sejahtera 60% dengan induk terakhir PT Kawan Lama Internusa, dan modelnya sangat ekosistem, lahan, vendor, sampai e-commerce banyak bersinggungan dengan entitas grup. Persamaannya jelas, investor tidak sedang menilai perusahaan yang berdiri sendiri, investor sedang menilai perusahaan yang bergerak di dalam jaringan kepentingan grup, sehingga kualitas tata kelola terasa dari seberapa wajar arus nilai antara emiten dan entitas grupnya. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Bagian yang paling sering membuat investor menyesal adalah saat transaksi pihak berelasi berubah dari sekadar operasional menjadi mekanisme penyedotan margin. Dilihat dari besarnya transaksi yang langsung menekan laba, CPIN punya beban royalti ke Nugen Bioscience Rp511,05 miliar yang setara 33,18% dari beban umum, ini seperti biaya tetap yang tetap hidup saat siklus ayam sedang tidak ramah, dan secara kasar disebut bisa menggerus sekitar 15% dari laba periode berjalan. CPIN juga punya pembelian bahan baku Rp2,24 triliun yang setara 4,43% dari penjualan, jadi relasi itu bukan kosmetik, itu jalur biaya.
GOOD punya pembelian COGS dari TPPJ dan GEN Rp947,21 miliar yang setara 13,88% dari COGS, lalu kompensasi manajemen Rp84,85 miliar yang kira-kira sekitar 17% dari laba bersih, ini angka yang membuat investor perlu kritis karena porsi nilai yang pindah ke manajemen dan grup bisa terasa besar saat laba lagi tipis.
FWCT terlihat lebih kecil dari sisi nominal, tetapi karakter risikonya tajam, pembelian veneer dari WTPI Rp60,55 miliar setara 8,74% dari pembelian dan utang ke FAST sebagai PSP Rp43,40 miliar setara 18,07% dari liabilitas, lalu total utang pihak berelasi yang disebut mencapai Rp65,7 miliar dengan bunga 8,5% sampai 9% menekan arus kas bebas yang sedang dipulihkan.
ACES juga punya transaksi yang sifatnya struktural, pembelian inventori dari Krisbow Rp196,85 miliar setara 5,48% dari pembelian, dan liabilitas sewa ke PT Tiga Dua Delapan Rp165,82 miliar setara 9,70% dari liabilitas, jadi ketergantungan properti grup itu nyata. Dari pola ini, CPIN dan GOOD cenderung punya beban berulang yang sifatnya seperti toll gate, royalti, shared services, kompensasi, sedangkan FWCT dan ACES lebih banyak terikat pada rantai pasok dan ekosistem grup yang menentukan fleksibilitas operasional. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Di sisi perjanjian penting dan pembatasan pendanaan, perbedaannya terasa pada ruang gerak manajemen saat kondisi berubah. CPIN punya covenant yang relatif standar untuk perusahaan besar, Debt to Tangible Net Worth di bawah 2x dan EBITDA dibanding bunga di atas 2x, sehingga ukurannya jelas dan bisa dipantau sebagai disiplin finansial, tetapi di sisi lain CPIN juga punya perjanjian lisensi yang membuat royalti menjadi komponen yang sulit dihindari.
FWCT justru kebalikannya, ada perjanjian transaksi veneer 10 tahun sampai 2030 yang mengunci pasokan dengan deposit Rp21 miliar, lalu pinjaman bank BNI punya negative covenant ketat, dilarang akuisisi atau investasi melebihi laba sesudah pajak atau earning after tax (EAT) tanpa izin bank, jadi perusahaan bisa saja punya peluang ekspansi, tetapi tangannya diikat oleh kontrak. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

GOOD punya cerita kombinasi bisnis GBS yang menghasilkan bargain purchase karena imbalan kas lebih rendah dari nilai wajar aset neto, lalu ada shared services agreement dengan TPPJ untuk efisiensi IT, keuangan, dan audit, sehingga ada peluang efisiensi, tetapi juga ada ruang debat fairness karena biaya jasa internal bisa menjadi kanal shifting laba.
ACES punya perubahan besar karena lisensi Ace Hardware berakhir per 2025 sehingga royalti dari sekitar Rp35 miliar tahun lalu menjadi Rp0 di 9M 2025, ini penghematan yang langsung memperbaiki margin operasional kalau biaya rebranding tidak membengkak, dan di saat yang sama ACES punya merchant agreement masif dengan bank untuk transaksi kartu kredit pelanggan yang menunjukkan bisnisnya sangat bergantung pada kelancaran ekosistem pembayaran dan traffic toko.

Kalau investor mau membandingkan dinamika perbaikan, ACES terlihat punya pergeseran paling jelas dari sisi biaya tetap royalti yang hilang, sedangkan CPIN tetap memikul komponen royalti yang besar, FWCT memikul kontrak yang membatasi manuver, dan GOOD memikul kompleksitas integrasi dan pembagian nilai di dalam grup. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

CPIN punya tagihan pajak atau claim for refund Rp397,29 miliar, artinya ada angka besar yang statusnya tidak sederhana dan evaluasinya bisa panjang, sehingga investor perlu sadar bahwa laporan pajak itu bukan formalitas.
FWCT justru punya sisi yang relatif lebih bersih dalam narasi pajak karena menerima SKPLB PPN 2024 yang direstitusi pada 2025, jadi ada efek kas yang lebih ramah, dan secara hukum mereka sedang diversifikasi ke pelayaran, yang artinya risiko kepatuhan dan eksekusi model bisnis baru ikut naik.

GOOD punya daftar sengketa pajak yang panjang dan masih jalan dari keberatan sampai banding dan peninjauan kembali, dengan contoh PPh Badan GPPJ 2020 Rp22,8 miliar dan PPh Badan MBR 2022 Rp42,4 miliar, sehingga akumulasi potensi kurang bayar bisa material dan menyedot fokus manajemen serta kas jika hasilnya tidak sesuai harapan.
ACES sedang proses banding pajak tahun 2021 untuk PPh Pasal 4 ayat 2, PPN, dan PPh Badan yang keberatannya ditolak, jadi ada ketidakpastian yang tetap harus dipantau. Dari kacamata investor yang tidak mau menyesal, angka-angka pajak itu harus diperlakukan seperti risiko yang bisa muncul kapan saja, bukan seperti catatan kaki. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

CPIN dan ACES cenderung lebih terlembagakan dari sisi tata kelola karena skala dan sistem grup, tetapi CPIN punya beban royalti besar yang melekat dan sensitif terhadap siklus serta kurs, sedangkan ACES justru mendapat napas karena royalti hilang dan arus kas terlihat solid dengan CFO Rp996 miliar versus laba Rp481 miliar yang memberi bantalan kualitas laba. FWCT dan GOOD sama-sama tampak sangat dipengaruhi kebijakan taktis PSP pada fase transisi, FWCT dengan ketergantungan ekstrem pada WTPI dan struktur pendanaan yang mengikat, GOOD dengan integrasi anak usaha dan transaksi pihak berelasi yang porsinya besar terhadap COGS dan laba, ditambah beban sengketa pajak yang tidak ringan. Jadi saat investor berniat nyangkut di empat saham ini, yang paling waras adalah menilai bukan cuma produk dan pertumbuhan, tetapi juga peta arus uang ke pihak berelasi, batasan covenant yang mengikat napas manajemen, dan potensi biaya legal-pajak yang bisa muncul sebagai kejutan. Investor yang paham tiga hal itu biasanya tidak mudah tergoda ikut-ikutan, karena mereka tahu perbedaan antara cerita yang enak didengar dan realitas yang benar-benar menentukan nasib portofolio.

๐Ÿ“ CPIN
๐Ÿงพ Royalti Nugen Rp511,05 M 33,18% beban umum
๐Ÿฆ Covenant Debt to Tangible NW <2x, EBITDA bunga >2x
๐Ÿงพ Risiko pajak Rp397,29 M

๐ŸŒฒ FWCT
๐Ÿงท Veneer WTPI Rp60,55 M 8,74%
๐Ÿ’ณ Utang FAST Rp43,40 M 18,07%
๐Ÿฆ Deposit Rp21 M, covenant bank ketat
๐Ÿ’ธ Utang relasi Rp65,7 M bunga 8,5% sampai 9%

๐Ÿช GOOD
๐Ÿงพ COGS relasi Rp947,21 M 13,88%
๐Ÿ’ผ Kompensasi Rp84,85 M kira-kira 17%
๐Ÿงจ Sengketa pajak Rp22,8 M dan Rp42,4 M

๐Ÿฌ AHI ACES
๐Ÿ’ง CFO Rp996 M vs laba Rp481 M
โœ… Royalti Ace Rp0, dulu Rp35,2 M
๐Ÿข Sewa relasi Rp165,82 M 9,70%, inventori Krisbow Rp196,85 M 5,48%

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/3

testestes
2013-2026 Stockbit ยทAboutยทContactHelpยทHouse RulesยทTermsยทPrivacy