imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Perang Kayu IHSG

Lanjutan diskusi saham kayu-kayu di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

Saham kayu sering dianggap cerita lama dan kuno. Di sektor ini, yang menang bukan yang paling banyak aset, tapi yang paling rapi mengubah penjualan menjadi uang tunai, lalu menjaga utang tetap jinak saat kurs bergerak liar. Itu sebabnya emiten seperti PT Wijaya Cahaya Timber Tbk ($FWCT) terasa menonjol, karena memilih jalur ekspansi dan integrasi hulu-hilir yang berani, bukan sekadar bertahan hidup. Di sisi lain ada PT Tirta Mahakam Resources Tbk ($TIRT) yang praktis sudah keluar dari bisnis kayu, dan PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) yang hidup dari ceruk dengan ruang gerak sempit. Jadi, menarik atau tidaknya saham kayu itu bukan soal romantisme industri, tapi soal siapa yang punya mesin kas dan disiplin risiko paling kuat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kalau disusun dari pendapatan terbesar ke terkecil, terlihat jelas ada beberapa kasta yang jaraknya jauh. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) melaju dengan pendapatan konsolidasian Rp8,94 triliun, tetapi perlu dicatat kayu hanya Rp948,7 miliar atau sekitar 10,6% dari total, jadi ini lebih tepat dibaca sebagai emiten sawit dengan bonus kayu. Di lapis berikutnya ada FWCT Rp1,14 triliun dengan lompatan 26,4%, lalu PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk ($IFII) Rp1,01 triliun dengan kenaikan 11,7%. Setelah itu jurangnya ekstrem, SOFA hanya Rp23,05 miliar dan turun tipis, sementara TIRT praktis nol secara bisnis kayu dengan pendapatan Rp33 juta karena operasional kayu lapis berhenti sejak 2020. Pola ini penting buat investor karena pendekatan analisisnya beda, DSNG lebih cocok dibaca sebagai konglomerasi agro, FWCT dan IFII sebagai manufaktur kayu yang masih berputar, SOFA sebagai butik furnitur, TIRT sebagai cerita restrukturisasi hidup-mati.

Di laba-rugi dan arus kas, perbedaan wataknya makin kelihatan. FWCT mampu membesarkan omzet, tetapi efisiensinya belum setajam IFII, laba bersih FWCT Rp45,9 miliar membuat margin laba bersih (net profit margin, NPM) sekitar 4,0%, sedangkan IFII laba bersih Rp154,5 miliar dengan NPM sekitar 15,3%. DSNG tetap solid dengan laba bersih Rp1,31 triliun, tetapi karena basisnya konsolidasian sawit, angka ini tidak bisa dibandingkan mentah-mentah dengan spesialis kayu. Di arus kas operasi (cash flow from operations, CFO), FWCT Rp74,9 miliar dan IFII Rp310,9 miliar sama-sama menunjukkan kualitas laba yang ditopang uang tunai, sementara SOFA CFO negatif Rp3,12 miliar dan TIRT CFO negatif Rp8,3 miliar menandakan napas operasionalnya tersengal. Bagian yang paling menarik adalah transformasi logistik dan risiko kurs, FWCT membangun dukungan pelayaran dengan capex kapal tunda dan tongkang Rp37,5 miliar, TIRT malah ingin membeli 20 kapal Rp162 miliar sebagai pivot total, dan IFII memilih jalur efisiensi pabrik dengan pembangunan ADR Tower serta upgrade lini mesin. Dari sisi kurs, FWCT dan IFII punya posisi yang cenderung diuntungkan saat dolar menguat, FWCT memegang aset moneter neto USD 5,8 juta dan mencatat laba kurs Rp4,69 miliar per September 2025, IFII memiliki aset bersih valas Rp92,2 miliar, sedangkan DSNG terkena rugi kurs neto Rp24,05 miliar karena utang dolar lebih dominan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Revenue
DSNG Rp8,94 triliun, tetapi kayu Rp948,7 miliar atau sekitar 10,6% dari total, pembacaannya lebih ke sawit plus kayu.
FWCT Rp1,14 triliun, naik 26,4%, ini akselerasi paling mencolok di antara spesialis kayu.
IFII Rp1,01 triliun, naik 11,7%, tumbuh lebih stabil dan rapi.
SOFA Rp23,05 miliar, turun tipis, ukuran kecil membuat sedikit gangguan biaya saja langsung terasa.
TIRT Rp33 juta, ini level yang secara praktis menegaskan bisnis kayunya sudah berhenti.

Laba bersih
IFII laba Rp154,5 miliar, NPM sekitar 15,3%, mesin profitabilitasnya paling efisien.
DSNG laba Rp1,31 triliun, NPM sekitar 14,7%, tetapi ini campuran sawit dan kayu, jadi jangan dibandingkan satu garis dengan murni kayu.
FWCT laba Rp45,9 miliar, NPM sekitar 4,0%, omzet kencang tetapi biaya masih menekan.
SOFA laba Rp561 juta, NPM sekitar 2,4%, masih untung, tapi ruang aman tipis karena skala kecil.
TIRT rugi Rp33,1 miliar, dengan pendapatan nyaris nol ini lebih mirip beban bertahan hidup.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Kualitas Laba
FWCT CFO Rp74,9 miliar lebih besar dari laba Rp45,9 miliar, ini sinyal laba ditopang kas nyata, bukan sekadar angka akuntansi.
IFII CFO Rp310,9 miliar jauh di atas laba Rp154,5 miliar, ini biasanya menandakan penagihan dan modal kerja terkendali.
SOFA CFO negatif Rp3,12 miliar meski laba positif, umumnya berarti kas nyangkut di persediaan atau piutang.
TIRT CFO negatif Rp8,3 miliar plus rugi, kombinasi yang biasanya membuat perusahaan bergantung pada pendanaan eksternal.

Utang
FWCT utang bank Rp184,4 miliar, dibanding CFO Rp74,9 miliar itu setara sekitar 2,5 tahun CFO, dibanding laba Rp45,9 miliar setara sekitar 4,0 tahun laba, jadi aman atau tidaknya tergantung disiplin belanja dan stabilitas permintaan.
IFII utang bank jangka panjang Rp261,4 miliar, CFO Rp310,9 miliar sudah lebih besar dari angka itu, ruang napasnya lebar.
SOFA karena CFO negatif, utang kecil pun bisa terasa berat kalau modal kerja terus mengembang.
TIRT sangat bergantung pada dukungan pemegang saham, ada suntikan dana dari PT Harita Jayaraya mencapai Rp997 miliar, ini menegaskan model bertahannya bukan dari operasi.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ekspor
FWCT posisi aset moneter neto USD 5,8 juta dan laba kurs Rp4,69 miliar per September 2025, ini bantalan alami saat dolar menguat.
IFII aset bersih valas Rp92,2 miliar, juga cenderung terlindungi saat rupiah melemah.
DSNG rugi kurs neto Rp24,05 miliar karena eksposur utang dolar lebih besar daripada aset dolarnya, sehingga pelemahan rupiah langsung menekan.

Persediaan, piutang, dan sinyal permintaan pasar
FWCT persediaan barang jadi turun 11,4% saat penjualan naik, ini biasanya sinyal barang bergerak cepat, bukan numpuk di gudang.
FWCT piutang usaha seluruhnya belum jatuh tempo, ini menunjukkan disiplin kredit dan penagihan yang rapi.
SOFA CFO negatif karena persediaan menahan kas, lalu perusahaan bergantung pada uang muka pelanggan sebagai napas operasional, ini pola yang riskan kalau permintaan melambat.

Arah belanja modal dan logistik
FWCT menambah dimensi pelayaran lewat PT Marina Andalan Jaya Utama dan capex kapal tunda serta tongkang Rp37,5 miliar, tujuannya menekan biaya angkut dan mengamankan rantai pasok.
TIRT memilih pivot ekstrem ke angkutan laut dengan rencana pembelian 20 kapal Rp162 miliar, ini lebih mirip upaya mengganti jantung bisnis yang sudah berhenti.
IFII fokus mengasah produktivitas pabrik, termasuk ADR Tower serta peningkatan kapasitas mesin sanding dan cutting, ini biasanya berujung pada margin yang lebih konsisten.
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/2

testes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy