Kantor kecil Revan di bilangan Jakarta Selatan lebih mirip pusat riset militer daripada tempat kerja. Dindingnya dipenuhi grafik, laporan tahunan puluhan perusahaan, dan catatan wawancara. Di tengahnya, satu garis waktu besar tentang United Tractors ($UNTR) mendominasi. Tahun 2018, Revan memutuskan perusahaan inilah yang akan menjadi “investasi seumur hidup”-nya, mengikuti jejak idolanya, Phil Fisher. Proses “scuttlebutt”-nya telah dimulai.
Ia menghabiskan bulan-bulan mewawancarai insinyur di lokasi tambang, berbicara dengan sopir haul truck tentang keandalan alat, dan minum kopi dengan supplier suku cadang. Ia tidak hanya mencari angka, tetapi cerita di balik angka itu. Cerita tentang bagaimana UNTR, bagian dari Astra, telah membangun “economic moat” yang hampir tak tertembus: distribusi eksklusif Komatsu, layanan purna jual yang menjadi standar industri, dan integrasi vertikal dari alat berat sampai kontraksi tambang. Bagi Revan, ini bukan sekadar saham; ini adalah kepemilikan atas sebuah bisnis superior.
Di sisi lain, ada Bayu, teman lamanya. Jika Revan seorang detektif, Bayu adalah seorang filsuf yang terinspirasi oleh Charlie Munger. Kedai kopi langganan mereka menjadi tempat uji ide. Saat Revan bersemangat menceritakan temuan scuttlebutt-nya tentang budaya kerja di bengkel UNTR, Bayu hanya mendengarkan sambil menyeruput kopinya. “Revan,” ujarnya suatu sore, “pasar itu, dalam jangka pendek, adalah mesin voting yang dipenuhi orang-orang yang sedang panik atau serakah. Tugas kita adalah mengabaikan suara mereka dan fokus pada bisnisnya sebagai mesin penimbang.”
Ujian terbesar filosofi mereka datang bukan di tahun 2008, tetapi jauh kemudian. Siang itu, udara di kawasan Sudirman terasa lebih berat dari biasanya. Di sebuah kedai kopi yang tersembunyi di balik gedung-gedung beton, Revan duduk dengan tenang, meski layar ponselnya memancarkan warna merah yang menyala. UNTR baru saja menghantam batas bawah—terkunci di harga ARB setelah berita seperti petir menyambar: izin operasi tambang emas Martabe, kontributor laba utama UNTR, dicabut. Harga saham langsung terjun bebas, terhempas ke auto-rejection bottom. Laba diproyeksikan merosot 27-39%.
Telepon Revan berdering tak henti; teman-teman dan koleganya bertanya panik, “Kamu jual, kan?” Revan tidak menjawab. Ia justru membuka laptopnya, bukan ke layar grafik harga yang merah menyala, tetapi ke arsip-arsip lamanya. Ia membaca kembali catatan wawancaranya dengan manajemen middle-level UNTR bertahun-tahun lalu tentang rencana mitigasi risiko. Ia melihat laporan kinerja divisi alat berat dan kontraktor penambangan (Pama) yang tetap kokoh. Krisis ini, sebesar apa pun, berasal dari satu segmen. Bisnis inti yang membuatnya jatuh cinta—jaringan distribusi, hubungan pelanggan, keunggulan operasional—masih utuh. Ini adalah pukulan berat, tapi bukan penyakit terminal. Ia mengingat prinsip Fisher: masalah sementara pada perusahaan besar justru sering menjadi peluang.
Bayu meneleponnya. Suaranya tenang, bahkan nyaris datar. “Gila, ya, pasar? Mereka menyerahkan bisnis hebat dengan diskon 40% hanya karena satu berita buruk,” ujarnya. “Munger akan bilang, ini saatnya kita menjadi lebih serakah ketika orang lain ketakutan. Margin of safety kita tiba-tiba membesar.”
Revan mengangguk sendiri. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Sementara hampir semua orang memilih untuk “cut loss”—menjual kepanikan mereka—Revan justru melakukan sesuatu yang dianggap gila: ia menambah posisinya. Dengan hati yang tenang, ia memesan lebih banyak saham UNTR di harga yang tertekan. Ia tidak membeli “ticker” yang jatuh; ia membeli lebih banyak kepemilikan atas bisnis alat berat terkuat di negeri ini yang sedang dijual murah.
Revan menyesap kopinya perlahan. Ia telah memegang saham ini sejak 2018, dan baginya, ini bukan sekadar angka di layar. Ia teringat perjalanannya ke lokasi-lokasi tambang terpencil di Kalimantan dan Sumatera. Di sana, ia melakukan apa yang disebut Philip Fisher sebagai scuttlebutt. Revan pernah menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi dekat site, berbincang dengan para supir truk dan mekanik PAMA yang baru pulang shift.
"Saya melihat sendiri bagaimana mereka merawat alat berat seperti milik sendiri," gumam Revan. "Budaya disiplin Astra itu bukan cuma slogan di laporan tahunan. Fisher selalu bilang, selidiki bagaimana hubungan manajemen dengan karyawan. Jika mekaniknya saja merasa memiliki perusahaan, maka perusahaan itu punya 'paru-paru' yang sangat kuat."
Bayu, sahabatnya yang merupakan penganut setia Charlie Munger, datang lalu mulai sibuk dengan kalkulator dan tumpukan laporan keuangan yang sudah lecek.
"Semua orang di grup WhatsApp investor sedang panik, Van," kata Bayu tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya. "Mereka berteriak tentang loss of income. Tapi mereka bertindak seolah-olah UNTR itu hanya Martabe. Ini adalah kesalahan berpikir yang disebut Munger sebagai man-with-a-hammer tendency. Karena mereka hanya melihat emas, mereka lupa bahwa perusahaan ini punya neraca yang sangat bersih dan arus kas dari PAMA yang tetap stabil meski badai regulasi menerjang."
Bayu mengetuk jarinya di atas angka ROE. "Munger selalu mengajarkan kita untuk membalikkan keadaan. Invert, always invert. Jika pemerintah menekan melalui Operasi Hijau, siapa yang akan bertahan? Apakah pemain kecil dengan modal cekak? Tidak. Justru raksasa seperti UNTR yang punya daya tahan untuk melakukan lobi, memperbaiki administrasi, dan beralih ke proyek lain. Kepanikan ini adalah hadiah bagi kita yang punya temperamen tenang."
Revan mengeluarkan buku catatan kecilnya yang berisi hasil investigasi lapangan selama dua tahun terakhir terkait ekspansi ke mineral non-batubara.
"Dua bulan lalu, aku sempat ke Sulawesi Utara, ke sekitar lokasi Proyek Doup," Revan bercerita dengan suara rendah. "Aku tidak masuk ke kantor pusatnya, tapi aku bicara dengan vendor-vendor logistik lokal. Mereka bilang, setelah akuisisi rampung, UNTR akan menyiapkan infrastruktur jalan dan fasilitas pengolahan dengan standar yang sangat tinggi, jauh melampaui standar perusahaan sebelumnya. Itu adalah 'poin kedua' Fisher: apakah manajemen punya determinasi untuk terus tumbuh? Aku melihat Doup bukan cuma sebagai pengganti Martabe, tapi sebagai mesin pertumbuhan baru yang lebih efisien."
Revan melanjutkan, "Fisher pernah bertahan di Motorola saat mereka dihantam hambatan regulasi spektrum di Amerika puluhan tahun lalu. Dia tidak peduli dengan fluktuasi laba satu atau dua tahun, selama perusahaan tetap menjadi yang terbaik di bidangnya. Jika manajemen UNTR tidak melakukan penyuapan sistematis—dan investigasi kita mengonfirmasi bahwa mereka adalah yang paling bersih di sektor ini—maka masalah izin ini hanyalah 'biaya sewa' untuk tetap berada di bisnis ini."
Bayu menutup kalkulatornya dengan suara mantap. "Munger pasti akan bilang: 'Jika kamu membeli bisnis yang hebat, kamu hanya perlu duduk di atas tanganmu.' Penurunan harga ini hanyalah pasar yang sedang menawarkan diskon karena mereka tidak punya kesabaran untuk menunggu Proyek Doup berproduksi di 2028. Mereka lebih suka memotong kerugian sekarang daripada memanen keuntungan besar nanti."
Revan tersenyum, melihat kerumunan orang yang terburu-buru di luar jendela. "Orang-orang itu mencari keamanan dalam kerumunan, Bay. Tapi kita belajar dari Fisher bahwa keamanan yang sebenarnya ada pada pengetahuan mendalam tentang apa yang kita miliki. Besok pagi, saat pasar dibuka dan kepanikan masih berlanjut, aku akan menambah posisi."
Bayu mengangguk setuju. "Waktu adalah teman bagi bisnis yang hebat, dan musuh bagi bisnis yang medioker. Dan kita tahu UNTR berada di sisi mana."
Beberapa hari kemudian, ia dan Bayu kembali duduk di kedai kopi. Revan membuka laptop, menunjukkan presentasi internal UNTR tentang akuisisi Proyek Doup di Sulawesi Utara. “Lihat,” ujarnya, “manajemen tidak pasif. Mereka merespons. Martabe hilang, mereka sudah menyiapkan cadangan emas baru di Doup. Butuh waktu untuk berproduksi, tapi ini langkah tepat.” Ini adalah bukti nyata dari kompetensi manajemen yang selalu dicari Fisher dan Munger.
Bayu tersenyum. “Pasar hanya fokus pada laba yang hilang tahun depan. Kamu dan saya, kita sedang menimbang arus kas yang akan dihasilkan dari tambang baru ini untuk sepuluh tahun ke depan. Itulah perbedaan antara berjudi dan berinvestasi.”
Bulan-bulan berlalu. Kepanikan pasar perlahan mereda. Harga saham mulai merangkak naik, bukan karena spekulasi, tetapi karena pasar mulai menyadari bahwa laporan kinerja divisi alat berat UNTR tetap gemilang dan rencana pemulihan berjalan. Nilai portofolio Revan pulih dan melampaui titik tertinggi sebelumnya. Ia tidak pernah menjadi kaya karena menjual saat panik; ia menjadi kaya karena memiliki lebih banyak bagian dari bisnis yang luar biasa saat harganya tidak masuk akal.
Revan dan Bayu memahami bahwa harga adalah bayangan, sering kali terdistorsi, dari benda padat yang bernama bisnis. Dengan fokus pada “economic moat”, kualitas manajemen, dan prospek jangka panjang UNTR, kegaduhan harga di pasar hanyalah angin lalu bagi mereka yang paham sedang memiliki apa.
$ASII $IHSG
