Gue sering banget dapet pertanyaan kayak gini: "Bang, ABCD cuma 80 perak loh, muraaah banget kan? Masih bisa naik lah ini."
Terus gue balik tanya, "Lo tau gak PE-nya berapa? PBV-nya di mana? Revenue-nya tumbuh atau stagnan? Cashflow-nya sehat gak?"
Diem.
Nah, ini yang gue mau omongin. Banyak yang ngira harga saham 50, 100, atau 200 rupiah itu otomatis "murah" cuma karena angkanya kecil. Padahal harga nominal itu literally gak ada artinya tanpa konteks valuasi.
Bayangin gini. Lo ke pasar beli baju. Ada baju A harganya 50 ribu, ada baju B harganya 500 ribu. Mana yang murah? Lo pasti jawab yang 50 ribu dong. SALAH. Lo belum tau bahannya apa, merk apa, kondisinya gimana. Bisa aja baju 50 ribu itu bolong-bolong bekas pakai orang, sedangkan baju 500 ribu itu branded original. Nah, baru bisa bilang murah atau mahal kalau lo bandingkan value yang lo dapet.
Sama persis kayak saham.
Saham harga 50 perak belum tentu murah kalau ternyata perusahaannya rugi terus, utangnya numpuk, dan bisnisnya lagi sekarat. Sebaliknya, saham harga 10.000 bisa aja murah kalau labanya gede, pertumbuhannya konsisten, dan valuasinya masih reasonable.
Contoh real: $INET sekarang 560. Mahal? Iya, PE-nya 644x. Tapi market belinya karena liat potensi growth jangka panjang. Bandingkan sama saham gorengan harga 80 perak yang PE-nya gak bisa dihitung karena laba negatif mulu. Mana yang lebih "mahal" secara valuasi? Jelas yang 80 perak, karena lo bayar sesuatu yang gak ada nilainya.
Yang harus lo inget: harga saham itu bukan ukuran murah mahal. Valuasi lah yang menentukan.
Valuasi itu apa? Simpelnya, berapa lo harus bayar dibanding value yang lo dapet. Caranya liat PE Ratio, PBV, Price to Sales, atau metode lain. Kalau lo beli saham 100 perak tapi PE-nya 200x sementara industri rata-rata cuma 15x, berarti lo overpay. Sebaliknya, beli saham 5.000 tapi PE cuma 5x padahal industri rata-rata 15x, itu baru namanya murah.
Jadi stop mikir "wah harganya cuma 100, gue beli 100 lot aja biar dapet banyak lembar". Itu mental lotere, bukan invest. Yang penting bukan berapa lembar lo punya, tapi berapa persen return yang bisa lo dapet dari value perusahaan itu.
Kesalahan fatal lain: mikir saham murah pasti gampang naik 100%. "Eh dari 50 ke 100 kan cuma naik 50 perak, gampang banget tuh." Bodoh. Naik 50 perak itu artinya naik 100 persen. Sementara saham harga 5.000 naik 100 persen harus ke 10.000. Persentasenya sama, effort-nya juga sama. Malah kadang saham mahal lebih gampang naik persentase karena fundamentalnya kuat.
Banyak yang terjebak beli saham gorengan harga murah, ngebet pengen cuan cepat. Ujung-ujungnya nyangkut bertahun-tahun karena gak ada katalis fundamental buat naik. Sedih liatnya.
Moral of the story: jangan pernah bilang saham itu murah atau mahal cuma liat harga nominalnya. Bedah dulu valuasinya. Liat labanya, liat utangnya, liat prospek bisnisnya. Baru deh lo bisa bilang, "Ini worth it atau nggak buat gue beli."
Kalau lo males belajar valuasi, jujur aja, lo belum siap invest saham. Main deposito aja dulu, aman.
$BUVA $BIPI