Detik-Detik Menjelang Pidato Trump: Market Pegang Mouse, Jari Siap Klik Cut Loss
Malam ini pukul 20:30 WIB, market global kembali duduk manis seperti murid teladan—bukan karena paham pelajaran, tapi karena takut salah gerak. Sebab yang akan bicara bukan analis, bukan bank sentral, melainkan Donald Trump. Satu orang yang kalau batuk saja, indeks bisa demam. Trader menahan napas, investor pura-pura tenang, sementara algoritma sudah pemanasan seperti mau lomba lari.
Pidato ini bukan soal isi, tapi soal nada. Kalau Trump mulai dengan kata “great”, “strong”, atau “tremendous”, USD bisa sok jago, yield naik, saham bingung mau ikut senang atau takut. Tapi kalau kalimatnya menyenggol The Fed, perang dagang, atau negara yang “doesn’t pay their fair share”, market langsung sadar diri: oh, ini bakal panjang malamnya. Volatilitas naik, candle jadi panjang, dan stop loss diuji iman.
Belum selesai drama pidato, market disuguhi Redbook, Penjualan Rumah Tertunda, Belanja Konstruksi—seolah data ekonomi dipaksa naik panggung setelah aktor utama bikin keributan. Kalau data jelek, market bilang: “Ini gara-gara Trump.” Kalau data bagus, market bilang: “Ini meskipun Trump.” Selalu ada kambing hitam yang siap.
Untuk nanti malam, skenario klasik:
Forex dan futures liar dulu, mikir belakangan.
Emas dan obligasi pura-pura jadi tempat aman, padahal sama-sama goyang.
Saham? Naik dikit, turun banyak—atau sebaliknya, tergantung mood pidato.
Besok hari, barulah market sok rasional. Headline disaring, kata-kata ditimbang, analis keluar dari persembunyian. Biasanya terjadi satu hal pasti: market bergerak kebalikan dari reaksi awal, bikin yang FOMO malam ini menatap layar dengan senyum pahit.
Kesimpulannya sederhana: ini bukan soal ekonomi, ini soal retorika. Bukan angka yang menggerakkan market, tapi mulut. Jadi kalau nanti market loncat-loncat tanpa arah, jangan bingung. Itu bukan bug—itu fitur bawaan setiap kali Trump pegang mikrofon.
$BBCA $BBRI $BMRI
