imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

#110
Sel, 20 Jan 2026


Edisi Spesial ✍️
Jangan lupa sebelum membaca comment "☕"


Mengapa Harga Saham Bisa Naik Saat Investor Asing Sedang Jual? 🤷


Bayangkan skenario ini: IHSG pagi ini dibuka hijau, bahkan naik 1–2%. Beberapa saham big caps favorit Anda melonjak. Anda buka data foreign flow ternyata net sell asing ratusan miliar. Stream langsung ramai: “Kok bisa naik? Asing kabur nih, besok pasti anjlok!”

Anda mulai ragu. Apakah ini jebakan bull trap? Haruskah ikut jual sebelum terlambat?

Tenang. Fenomena “harga naik tapi asing jual” ini sangat umum di pasar saham, terutama di Indonesia. Ini bukan anomali ini justru mengingatkan kita pada prinsip dasar pasar: harga ditentukan oleh keseimbangan antara penawaran dan permintaan dari SEMUA pelaku pasar, bukan hanya satu kelompok.

Warren Buffett pernah bilang:
“The stock market is designed to transfer money from the impatient to the patient.”

Dan salah satu bentuk “impatience” adalah terlalu obsesi dengan satu indikator like foreign flow tanpa melihat gambaran besar.


1. Siapa Sebenarnya yang Menggerakkan Harga?

Pasar saham itu seperti lelang besar. Harga naik kalau pembeli lebih agresif daripada penjual. Pembeli dan penjual datang dari empat kelompok utama di Bursa Efek Indonesia:

• Investor Asing (foreign institutions): Biasanya fund besar dari Singapura, US, Eropa. Mereka punya dana jumbo, jadi gerakan mereka sering bikin headline. Tapi porsi kepemilikan mereka di IHSG hanya sekitar 40–50% (tergantung periode).

• Institusi Domestik (reksadana, asuransi, dana pensiun lokal): Ini “pemain diam” yang dananya juga triliunan. Mereka sering beli saat asing jual karena mandat investasi jangka panjang.

• Investor Retail Lokal (Anda, saya, trader di sekuritas online): Jumlahnya puluhan juta sekarang. Kalau sentimen bagus (misal suku bunga turun, laba emiten bagus), retail bisa “serbu” beli dan dorong harga naik signifikan.

• Bandar / Big Players Lokal: Beberapa institusi atau individu besar yang akumulasi diam-diam.


Intinya: Kalau asing jual 500 miliar, tapi domestik (institusi + retail) beli 800 miliar, harga tetap bisa naik. Supply-demand sederhana.


2. Mengapa Asing Sering Jual Saat Harga Naik?

Ada beberapa alasan logis kenapa asing net sell tapi market tetap bullish:

• Rebalancing Portfolio: Fund asing punya aturan ketat. Kalau saham Indo sudah terlalu besar bobotnya di portofolio global mereka, mereka jual sebagian untuk seimbangkan meski mereka tetap suka prospeknya.

• Ambil Untung (Profit Taking): Setelah rally panjang, asing yang masuk duluan ambil profit. Ini normal, bukan sinyal bearish permanen.

• Faktor Global: Mereka tarik dana ke negara asal karena yield US Treasury naik, atau krisis di tempat lain. Ini bukan karena Indonesia jelek, tapi karena opportunity cost di tempat lain lebih menarik sementara.

• Window Dressing vs Reality: Kadang di akhir bulan/tahun, fund asing “rapikan” laporan dengan jual saham yang lagi naik.

Peter Lynch pernah bilang:
“If you spend more than 13 minutes analyzing economic and market forecasts, you’ve wasted 10 minutes.”

Artinya: jangan terlalu overthink gerakan asing dalam jangka pendek.


3. Contoh Nyata dari Pasar Kita

Sepanjang 2024–2025, kita sering lihat IHSG rally meski foreign outflow:

• Awal 2025: IHSG naik ke 7.500–8.000, tapi asing net sell karena khawatir Fed rate. Siapa yang beli? Reksadana lokal dan retail yang optimis dengan program pemerintah baru.

• Sektor banking: BBCA/BMRI sering naik saat asing jual, karena dana pensiun dan asuransi lokal akumulasi untuk dividen jumbo.

Dan sebaliknya: saat asing net buy besar-besaran (misal 2021 pas pandemic recovery), harga juga bisa turun kalau domestik panik jual.


4. Apa yang Harus Anda Lakukan?

Jangan langsung panik saat lihat “asing net sell”. Lakukan checklist ini:

1. Lihat Net Buy/Sell Total: Bukan hanya asing, tapi bandingkan dengan institusi dan retail. Data lengkap ada di situs IDX.

2. Cek Fundamental Emiten: Apakah laba masih tumbuh? Valuasi masih reasonable? Kalau ya, gerakan asing jangka pendek tidak terlalu penting.

3. Pahami Konteks Makro: Asing jual karena faktor eksternal (misal Trump policy 2025–2026) atau internal? Kalau eksternal, sering sementara.

4. Fokus Jangka Panjang: Buffett jarang lihat foreign flow. Dia beli bisnis bagus dan tunggu. Kalau Anda value investor, gunakan momen asing jual untuk akumulasi if margin of safety masih ada.


Penutup

Harga saham naik saat asing jual bukan berarti market “salah” atau bull trap. Itu berarti ada pembeli lain yang lebih percaya diri pada prospek Indonesia saat ini.

Jangan jadikan foreign flow sebagai “dewa penentu”. Itu hanya satu bagian dari cerita besar. Yang benar-benar menentukan nilai saham dalam jangka panjang tetap kualitas bisnis perusahaan dan harga yang Anda bayar.

Selamat berinvestasi dengan tenang, bukan dengan panik lihat headline “Asing Net Sell”.

Dyor ya 👍



Terinspirasi dari prinsip Warren Buffett, Peter Lynch, Benjamin Graham, dan pengamatan puluhan tahun di pasar emerging seperti Indonesia.

Rantag : $IHSG $CDIA $NICL

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy