$ASSA Bull Thesis
Sekilas, ASSA terlihat seperti bisnis rental mobil yang asset-heavy, dengan kebutuhan capex dan maintenance besar untuk menjaga operasi tetap jalan. Tapi setelah saya teliti lebih jauh, ASSA yang sekarang ini lebih tepat dilihat sebagai ekosistem logistik dengan tiga profit driver yang saling bersinergi, dengan jalur yang cukup jelas untuk menaikkan RoIC mereka.
Tiga pilar bisnis ASSA:
- Pilar Rental: sewa kendaraan
- Pilar Marketplace: lelang kendaraan, gadai, serta jual-beli mobil bekas
- Pilar Logistik end-to-end
Kita bahas satu-satu.
1. Model rental itu sendiri cukup sederhana: butuh upfront capital untuk membeli fleet, dan profit bisnis sangat ditentukan oleh utilisasi fleet tersebut. Dari sini saja sudah kelihatan kan sinerginya? Fleet bekas dari bisnis rental bisa diputar lewat bisnis lelang dan mobil bekas milik grup sendiri. Apa implikasinya?
- ASSA bisa merotasi fleet setiap 3 sampai 5 tahun, jadi customer mendapat unit yang relatif fresh (competitive moat).
- ASSA berpotensi mendapat margin penjualan mobil bekas yang lebih tinggi dibanding kompetitor, karena fee dari platform jual-beli dan lelang dapat di-capture sendiri.
- Bisnis lelang dan mobil bekas mendapat supply aset yang kualitasnya terjaga, karena berasal dari armada internal.
Singkat kata, ASSA bisa ekspansi fleet lebih agresif dibanding kompetitor, selama demand pasar dan liquidity lelang cukup untuk menyerap supply unit bekas dari operasi.
2. Marketplace Autopedia. Pilar yang satu ini sebenarnya berdiri sendiri dengan ticker $ASLC. Yang unik dari bisnis lelang ini adalah mereka cenderung memiliki dinamika winner-takes-all, karena:
- Ada barrier to entry: butuh lahan fisik untuk menampung kendaraan di seluruh Indonesia.
- Efek "liquidity begets liquidity": semakin banyak seller dan buyer, price discovery makin bagus, dan itu menarik lebih banyak partisipan lagi.
Saat ini platform lelang ASLC (JBA) adalah yang nomor 1 di Indonesia. Mereka melelang sekitar 125 ribu unit pada 2024, jauh di atas kompetitor nomor 2 (IBID) sekitar 25 ribu unit pada 2024.
3. ASSA adalah pemilik dari AnterAja, yang baru-baru ini berhasil melakukan turnaround dan revenue-nya bahkan sudah melewati dua pilar sebelumnya. Turnaround ini juga yang menurut saya menjadi katalis rerating valuasi ASSA sejak Maret 2025.
Industri otomotif itu cyclical, tapi kalau dilihat-lihat sebenarnya ketiga pilar ASSA ini cukup tahan banting:
* Saat ekonomi melambat, bisnis cenderung cari efisiensi, dan model rental bisa jadi opsi untuk mengurangi beban capex.
* Retail dan korporat akan prefer menjual dan membeli mobil bekas (trade down) saat ekonomi sedang turun.
* Home business dan ecommerce cenderung tetap tumbuh, yang akan menopang volume logistik, seperti yang terjadi saat era COVID.
Sebagai bonus, saya suka manajemennya. Mereka cukup decisive untuk banting setir dan disiplin secara finansial (ada beberapa optional business opportunity yang sedang mereka kejar untuk memperkuat pilar-pilar mereka). Dividend policy-nya juga sangat masuk akal.
Kalau hanya melihat ASSA hanya sebagai bisnis rental, RoIC-nya memang tidak atraktif. Tapi kalau dilihat sebagai ekosistem, pilar lelang dan logistik ini punya potensi besar untuk terus menaikkan RoIC mereka (dari hitungan kasar saya, RoIC kedua pillar itu sudah kepala dua dan improving). Di valuasi sekitar PER 12x, menurut saya market masih underpricing ASSA, apalagi kalau momentum tiga pilar ini masih berlanjut. Thanks for reading.
$CASS