$IHSG - Kripto, Altar Anatomi Ritual di Atas Meja Grooming Finansial

Kasus child grooming yang mencuat ke ruang publik melalui pengalaman Aurelie Moeremans seharusnya tidak berhenti sebagai drama personal, atau konsumsi gosip yang cepat menguap di lini masa. Ini adalah cermin sosial yang dingin dan jernih tentang cara kekuasaan bekerja di era modern. Bukan melalui ancaman senjata atau paksaan terbuka, tetapi lewat bahasa perhatian, kepedulian yang terkurasi, dan janji-janji tentang masa depan yang terdengar masuk akal.

Kekuasaan hari ini tidak harus mengambil secara paksa, kekuasaan dapat memilih cara lain yang lebih mengarahkan, sehingga seperti tidak terlalarang, malah tidak disadari seperti sedang membingkai pilihan.

Korban sering kali baru menyadari bahwa batas-batas dirinya telah lama dilampaui justru ketika mereka merasa sedang membuat keputusan paling bebas, paling rasional, dan paling berdaulat dalam hidupnya.

Inilah bentuk kekerasan yang paling efektif: penaklukan jiwa yang berlangsung begitu halus hingga tak terasa sebagai penaklukan. Dalam lanskap ekonomi modern, pasar modal menjadi salah satu panggung paling rapi bagi mekanisme ini, yakni sebuah ruang di mana persetujuan dibangun perlahan dari ilusi yang dirawat dengan sabar. Di bursa, proses ini disebut investasi; dalam psikologi dikenal sebagai grooming.

Pasar modal dan ekosistem aset digital menyediakan struktur yang nyaris ideal bagi praktik tersebut. Bagi mereka yang tidak menyadari posisinya, pasar bukan ruang akumulasi kesejahteraan, pasar adalah meja perjamuan dengan aturan yang telah ditetapkan jauh sebelum mereka duduk. Tak ada senjata. Tak ada paksaan. Selebihnya hanya persetujuan, awalnya kita diberikan mimpi, lama-lama menjadi serakah sendiri, dan ujung-ujungnya cuma bisa pasrah mendengerkan ocehan para influencer.

Dalam psikologi, grooming dipahami sebagai proses bertahap yang dimulai dari pembangunan kepercayaan, berlanjut pada penciptaan ketergantungan, lalu berakhir pada normalisasi pelanggaran batas. Pelaku tidak pernah hadir sebagai ancaman pada awalnya. Dia tampil sebagai figur otoritas yang tampak lebih paham dunia, menawarkan perlindungan dan kepastian di tengah kecemasan ekonomi yang menekan kelas menengah. Korban tidak diseret menuju jurang; Dia diajak berjalan pelan-pelan dengan keyakinan bahwa setiap langkah adalah pilihannya sendiri. Di titik inilah kekuasaan menjadi nyaris tak terlihat dan, karena itu, paling berbahaya.

Logika yang sama bekerja dalam pasar saham dan investasi modern. Investor ritel tidak pernah dipaksa membeli saham gorengan atau aset kripto tanpa fundamental. Mereka diyakinkan melalui cerita, disanjung lewat keberhasilan selektif, dan dipeluk oleh narasi yang terdengar seperti kebijaksanaan. Manipulasi berlangsung tanpa suara, dalam pengaturan yang begitu rapi hingga pihak yang dirugikan sering kali merasa terhormat telah ikut serta.

Behavioral finance sejak lama membongkar mitos manusia rasional yang diagungkan ekonomi klasik. Kita adalah makhluk emosional yang membutuhkan cerita untuk menenangkan ketakutan akan masa depan yang tak pasti. Narrative bias membuat kisah sukses jauh lebih meyakinkan daripada statistik risiko.

Pasar memanfaatkan kerentanan ini dengan presisi: setiap aset memiliki cerita heroik, setiap risiko diberi rasionalisasi, dan setiap kegagalan dapat dialihkan menjadi kekurangan personal investor itu sendiri.

Money mindset pun hadir sebagai konsep Ajaib, di mana kegagalan selalu bisa disalahkan pada pikiran yang kurang positif, bukan pada kerangka yang sejak awal dirancang untuk mengeringkan dompet. Sederhananya: kita sedang dirampok, tapi kita malah berterima kasih.

Di ruang yang penuh jargon efisiensi dan inovasi ini, setiap investor diajak berpikir seperti kapitalis, tanpa sadar bahwa mereka hanyalah bahan bakar bagi mesin yang sama. Kapitalisme modern bukan lagi sistem ekonomi, kini telah menjelma menjadi reality show tanpa jeda, di mana setiap penonton yakin dirinya ikut bermain, padahal hanya menjadi konten. Dan konten yang paling laku adalah penderitaan yang dikemas rapi.

Dalam dunia grooming, ada fase penting yang disebut trust-building: banjir perhatian yang menciptakan rasa eksklusivitas. Dalam investasi, fase ini hadir lewat cuplikan keuntungan, tangkapan layar portofolio hijau, testimoni yang diseleksi, dan jargon tentang akses pengetahuan khusus. Keberhasilan kecil menanamkan kepercayaan. Pengulangan membangun loyalitas. Pada titik tertentu, ketergantungan terbentuk. Harapan tidak dipelihara untuk dipenuhi, melainkan untuk dipanen.

Di titik ini, pasar mulai menyerupai sebuah altar modern. Grafik dijadikan kitab rujukan, likuiditas diperlakukan sebagai pusat iman, dan influencer mengambil peran imam yang menenangkan jemaat dengan suara lembut. Mereka tidak menjanjikan keselamatan, sebaliknya mereka malah menjadikan kemungkinan yang selalu bisa ditunda. Tidak ada kewajiban untuk percaya. Semua hanya diajak yakin.

Ritualnya sederhana: analisis teknikal diposisikan sebagai ramalan versi digital, HODL menjadi mantra penahan sakit, dan diamond hands dijadikan gelar kehormatan bagi mereka yang paling lama bertahan di altar likuiditas. Airnya sama; hanya label keanggotaan yang dibedakan.

Di Indonesia, pola ini tidak lagi bersifat abstrak. Saat ini telah memiliki nama, wajah, dan jejak digital. Timothy Ronald tampil sebagai salah satu figur paling menonjol dalam ekosistem tersebut. Otoritas dibangun melalui bahasa pembebasan finansial, komunitas eksklusif, dan klaim pengetahuan yang dianggap tidak dimiliki mayoritas pengikutnya. Yang diperdagangkan bukan sekadar analisis atau aset, tapi rasa aman semu dan ilusi kompetensi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Dalam relasi semacam ini, kegagalan sulit lagi disebut sekadar “risiko pasar”. Ketika satu pihak memahami struktur, likuiditas, dan konsekuensi jauh lebih dalam, sementara pihak lain diyakinkan bahwa mereka berdiri di posisi setara, maka yang bekerja bukan kebetulan, yang menjadikan relasi kuasa yang timpang, yang kemudian dibungkus oleh edukasi, dan dilegitimasi popularitas.

Teknologi digital mempercepat proses ini. Algoritma bekerja sebagai perantara yang dingin dan efisien, menyajikan narasi paling tepat pada saat paling rentan. Alogritma ini tahu kapan ketakutan finansial muncul, kapan ego membutuhkan validasi, dan bagaimana menyuapi ilusi kontrol. Pilihan yang tampak objektif sering kali hanyalah hasil dari arus informasi yang telah disaring sebelumnya.

Di ruang-ruang diskusi ritel, pola ini terlihat jelas. Keputusan awal yang tampak hati-hati perlahan berkembang menjadi komitmen yang semakin besar. Tidak ada paksaan. Yang ada hanyalah rangkaian pilihan yang, satu per satu, terasa rasional, namun ketika dijumlahkan, membentuk jebakan yang rapi. Dominasi bekerja dari dalam, membuat individu merasa sepenuhnya mengendalikan nasibnya sendiri, sementara arah permainannya telah ditetapkan jauh sebelumnya.

Keberhasilan dirayakan dan diulang, dijadikan rujukan bersama. Kegagalan, sebaliknya, disimpan dalam sunyi. Seperti dalam relasi grooming, ingatan terus kembali pada fase manis di awal, sementara tanda-tanda kerusakan ditekan dan dianggap sementara. Dengan cara itu, ilusi kompetensi pribadi tetap terjaga, meski fondasinya perlahan retak.

Asimetri informasi menjadi jantung tragedi ini. Sebagian memahami siklus dan likuiditas, sementara kerumunan lain hanya bereaksi terhadap headline dan tren. Pasar terlihat efisien di permukaan, tetapi menyimpan jebakan bagi mereka yang tidak mengenali kualitas sebenarnya. Ilusi kontrol dipertebal oleh indikator teknikal dan grafik yang tampak ilmiah. Investor merasa rasional dan berdaya; pada saat yang sama, likuiditas mengalir dari keyakinan tersebut, meski tidak semua pihak berada di posisi setara ketika arus berbalik.

Ironinya, bahkan kritik terhadap pasar pun kini bisa dijual. Skeptisisme berubah menjadi brand. Moralitas dijadikan merchandise. “Ini bukan saran finansial” berfungsi seperti “no offense” sebelum menghina: sebuah kalimat sakti yang membuat nasihat beracun tampak netral.

Dalam konteks kripto yang minim regulasi, mekanisme ini tampil lebih telanjang. Figur edukator kerap diposisikan sebagai simbol perlawanan terhadap sistem lama. Namun ketika pasar runtuh, narasi pun bergeser. Kegagalan yang bersifat sistemik dipersempit menjadi soal mental individu. Regulasi datang terlambat, lebih sering berfungsi untuk mengesahkan kerugian ketimbang mencegahnya. Setelah semuanya terjadi, yang tersisa hanyalah peringatan. Bukan alarm, tapi lebih mirip dengan batu nisan.

Mengakui kegagalan berarti meruntuhkan identitas yang telah dibangun dengan susah payah. Bagi banyak orang, kehilangan uang masih lebih mudah diterima daripada kehilangan makna. Bertahan pun terasa lebih masuk akal: bukan karena harapan masih ada, melainkan karena mundur berarti mengakui bahwa keyakinan sejak awal salah arah.

Di bursa, bahkan penyesalan bisa diperdagangkan, asal dikemas menjadi konten motivasi. “Cut loss, move on, subscribe.” Tragedi berubah menjadi tutorial. Luka dijadikan likuiditas baru.

Ekonomi perhatian menciptakan hubungan parasosial yang sepihak. Komunitas tertutup dan kanal berbayar menjaga loyalitas. Ketika risiko terwujud, perlindungan bersifat sepihak pula: disclaimer di satu sisi, kerugian nyata di sisi lain. Rasa malu memastikan kegagalan tetap sunyi.

Pertanyaan yang menggantung bukan apakah risiko itu ada, melainkan kapan persuasi berubah menjadi eksploitasi. Saat bias psikologis dimanfaatkan secara sadar dan mimpi dipasarkan tanpa distribusi risiko yang setara, yang bekerja adalah struktur kekuasaan, bukan kesalahan individual.

Yang membuat segalanya semakin suram adalah respons setelah kehancuran terjadi. “High risk, high return” berfungsi sebagai mantra netral yang menutupi pembagian peran yang timpang. Ada yang keluar lebih awal; ada yang diminta bertahan. Semua telah ditentukan jauh sebelum hasil terlihat.

Literasi finansial sering kali hanya memberi nama, bukan membongkar relasi kuasa. Pasar tidak berubah karena dipahami. Pergerakannya terus berlanjut.

Kekerasan jarang terasa sebagai kekerasan saat berlangsung. Kekerasan hadir sebagai rangkaian pilihan kecil yang tampak masuk akal. Tidak ada alarm. Tidak ada lompatan. Hanya waktu, keyakinan, dan keputusan yang diambil tanpa pernah sepenuhnya tahu siapa yang telah menyiapkan arahnya.

Ketika semuanya berakhir, penjelasannya selalu sederhana: risiko, volatilitas, kesalahan personal. Grafik hanya menunjukkan hasil, bukan proses yang membentuknya. Pasar tetap menyebut dirinya rasional. Angka terus bergerak. Hijau dan merah bergantian di layar. Sebagian keluar lebih awal. Sebagian bertahan lebih lama. Sebagian baru menyadari posisinya ketika likuiditas tak lagi berpihak.

Bisa jadi pasar tidak kejam sama sekali. Ia hanya memperlihatkan betapa mudahnya keyakinan dijual, asal kita sendiri bersedia menebusnya secara mahal. Dan jika semua ini terdengar berlebihan, mungkin karena pasar memang tidak pernah dirancang untuk mereka yang masih ingin percaya bahwa keyakinan adalah strategi.

Pada akhirnya, mungkin kita bukan investor. Kita adalah tawanan yang menyusun sendiri penjara dari grafik, mengira setiap candle adalah jalan keluar, padahal cuma lubang kecil untuk melihat orang lain sudah pergi lebih dulu. Layar padam. Tidak ada yang bergerak. Hanya ada kita, dan janji yang sejak awal kosong, di ruang chat yang telah lama dibisukan.

Jadi, apakah pilihan itu punya kita? Rasanya tidak. Kita cuma pion yang bergerak di atas papan yang sudah miring sejak awal. Dan saat harga bergerak berlawanan arah, kita baru sadar: kita bukan pemain, kita cuma penonton yang dipaksa bayar tiket mahal untuk melihat diri kita sendiri kalah.

$BTC $BTCIDR

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy