Kembalinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level all time high merupakan capaian yang signifikan, terutama jika ditempatkan dalam konteks global yang sarat ketidakpastian. Pencapaian ini terjadi di tengah eskalasi risiko geopolitik global, seperti konflik Rusia–Ukraina yang belum menunjukkan resolusi struktural dan terus memengaruhi stabilitas energi Eropa, serta ketegangan di Timur Tengah yang berimplikasi langsung terhadap keamanan jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah—jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia. Selain itu, fragmentasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok terus mendorong restrukturisasi rantai pasok global, meningkatkan biaya produksi dan menciptakan tekanan inflasi di banyak negara berkembang.

Kemampuan pasar saham Indonesia mencetak rekor tertinggi mencerminkan resiliensi fundamental ekonomi domestik. Salah satu penopang utama adalah keberlanjutan agenda hilirisasi sumber daya alam, yang tidak lagi bersifat konseptual, tetapi telah terimplementasi secara nyata. Hilirisasi nikel melalui pengembangan smelter nikel dan fasilitas pengolahan baterai kendaraan listrik telah meningkatkan nilai tambah ekspor dan memperbaiki struktur neraca perdagangan. Selain itu, proyek smelter aluminium dan bauksit yang mulai beroperasi serta ekspansi pengolahan tembaga berkontribusi pada penguatan sektor industri berbasis komoditas bernilai tambah tinggi, mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Stabilitas inflasi yang relatif terjaga dan disiplin fiskal yang konsisten memberikan ruang bagi kebijakan ekonomi untuk tetap kredibel di mata investor. Permintaan domestik yang kuat—ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan belanja infrastruktur—menjadi bantalan penting ketika pertumbuhan global melambat. Dalam konteks ini, kinerja IHSG tidak semata didorong oleh ekspansi valuasi, tetapi juga oleh ekspektasi pertumbuhan laba korporasi, khususnya pada sektor energi, material dasar, perbankan, dan industri terkait hilirisasi.

Partisipasi investor asing yang kembali mencatatkan net buy di tengah volatilitas global menjadi sinyal tambahan bahwa Indonesia dipandang sebagai relative safe emerging market. Arus modal yang masuk dalam kondisi global berisiko tinggi menunjukkan bahwa pasar menilai risiko Indonesia lebih terkendali dibandingkan negara berkembang lain yang menghadapi tekanan eksternal dan fiskal lebih besar.

IHSG yang kembali mencetak all time high seharusnya dibaca sebagai refleksi kepercayaan struktural jangka menengah hingga panjang, bukan sekadar euforia sesaat. Risiko global tentu masih membayangi—baik dari sisi geopolitik, kebijakan moneter global, maupun perlambatan ekonomi dunia. Namun fakta bahwa pasar mampu mencapai rekor tertinggi dalam kondisi global yang tidak kondusif justru mempertegas bahwa fondasi ekonomi Indonesia berada pada jalur yang semakin kokoh dan kredibel di mata pelaku pasar global.

Rantag:
$IHSG $ESTI $INET

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy