"GUE BERHASIL PREDICT SAHAM X NAIK 20% HARI INI!" — TERUS KENAPA, BRO? 🤡
Guegeleng-geleng liat influencer atau self-proclaimed "analis" di sosmed bangga-banggain: "Kemarin gue bilang saham X beli, hari ini ARA 25%! Follow prediksi gue ya!" sambil pamer screenshot. Retail pada heboh, followersnya naik, ego menggelembung. Padahal kalau lo cek orderbook sahamnya? Tipis kayak kertas, market cap cuma ratusan miliar, volume harian cuma puluhan juta shares. Lah itu mah gampang banget dipompom—modal Rp500 juta-1 miliar aja udah bisa geser harga 20% kalau orderbook sepi. Terus lo bangga apa coba? Itu bukan prediksi jago—itu cuma kebetulan masuk saham gorengan yang emang lagi dipompom bandar.
Yang lebih parah lagi: ada yang sengaja pompom saham orderbook tipis pas ada news bagus buat naikin branding. Misal emiten kecil ngumumin kontrak atau akuisisi, langsung mereka teriak "INI BAKAL ROCKET!" sambil guyur modal sendiri atau bareng grup inner circle biar ARA. Screenshot beredar, retail FOMO masuk—ehh besoknya bandar kabur, harga jeblok, orderbook buyer hilang semua. Yang untung? Si pompom dan gengnya yang udah masuk dari bawah. Yang boncos? Retail yang telat masuk gara-gara percaya "prediksi akurat." Terus mereka bilang: "Yah sayang profit taking, tapi gue udah kasih tau kan naik!" Lah lo kan yang bikin naik, bro—bukan prediksi, tapi manipulasi. Bangga apa coba sama branding yang dibangun dari menjebak orang lain?
Jadi mulai sekarang: jangan kagum sama influencer yang cuma jago predict saham receh ARA. Coba suruh mereka predict $BBRI, $BMRI, atau $TLKM yang orderbook-nya tebal dan market cap puluhan-ratusan triliun—pasti gak berani, gara-gara gak bisa dipompom. Kalau lo mau follow prediksi orang, cek dulu: sahamnya liquid atau gorengan, orderbook tebal atau tipis, dia masuk duluan atau bareng lo, dia exit kapan atau kabur diam-diam. Jangan jadi exit liquidity buat orang yang cuma cari followers dari kantong lo yang bolong.
🚀 RocketStock