$IPCM - Belajar Parkir Kapal #1 : Apakah Bisnisnya Stagnan?

Di saat stockbitor lain sibuk membahas kapal-kapal oil related yg sudah terasa hot stock, saya malah lebih tertarik memperhatikan kapal “tukang parkir” yg tidak atau belum kemana-mana, selalu dekat pelabuhan.

Jadi, pd seri kali ini sy tidak akan membahas tanker raksasa bermuatan minyak lintas benua seperti $BULL, bukan kapal kontainer seperti $SMDR atau kapal komoditas dgn story siklus tarif yg naik turun. Melainkan, kapal kecil yg tugasnya sederhana, hanya mengantar dan membantu kapal lain parkir dgn selamat.

Apapun isi kapalnya, batubara, nikel, LNG, semen, bahkan kosong sekalipun, tetap harus dibantu masuk dan keluar pelabuhan. Dari situ ketertarikan sy ke IPCM bermula.

Awal 2022 ketika sy mulai mempelajarinya, kesan pertama yg muncul justru bukan kagum, tapi ragu. Bisnis jasa pandu dan tunda terdengar membosankan. Tidak ada cerita ekspansi dramatis, tidak ada lonjakan volume karena harga komoditas, dan hampir tidak pernah masuk headline. 😅

Kalau dilihat sekilas, wilayah operasinya pun tampak “itu-itu saja”, mayoritas berada di area Pelindo. Dari sini muncul pertanyaan paling mendasar.

Apakah ini bisnis yg stagnan?

Untuk menjawabnya, sy mencoba mundur ke periode paling tidak ramah bagi industri pelabuhan, yakni tahun 2020 saat pandemi. Saat itu mobilitas global terhenti, arus barang melambat, dan banyak bisnis logistik terpukul keras.

Namun berdasarkan data kinerja yg dipaparkan IPCM dalam public expose 2025 (lihat lampiran gambar), pendapatan perusahaan di tahun 2020 masih berada di kisaran Rp697 miliar dgn laba bersih sekitar Rp80 miliar. Ini jelas bukan angka puncak, tapi yg menarik, bisnis ini tetap mencetak laba ketika banyak sektor lain terseok.

Dari sini saya mulai menangkap satu karakter penting. Jasa pandu dan tunda bukan bisnis yg hilang saat krisis, melainkan bisnis yg melambat tapi tetap berjalan. Selama pelabuhan tidak tutup total, kapal tetap datang dan pergi, dan jasa ini tetap dipakai.

Masuk ke 2021 dan 2022, saat aktivitas ekonomi mulai pulih, pola yg terlihat bukan lonjakan tiba-tiba, melainkan kenaikan bertahap. Pendapatan naik ke sekitar Rp820 miliar di 2021 lalu mendekati Rp980 miliar di 2022. Laba bersih ikut meningkat menjadi Rp137 miliar dan sekitar Rp151 miliar di periode yg sama.

Secara sederhana, dalam dua tahun pasca pandemi, pendapatan IPCM tumbuh sekitar 40% sementara laba bersihnya hampir dua kali lipat. Data ini seluruhnya bersumber dari paparan manajemen dalam rangkaian public expose dan laporan kinerja perseroan.

Yang menarik, pertumbuhan ini terjadi tanpa perubahan model bisnis. Tidak ada akuisisi besar, tidak ada diversifikasi ke bisnis baru, dan tidak ada cerita tarif melonjak drastis. Kurvanya tenang, menanjak, dan konsisten.

Di titik ini, kata stagnan mulai terasa kurang tepat. Yang lebih mendekati justru bisnis dgn karakter repeat order. Kapal datang, kapal pergi, jasa dipakai. Tidak peduli apakah ekonomi sedang bagus atau sedang menahan napas.

Hal ini juga berkali-kali ditegaskan manajemen dalam sesi tanya jawab pubex, bahwa selama pelabuhan beroperasi, jasa pandu dan tunda akan tetap dibutuhkan. Itu bukan asumsi, tapi realita operasional.

Menariknya lagi, jika melihat data segmen pendapatan, khususnya layanan pilotage dan towage di wilayah Pelindo, pertumbuhannya memang relatif tipis dari tahun ke tahun. Contohnya pada perbandingan Q2 2024 dan Q2 2025, layanan pilotage Pelindo hanya tumbuh di kisaran nol koma sekian persen, sebagaimana dipaparkan dalam pubex 2025.

Sekilas, data ini bisa memperkuat anggapan stagnan. Tapi jika dilihat dgn sudut pandang berbeda, justru di sinilah terlihat fondasi bisnisnya. Area Pelindo adalah pasar yg sudah matang. Tidak tumbuh cepat, tapi jg tidak mudah turun. Volume stabil, utilisasi terjaga, dan jasa tetap dipakai.

Di fase ini saya mulai melihat IPCM bukan sebagai perusahaan yg “tidak tumbuh”, melainkan perusahaan yg sejak awal dibangun utk tidak mudah jatuh. Karakter bisnisnya bukan eksplosif, tapi defensif.

Bahkan di tahun pandemi, arus kas dan laba tetap terjaga. Ini bukan keunggulan yg sering digembar-gemborkan market, tapi sering diam-diam diakumulasi oleh investor yg mencari bisnis dgn daya tahan jangka panjang.

Jadi, apakah bisnis IPCM stagnan? Jika stagnan diartikan sebagai tidak punya cerita spektakuler, mungkin iya. Tapi jika stagnan diartikan sebagai tidak bergerak dan tidak berkembang, data justru berkata sebaliknya.

IPCM bergerak pelan, konsisten, dan nyaris tanpa drama. Dan justru dari sini, rasa penasaran saya makin besar. Kalau bisnisnya tidak runtuh saat krisis dan tetap tumbuh saat normal, maka pertanyaan berikutnya menjadi relevan.

Bisakah bisnis seperti ini terus bertumbuh?

Pertanyaan itu akan saya coba jawab di bagian berikutnya.

Disclaimer: Catatan ini adalah refleksi penulis berdasarkan data publik, laporan keuangan, dan observasi lapangan. Bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab masing-masing. Do your own research.

Read more...

1/2

testes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy