imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

#CoolingDown!

Ritual Sang Pemuja Moving Average
Episode 1: Weekend yang Hampa.

Weekend pagi. Matahari bersinar cerah, burung berkicau, tapi dunia Bambang terasa hitam putih. Ia menatap layar ponselnya—aplikasi trading berwarna biru gelap itu menampilkan tulisan yang paling ia benci: "Market Closed."

Bambang menghela napas panjang. Ia merasa seperti astronot yang terputus komunikasinya dengan bumi. Ia mencoba makan siang dengan ibunya, tapi pikirannya melayang. Ibunya bertanya, "Bambang, kok nasinya nggak dimakan?"
Bambang menjawab lirih, "Nunggu konfirmasi breakout dulu, Bu..."
Ibunya hanya bisa mengelus dada, mengira anaknya sedang ikut sekte sesat. Bagi Bambang, akhir pekan adalah padang pasir yang tandus tanpa oase fluktuasi.

Episode 2: Senin Pagi yang Berdarah

Senin, pukul 08.59 WIB. Bambang sudah duduk tegak, jari telunjuknya gemetar di atas layar ponsel. Keringat dingin menetes. Detik jam dinding terdengar seperti bom waktu.

09.00! Layar ponselnya meledak. Warna hijau dan merah berkedip liar. Saham pilihannya, PT. Angin Ribut Sejahtera (ARTO-RTOnan), tiba-tiba melonjak 5%.
"Ayo terbang ke bulan!" teriak Bambang. Jantungnya berdegup kencang, lebih cepat dari tempo lagu heavy metal. Adrenalin membanjiri pembuluh darahnya. Ia merasa hidup kembali.

Namun, drama dimulai. Pukul 09.15, sebuah berita muncul: CEO PT. Angin Ribut lupa bayar listrik kantor.

Grafik yang tadinya tegak lurus ke atas, tiba-tiba menukik tajam seperti terjun bebas tanpa parasut. Portofolionya yang tadi hijau segar, kini berubah menjadi merah membara seolah sedang mengejeknya.

Episode 3: Pencerahan di Tengah Panic Sell.

Di tengah kepanikan itu, Bambang melihat jarinya hendak menekan tombol "Sell" karena takut. Tapi ia teringat sebuah pesan bijak:

"Pasar saham adalah alat untuk memindahkan uang dari orang yang tidak sabar ke orang yang sabar." — Warren Buffett.

Bambang menarik napas dalam-dalam. Ia menyadari kesalahannya selama ini:

FOMO (Fear of Missing Out): Dia beli hanya karena takut ketinggalan tren tanpa analisa.

Emosi vs Logika: Dia memperlakukan saham seperti judi, bukan investasi.

Risk Management: Dia lupa memasang Stop Loss karena terlalu optimis.

Ia memutuskan untuk tenang. Ia tidak menjual di harga bawah karena panik (Panic Selling), melainkan mengevaluasi fundamental perusahaan tersebut. Ternyata, urusan listrik hanyalah masalah teknis kecil, bukan kehancuran bisnis.

Penutup: Candu yang Indah
Sore hari saat bursa tutup, Bambang terduduk lemas namun tersenyum. Jantungnya masih sedikit bergetar. Rasanya melelahkan, menguras emosi, dan terkadang menyakitkan. Tapi, sensasi menganalisis, memprediksi, dan bertarung dengan psikologi diri sendiri itu... nagih.

Bambang menatap layar yang kini diam. "Sampai jumpa besok, wahai grafik kesayanganku," bisiknya. Ia pun kembali ke dunia nyata, setidaknya sampai esok pagi jam 9.

Tag: $BUMI $BRMS $DEWA

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy