Popcorn Mahal dan Layar Lebar
Sejujurnya saya agak heran melihat reaksi pasar yang terlalu sensitif saat mendengar laba bersih $CNMA terkoreksi sekitar enam belas persen pada kuartal ketiga tahun lalu. Banyak yang mendadak pesimis padahal kalau kita main ke mal di akhir pekan antrean di depan loket Cinema XXI masih mengular panjang. Angka di kertas memang sering kali menipu jika kita tidak melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik pintu studio. Penurunan laba itu bukan karena orang berhenti menonton tapi lebih karena biaya operasional yang membengkak akibat ekspansi ugal-ugalan dan pergeseran selera penonton yang mulai jenuh dengan film impor yang formulanya begitu begitu saja. Kita sedang berada di awal tahun dua ribu dua puluh enam dan narasi besarnya bukan lagi soal apakah bioskop akan mati digilas streaming tapi soal seberapa kuat masyarakat kita bertahan untuk tetap mencari hiburan di tengah tekanan ekonomi.
Jika kita mau jujur CNMA ini sebenarnya bukan perusahaan film dalam arti yang murni melainkan perusahaan kuliner yang kebetulan punya layar besar. Saya tidak bercanda karena kalau kalian perhatikan laporan keuangannya margin dari jualan popcorn dan minuman itu jauh lebih gurih dibandingkan bagi hasil dari tiket nonton. Kontribusi makanan sudah menembus sepertiga dari total pendapatan dan trennya terus naik. Ini adalah strategi yang sangat cerdas karena saat harga tiket sulit dinaikkan karena sensitivitas daya beli mereka tinggal memainkan aroma karamel di lobi untuk memancing penonton mengeluarkan uang tambahan. Investor ritel sering kali terjebak pada angka jumlah penonton padahal variabel yang lebih penting adalah seberapa banyak uang yang dihabiskan satu orang di dalam area bioskop tersebut.
Bicara soal daya beli belakangan ini banyak yang bicara soal pelemahan ekonomi kelas menengah dan angka inflasi yang meskipun sudah di bawah tiga persen tetap terasa menyesakkan di kantong. Namun ada anomali menarik di sini yang sering disebut sebagai ekonomi kesenangan skala kecil. Saat orang tidak mampu mencicil rumah baru atau membeli mobil mereka akan melampiaskannya pada hiburan yang terjangkau. Menonton film dengan harga tiket lima puluh ribu rupiah masih dianggap sebagai kemewahan yang bisa dibeli. Itulah alasan mengapa pendapatan mereka tetap tumbuh tipis meskipun laba bersihnya agak tertekan. Kita tidak sedang melihat bisnis yang sekarat tapi bisnis yang sedang menyesuaikan diri dengan realitas baru di mana film lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Manajemen terlihat sangat percaya diri dengan rencana menambah ratusan layar baru di berbagai kota kecil. Saya pribadi agak skeptis apakah daya beli di kota lapis ketiga akan sekuat di kota besar dalam jangka panjang. Namun kebijakan mereka membagikan dividen yang sangat besar bahkan mencapai seluruh laba bersih tahun sebelumnya seolah ingin menunjukkan bahwa kas mereka sangat tebal. Ini adalah sinyal yang ambigu antara memang sangat royal atau memang mereka sudah tidak tahu lagi harus diapakan uang sebanyak itu selain untuk ekspansi fisik. Risiko terbesarnya tetap ada pada kejenuhan konten karena sebagus apa pun studionya kalau film yang diputar membosankan orang tetap akan memilih tinggal di rumah menonton YouTube.
Berinvestasi di saham ini adalah soal percaya pada insting dasar manusia yang selalu butuh pelarian sosial. Layar ponsel mungkin semakin jernih dan platform streaming semakin banyak tapi rasa duduk di kursi empuk dengan tata suara yang menggetarkan dada tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma. CNMA sedang bermain di zona nyaman yang sangat kokoh namun mereka juga harus waspada jangan sampai terlena dengan kejayaan masa lalu. Kita hanya perlu melihat apakah di kuartal mendatang popcorn mereka masih tetap sewangi sekarang atau justru mulai hambar karena penonton mulai merasa harganya sudah tidak masuk akal lagi bagi kantong mereka.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$BLTZ $FILM