Rally Lazarus: Kisah Angka, Narasi, dan Seni Tidak Ditipu
Seorang influencer memberitahu ribuan pengikutnya bahwa Lazara Corp sedang membangun kembali namanya, meski masa lalunya penuh janji-janji palsu. Pengikutnya percaya karena para tetua komunitas mereka juga bersaksi. Harga Lazara melambung. Semua orang bahagia.
Perjamuan di Atas Kapal yang Bocor: Sebuah Alegori Pasar
Di awal tahun 2026, Bursa Efek Indonesia menyaksikan sebuah drama yang ganjil. Sebuah grup konglomerat lama—yang selama dua dekade lebih dikenal karena kegagalannya membayar utang daripada inovasi produknya—tiba-tiba menjadi primadona. Saham-saham yang bertahun-tahun mati suri di harga "gocap," mendadak melompat ratusan persen. Volume perdagangan meledak ratusan persen, dan ratusan ribu investor ritel baru berbondong-bondong masuk, seolah-olah sedang ada pembagian harta karun gratis.
Seorang analis risiko junior bernama Rama menatap layar yang terlihat seperti erupsi digital. Lima saham milik Grup Lazara bergerak bersamaan, menggambar grafik vertikal. Volume melonjak ratusan persen. Harga dari 50-100an kini 500-750. Yang tadinya forgotten tickers kini mewarnai jajaran saham dengan pemegang terbanyak.
Di sana ada MERA (holding tambang), KOCO (jasa kontraktor), LAZA (induk konglomerat), GEMA (properti), dan VOLTA (impor EV). Semua multibagger dalam dua pekan.
Tapi laporan keuangannya bisu: ROA -2.46%, ROE -5.25%, laba minus, arus kas bebas negatif, P/E -151x. Angka-angka yang terdengar seperti lelucon buruk jika dibaca tanpa emosi.
Rama penasaran. Ia gali lebih dalam, dan menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada grafiknya: orang-orang yang menjelaskannya. Ternyata hiruk pikuk itu tidak lepas dari kemunculan para "Nabi Baru" di kanal Telegram dan media sosial, 1-2 tahun ke belakang. Mereka tidak berbicara tentang laba bersih atau efisiensi operasional. Mereka berbicara tentang "Conviction" (Keyakinan).
Mantra Sang Influencer
Di komunitas tertutup, influencer bernama Pak Hadi bercerita dengan nada lembut. Ia membagi dunia: Tipe 1 fokus harga, Tipe 2 fokus cerita. "Pasar bukan matematika, melainkan arena psikologi massal. Multibagger lahir dari momen pasar mengubah pikiran, bukan dari rumus."
Ia melempar contoh: KOCO yang jatuh tapi naik lagi setelah kuartal rilis. LAZA yang turun karena MSCI tapi naik lagi saat IPO anak usahanya datang. Semua dengan screenshot sempurna.
"Saya berkompetisi dengan diri masa lalu. Dulu valuasi, sekarang growth story. Jangan fokus pada harga," bisik sang ketua komunitas kepada pengikutnya yang setia. "Pasar itu bukan matematika. Ini adalah seni membaca manusia. Jika kalian hanya melihat angka, kalian akan tertinggal. Lihatlah story-nya. Lihatlah kedekatan mereka dengan penguasa. Ini adalah tentang membangun kembali reputasi."
Pengikut seperti Bu Maya, Mas Rudi, Om Joni berkata, "Terima kasih, Pak. God bless."
Bagi para pengikutnya, kata-kata ini adalah pencerahan. Mereka merasa menjadi bagian dari kelompok elite yang "paham" sebelum orang lain tahu. Mereka mengabaikan logika demi sebuah narasi: bahwa perusahaan yang konsisten menukar utangnya menjadi saham (debt-to-equity swap) sedang melakukan transformasi agung.
Realitas di Balik Cadar Narasi
Namun, ketika seorang investor yang jeli mencoba menyibak cadar narasi tersebut, ia menemukan pemandangan yang mengerikan di balik "dapur" perusahaan. Laporan keuangan mereka tidak menunjukkan pertumbuhan; yang ada justru pendarahan.
Return on Assets (ROA) negatif, Free Cash Flow hangus, dan Margin Operasional yang terus menyusut.
Valuasi EV/EBITDA mencapai angka yang tidak masuk akal bagi perusahaan yang merugi.
Rama tidak percaya pada cerita. Ia percaya pada jejak. Ia gali sejarah Grup Lazara. Pola yang lebih konsisten daripada pertumbuhannya: default utang sejak 2001. Private settlement. PKPU. Debt-to-equity swap. Lagi, dan lagi, selama 20 tahun.
Setiap utang jatuh tempo, jawabannya bukan memperbaiki operasi, tapi menukar utang dengan saham. Kreditor jadi pemegang saham. Saham didistribusikan. Harga ditekan. Lalu—ketika waktunya tepat—narasi baru. Volume naik. Retail masuk. Kreditor lama keluar. Siklus ulang.
Mengapa saham yang paling konsisten gagal bayar utang, justru paling cepat tarik ribuan pemegang baru? Secara teknis, perusahaan ini tidak sedang tumbuh. Mereka sedang melakukan "Restrukturisasi Abadi." Lonjakan volume dan kenaikan harga yang "ajaib" itu bukanlah cerminan nilai perusahaan, melainkan Mekanisme Pintu Keluar. Para kreditor yang dulu terjebak dengan piutang tak tertagih, kini memegang saham hasil swap. Mereka butuh "pesta" yang cukup ramai agar mereka bisa menjual saham-saham tersebut kepada ritel tanpa menjatuhkan harga. Narasi sang influencer adalah "musik" yang memastikan pesta tetap ramai hingga semua barang terjual habis.
Tamu Tak Diundang
Rama bermimpi masuknya seorang pria tua berkacamata tebal. Charlie Munger duduk di hadapannya, mengamati data Grup Lazara dengan tatapan tajam. Ia melihat ke sekeliling—melihat influencer yang berorasi, ritel yang kegirangan, dan laporan keuangan yang berdarah di atas meja.
"Ini bukan growth story—ini adalah bullshit story," kata Munger. "Dan Anda harus malu jika tidak bisa membedakannya."
Dia membalik pertanyaan dengan inversion: "Bukan 'kenapa ini bagus?' tapi 'apa yang harus terbukti SALAH agar saya yakin ini buruk?' Semua bukti menunjukkan equity destruction. Tidak ada positive evidence. Maka ini adalah default no."
Munger menyebutkan semua bias:
Incentive-caused bias: Pak Hadi dibayar dengan early entry, bukan performance. "Show me the incentive, I'll show you the outcome."
Social proof: "Kampung orang bodoh tidak pernah menghasilkan kebijaksanaan."
Liking tendency: "Jika Anda membutuhkan 'om', bukan analisis, Anda adalah bagian dari masalah."
Bagi Munger, pemandangan ini bukan seni. Ini adalah tragedi yang bisa diprediksi. Ia tidak butuh algoritma rumit untuk tahu bahwa kapal ini sedang bocor. Ia hanya perlu satu fakta: manajemen ini sudah gagal menghasilkan uang selama 20 tahun
Dia menjelaskan mekanismenya tanpa ampun: "Ini adalah distressed equity promotion. Saham MERA, KOCO, LAZA hidup bukan karena bisnisnya sehat, tapi karena restrukturisasi utang untuk membuatnya tetap hidup. Setiap debt-to-equity swap menciptakan pasokan saham baru ke kreditor. Influencer adalah distribution channel. Volume spike bukan tanda conviction, tapi liquidity for exit."
Dia menggunakan metafora favoritnya: "Jika Anda punya sapi yang tidak bisa menghasilkan susu, Anda jual dagingnya. Anda tidak terus pelihara sambil berkata 'sapi ini punya story'." MERA, KOCO, LAZA adalah sapi itu.
Munger menghitung expected value dengan cepat: "Probabilitas gagal 80%, kerugian 90%. Probabilitas sukses 20%, untung 300%. Expected return minus 20%. Ini bukan investasi—ini lotre. Tapi lotre tidak mengaku sebagai high-conviction play."
"Jika Anda harus mengabaikan matematika dasar untuk percaya pada sebuah investasi," ujar Munger dengan tajam, "Anda tidak sedang berinvestasi. Anda sedang melakukan ritual pemujaan. Menaruh uang pada perusahaan yang hanya bertahan hidup dengan menukar utang menjadi saham adalah seperti mencoba membangun katedral di atas rawa. Tidak peduli seberapa indah arsitekturnya, rawa itu akan menelannya."
Dia menegaskan: "Jika Anda membeli ini, Anda bukan investor—Anda adalah enabler penipuan. Anda memberi liquidity ke promotor untuk dump saham hasil swap utang. Anda tidak hanya merusak portofolio Anda—Anda merusak pasar."
Akhir dari Perjamuan
Munger berbalik pergi, tidak peduli meski harga saham masih terus naik esok harinya. Baginya, "Conviction" tanpa kesehatan keuangan hanyalah delusi. Ia tahu bahwa dalam setiap skema di mana "Story" dipuja lebih tinggi daripada "Laba," yang tersisa di akhir cerita hanyalah pemegang saham ritel yang memegang lembaran kertas berharga mahal, sementara para kreditor dan market maker yang menjadi pembantu mereka sudah lama melompat keluar melalui pintu belakang yang sudah disiapkan oleh volume perdagangan yang tinggi.
Pesta itu akan berakhir saat musik narasi berhenti berputar, dan matematika—yang tadinya dihina—kembali datang untuk menagih janji.
Rama menyadari: conviction sejati bukan pada cerita atau harga, tapi pada proses berpikir.
Jika prosesnya—angka, sejarah, logika, falsifiability—menolak MERA, KOCO, LAZA, GEMA, VOLTA, maka conviction adalah pada proses. Itu edge sustainable.
Yang terjadi di Grup Lazara bukan growth. Ini financial engineering cycle yang hasilkan temporary liquidity premium. Ekosistem sempurna: utang → saham → narasi → retail → exit → ulang lagi.
Saham itu Lazarus: bangkit dari mati, tapi tak pernah sehat. Bangkit karena social media dopamine, bukan obat.
Rama punya pilihan: Tipe 1 (harga), Tipe 2 (cerita), atau Tipe 3 (evidence). Munger pilih Tipe 3. Maka sekarang giliran Rama pilih Tipe 3.
$IHSG $DMAS $CTRA
