Saham yang Diborong Aseng Tapi Harganya Masih anjlok 16 Januari 2026
Lanjutan dari postingan sebelumnya di External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Banyak saham yang beberapa hari terakhir ini diborong aseng tapi harganya masih anjlok. Kalau investor menganggap net foreign buy itu tombol ajaib yang otomatis bikin harga naik, investor sedang menipu diri sendiri. Aseng itu jarang beli ketika semua orang sudah yakin, mereka lebih sering nyicil saat suasana pasar masih kusam dan yang jual masih lebih berisik daripada yang beli. Dalam fase seperti ini, aksi beli asing justru sering muncul bersamaan dengan harga yang tetap turun, karena akumulasi mereka pelan, sementara supply dari ritel yang kapok masih deras. Dan di sinilah bagian paling penting, posisi menentukan opini, karena data yang sama bisa terlihat menarik untuk investor value, terlihat wajar untuk investor dividend, tapi terlihat berbahaya untuk investor yang alergi risiko. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara statistik paling simpel, dari 9 saham yang kita bahas, 8 saham return 1 tahun masih negatif, hanya CPIN yang hampir datar. Rentang penurunannya lebar, dari -0,65% sampai -40,54%. UCID paling anjlok -40,54%, ARTO -25,00%, GDYR -17,65%, SILO -15,58%, $MAPI -13,87%, BJBR -9,68%, $SIDO -8,47%, $PTBA -8,24%, dan CPIN -0,65%. Sementara itu net foreign buy streak bergerak 4 sampai 12 hari, dengan GDYR paling panjang 12 hari, SIDO 9 hari, CPIN dan SILO 8 hari, UCID dan PTBA 6 hari, MAPI dan ARTO 5 hari, BJBR 4 hari. Ini menunjukkan satu pola trend yang konsisten. Streak asing lebih cocok dibaca sebagai tanda ada yang sedang mengumpulkan, bukan tanda harga sudah selesai turun. Harga itu bisa tetap lemah sampai supply berkurang dan pasar mulai percaya lagi.
Kalau kita geser fokus ke trend laba, baru kelihatan bahwa daftar ini bukan satu jenis cerita, melainkan campuran beberapa dunia yang berbeda. Ada kelompok laba besar di atas 1 Triliun, yaitu CPIN sekitar 3,37 Triliun, PTBA sekitar 1,39 Triliun, dan MAPI sekitar 1,37 Triliun. Di bawahnya ada kelompok laba menengah di sekitar 0,7 sampai 0,8 Triliun, yaitu SIDO sekitar 0,82 Triliun, BJBR sekitar 0,79 Triliun, SILO sekitar 0,76 Triliun. Lalu ada GDYR yang labanya kecil sekitar 55 Miliar, dan UCID yang justru rugi sekitar -96 Miliar. Kalau investor hanya melihat harga yang sama-sama turun, investor akan salah menyamaratakan. Karena penurunan CPIN misalnya, tidak sama akarnya dengan penurunan UCID, meski dua-duanya sama-sama pernah dibeli asing beberapa hari. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Lalu masuk ke valuasi, di sini trend-nya pecah jadi dua kutub besar. Kutub pertama adalah yang murah versi PBV di bawah 1, yaitu UCID 0,32, GDYR 0,43, BJBR 0,52. Ini wilayah favorit investor value, karena secara teori margin of safety lebih besar. Tapi murah itu bukan sinonim aman. UCID murah karena PER -14,29 artinya rugi, jadi ini murah karena pasar sedang menghukum profit yang rusak. GDYR murah dengan PER 5,89, tapi labanya kecil dan tidak bagi dividen, jadi ini lebih mirip tiket turnaround. BJBR murah dengan PER 8,38 dan dividend tinggi, tapi ada beban struktur utang dan arus kas yang bikin diskon tersebut terasa logis. Kutub kedua adalah yang mahal versi PBV di atas 3, yaitu SIDO 4,74, SILO 3,61, ARTO 3,02. Ini bukan value play, ini premi untuk kualitas atau pertumbuhan. Dalam trend pasar yang risk-off, saham premium seperti ini bisa turun lama, bukan karena bisnisnya runtuh, tapi karena ekspektasi yang dulu terlalu tinggi sedang dipangkas.
Dividen menambah lapisan penting karena dia memisahkan saham yang memberi cash ke investor dari yang murni mengandalkan capital gain. PTBA tampil paling agresif dengan dividend yield 13,57% dan streak 17 tahun. BJBR juga tinggi dengan yield 10,15% dan streak 15 tahun. SIDO yield 7,96% dan streak 12 tahun. CPIN lebih moderat, yield 2,36% tapi streak 16 tahun. MAPI kecil yield 0,85% streak 3 tahun. UCID masih punya yield 3,83% streak 6 tahun, sementara GDYR, SILO, ARTO nol. Trend yang sering bikin orang terkejut adalah ini. Dividend tinggi tidak menghentikan harga turun, karena harga tetap digerakkan oleh siklus sektor dan persepsi risiko. Dividend itu membantu investor bertahan dan memberi bantalan, tapi tidak menjamin harga cepat pulih.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian utang dan cashflow biasanya yang paling jujur, karena di sinilah kualitas laba diuji. CPIN punya net debt sekitar 2,88 Triliun, tetapi free cash flow sekitar 4,61 Triliun. Secara statistik, ini kombinasi yang enak karena utang terbayar oleh kemampuan cashflow, sehingga risiko finansial relatif terkendali. PTBA bahkan lebih nyaman, net debt sekitar 62 Miliar, nyaris nol, sementara free cash flow sekitar 2,60 Triliun. Ini menjelaskan kenapa dividend PTBA bisa besar dan terasa masuk akal. MAPI juga kuat, net debt sekitar -0,53 Triliun artinya kas bersih, dan free cash flow sekitar 3,55 Triliun. Data ini menyiratkan bahwa turunnya MAPI lebih banyak karena sentimen konsumsi daripada krisis napas kas. SIDO pun kas bersih, net debt sekitar -0,77 Triliun dengan free cash flow sekitar 1,22 Triliun. Itu sebabnya SIDO sering dipandang defensif, hanya saja PBV mahal membuatnya rentan terkoreksi ketika pasar lagi pelit memberi premi.
Di sisi yang lebih rawan, data cashflow memberi alarm yang tidak bisa ditutup dengan narasi. UCID memang kas bersih besar, net debt sekitar -1,64 Triliun, tetapi free cash flow sekitar -230 Miliar dan laba YTD rugi. Ini adalah pola value trap potensial, kelihatan murah, kelihatan banyak kas, tapi bisnis sedang menggerus kas. GDYR kas bersih juga, net debt sekitar -0,14 Triliun, namun free cash flow cuma sekitar 5 Miliar, kecil sekali. Ini menjelaskan kenapa meski asing net buy streak 12 hari, harga tetap bisa lemah. Karena turnaround butuh mesin cash yang lebih tebal atau katalis yang jelas, bukan sekadar valuasi murah. BJBR punya laba besar dan dividend tinggi, tetapi net debt sekitar 10,04 Triliun dan free cash flow sekitar -1,96 Triliun, sehingga secara profil risiko, ini bukan sekadar saham dividend, ini saham dividend dengan risiko pendanaan dan dinamika arus kas yang harus dipahami. Untuk ARTO, net debt sekitar -11 Miliar artinya hampir net cash, free cash flow sekitar 1,92 Triliun, jadi napas kasnya lumayan, tetapi PER 99,45 membuatnya sangat sensitif terhadap ekspektasi pertumbuhan. SILO punya net debt sekitar 0,83 Triliun dan free cash flow sekitar 0,56 Triliun, sementara valuasi PER 33,31 dan PBV 3,61. Ini growth play dengan leverage yang nyata dan tanpa dividend, jadi wajar jika harganya gampang berayun. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari gabungan semua trend ini, posisi menentukan opini jadi terasa sangat nyata. Investor yang posisinya cari mesin uang dan cashflow akan cenderung nyaman di CPIN, PTBA, juga MAPI, dan melihat penurunan mereka sebagai peluang bertahap karena cashflow besar mendukung cerita. Investor dividend akan tergoda oleh PTBA, BJBR, SIDO karena yield 7,96% sampai 13,57% terlihat seperti dibayar untuk menunggu, tetapi harus sadar bahwa yield tinggi bisa datang bersama risiko siklus atau risiko struktur. Investor growth akan melihat ARTO dan SILO sebagai taruhan masa depan, namun harus siap dengan volatilitas karena valuasi mahal dan dividend nol membuat harga sangat bergantung pada ekspektasi. Investor turnaround spekulatif akan melirik GDYR karena PBV 0,43 dan PER 5,89, tapi harus menerima kenyataan bahwa cashflow-nya sangat tipis. Sementara itu, investor yang konservatif biasanya akan menahan diri dari UCID sampai rugi dan free cash flow negatifnya selesai, karena murah saja tidak cukup jika mesin kas sedang bocor.
Jadi, kenapa beberapa hari terakhir asing bisa memborong tapi harga masih anjlok? Karena ini fase perebutan stok, bukan fase pesta. Selama penjual masih dominan, harga bisa tetap ditekan, dan asing bisa tetap beli tanpa pernah terlihat mengangkat harga. Yang membedakan peluang dari jebakan adalah kemampuan saham itu menghasilkan laba yang sehat, cashflow yang nyata, utang yang masuk akal, dan dividend yang sesuai kemampuan. Di data ini, ada yang laba besar dan cashflow tebal sehingga penurunan lebih mirip diskon sentimen, ada yang turnaround karena valuasi murah tapi napas kas tipis, dan ada yang murah namun berisiko karena cashflow negatif. Kalau investor memahami posisi sendiri, opini akan terasa logis. Kalau investor tidak tahu posisinya, data yang sama hanya akan bikin bingung dan mudah kebawa emosi.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU