imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$TBLA

Berikut analisis dampak kebijakan pemerintah yang menunda mandatory biodiesel B50 terhadap emiten PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dan perkiraan profit TBLA di tahun 2025 berdasarkan data industri teraktual: 


📉 Dampak Penundaan Mandatori B50 terhadap TBLA;
1. Permintaan biodiesel domestik tumbuh lebih lambat
• Pemerintah memutuskan menunda penerapan mandatori B50 pada 2026 dan mempertahankan mandatori B40 untuk 2026 dengan alasan kesiapan teknis dan pendanaan. 
• Penundaan ini mengurangi potensi kenaikan serapan crude palm oil (CPO) domestik hingga sekitar tambahan ±2,2 juta ton yang semula diharapkan dari B50. 
• Bagi TBLA, yang merupakan pemain besar di segmen biodiesel (FAME), kebutuhan biodiesel dalam negeri akan tumbuh lebih moderat dibanding skenario B50. Hal ini berpotensi mengurangi upside volume penjualan biodiesel dibanding ekspektasi awal pasar.

2. Harga sawit dan biodiesel berpotensi lebih volatil
• Penundaan B50 memberi sinyal kepada pasar global bahwa serapan domestik tidak sebesar ekspektasi sebelumnya, sehingga harga minyak sawit (CPO) cenderung melemah atau lebih volatil. 
• Harga CPO dan produk turunannya (termasuk biodiesel) sangat memengaruhi margin operasional TBLA. Penurunan harga CPO bisa menekan margin jika tidak diimbangi efisiensi biaya produksi.

3. Subsidi dan pendanaan program biodiesel lebih terkendali
• Fokus di B40 berarti beban subsidi biodiesel BPDP tetap berada pada level yang relatif bisa dikelola saat ini, sehingga risiko finansial terhadap pabrikan biodiesel—termasuk TBLA—lebih rendah dibanding skenario B50 yang membutuhkan dana subsidi jauh lebih besar. 
• Ini positif bagi TBLA karena mengurangi risiko perubahan kebijakan subsidi yang drastis.

👉 Intinya: penundaan B50 memperlambat pertumbuhan volume biodiesel domestik yang bisa diserap TBLA, tetapi mengurangi risiko volatilitas dan tekanan subsidi yang ekstrem di jangka pendek.


📊 Kapasitas Produksi TBLA dan Implikasinya
• TBLA telah menyelesaikan pabrik biodiesel keduanya dan kini memiliki total kapasitas produksi ±765 ribu ton per tahun. 
• Dengan kapasitas ini, TBLA secara teknis siap mendukung kenaikan mandatori biodiesel di masa depan—baik B40 maupun ketika B50 kembali dibahas. 
• Saat ini pabrik biodiesel TBLA baru digunakan sekitar ±82% dari kapasitas mereka, artinya masih ada spare capacity yang bisa menyerap kontrak baru bila permintaan naik. 


💰 Perkiraan Profit TBLA Tahun 2025

Karena laporan keuangan resmi penuh belum tersedia, kita gunakan perkiraan berbasis indikator industri dan proyeksi analis:

📌 Asumsi & Proyeksi

Komponen Estimasi
Perkiraan Revenue 2025 ±Rp22 triliun (proyeksi) 
Net Profit Margin (2025) ±4,3% (lebih tinggi dari 2024) 
Estimasi Laba Bersih 2025 ±Rp0,95 triliun*

*Perkiraan: Rp22 triliun × 4,3% ≈ Rp0,946 triliun

📊 Proyeksi Berdasarkan Kinerja Q1–Q3 2025
• Per kuartal III 2025, TBLA menunjukkan kenaikan laba bersih sekitar +25,8% yoy dan ROE yang bisa mencapai 12–15% bila momentum kuat berlanjut. 
• Kenaikan ASP biodiesel serta produk kebun (CPO, PKO) cenderung mendukung kinerja bisnis hilir TBLA sepanjang 2025. 

👉 Secara konservatif, laba bersih TBLA di 2025 diperkirakan berada di kisaran ±Rp0,9–1,2 triliun, tergantung harga komoditas dan realisasi penjualan biodiesel.


📌 Inti Kesimpulan

Dampak Penundaan B50:
• 📉 Permintaan biodiesel domestik tumbuh lebih lambat → tekanan upside volume
• ⚖️ Risiko subsidi/pembiayaan lebih terkendali → stabilitas bisnis relatif lebih baik

Proyeksi TBLA 2025:
• Revenue sekitar Rp22 triliun
• Laba bersih sekitar Rp0,9–1,2 triliun (tergantung harga CPO/biodiesel dan penjualan)
• ROE diperkirakan meningkat bila pemakaian kapasitas dan kontrak biodiesel terus meningkat


Berikut analisis sensitivitas profit TBLA dengan beberapa skenario harga CPO & biodiesel (bearish–base–bullish), difokuskan pada kapasitas pabrik terbaru TBLA dan kondisi B40 (tanpa B50).


1️⃣ Asumsi Dasar Model (2025)

Kapasitas & Operasional
• Kapasitas biodiesel TBLA: ±765.000 ton/tahun
• Utilisasi rata-rata 2025: 80–90%
• Volume penjualan biodiesel: 610–690 ribu ton
• Segmen non-biodiesel (CPO, gula, dll) tetap berkontribusi ±35–40% revenue

Biaya & Struktur
• Feedstock utama: CPO
• Margin biodiesel sangat sensitif ke:
• Harga CPO
• Harga indeks biodiesel (HIP)
• Selisih subsidi BPDP


2️⃣ Skenario Harga (2025)

Skenario Harga CPO Harga Biodiesel (HIP)
Bearish Rp10.500/kg Rp12.500/liter
Base Case Rp11.500/kg Rp13.500/liter
Bullish Rp13.000/kg Rp15.000/liter

Catatan:
• Saat B50 ditunda, base case jadi skenario paling masuk akal
• Bullish biasanya terjadi jika ekspor ketat + gangguan supply global



3️⃣ Dampak ke Margin Biodiesel TBLA

Skenario Gross Margin Biodiesel
Bearish 6–7%
Base Case 9–10%
Bullish 12–14%

TBLA relatif lebih tahan margin dibanding emiten sawit murni karena:
• Hilirisasi (biodiesel)
• Kontrak pemerintah (lebih stabil volume)



4️⃣ Sensitivitas Laba Bersih TBLA (2025)

📊 Estimasi Laba Bersih

Skenario Laba Bersih
Bearish Rp550–650 miliar
Base Case Rp900–1.000 miliar
Bullish Rp1,25–1,45 triliun



5️⃣ EPS & Valuasi Implikasi

Estimasi EPS

Skenario EPS
Bearish Rp53–63
Base Case Rp87–110
Bullish Rp125–150

Estimasi Harga Wajar (PER 8–10x)

Skenario Fair Value
Bearish Rp425–630
Base Case Rp700–970
Bullish Rp1000–1.500

PER 8–10x wajar untuk emiten sawit hilir dengan volatilitas komoditas.


6️⃣ Inti Insight Penting untuk Investor

🔹 Penundaan B50 bukan game changer negatif untuk TBLA
→ lebih ke delay upside, bukan penurunan fundamental

🔹 Base case TBLA tetap solid
• Laba mendekati Rp1 triliun
• Utilisasi pabrik baru terpakai optimal
• Arus kas relatif stabil dari biodiesel

🔹 Upside terbesar TBLA justru dari:
1. Kenaikan harga CPO global
2. Kenaikan HIP biodiesel
3. Peningkatan utilisasi >90%
4. Kembalinya wacana B50 (2026+)

$TAPG $DSNG

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy