Drama Minyak dan Catur Global
Kadang saya merasa lucu melihat bagaimana kita di Indonesia begitu tekun memelototi layar monitor sementara di belahan dunia lain ada sekelompok orang yang sedang menentukan nasib portofolio kita lewat langkah catur geopolitik yang brutal. Kalau kita perhatikan manuver Amerika Serikat belakangan ini, rasanya naif kalau masih menganggap pergerakan harga saham cuma soal laporan laba rugi kuartalan. Paman Sam sedang bermain api dengan mengunci pasokan energi dari Venezuela dan menekan Iran, bukan semata karena urusan demokrasi, tapi ini adalah upaya mati-matian untuk menyelamatkan dominasi dolar dari ancaman dedolarisasi yang makin nyata. China sedang mengintai minyak murah, dan Amerika sedang sibuk memasang pagar kawat berduri di sekeliling sumur-sumur dunia. Efeknya ke kita di bursa lokal bukan lagi sekadar riak kecil, tapi gelombang yang memaksa kita melihat sektor energi dan logistik dengan kacamata yang berbeda sama sekali.
Dunia sedang tidak baik-baik saja dan jalur logistik global mulai terasa seperti labirin yang penuh jebakan. Ketegangan di Selat Hormuz bukan cuma berita di televisi, tapi itu adalah alasan utama kenapa tarif angkut kapal tiba-tiba melonjak dan membuat perusahaan logistik kita terlihat sangat seksi di mata investor asing. Ada ironi di sini karena di saat ekonomi dunia melambat, kemacetan di jalur distribusi justru jadi mesin pencetak uang. Biaya asuransi perang dan premi risiko pengiriman naik, dan entah kenapa pasar seolah baru tersadar bahwa tanpa kapal yang bergerak, ekonomi digital yang kita bangga-banggakan itu tidak ada artinya. Saya melihat ada pergeseran narasi di mana efisiensi pengiriman sekarang jauh lebih dihargai daripada sekadar janji pertumbuhan pengguna di aplikasi ponsel yang membakar uang.
Di pasar kita sendiri, karena pilihan saham minyak murni sangat terbatas, mau tidak mau pelariannya adalah ke batu bara dan minyak sawit. Lucunya, banyak yang masih skeptis dengan komoditas karena dianggap kotor atau sudah habis masanya, padahal data menunjukkan sektor komoditas sedang dihargai sangat tinggi, bahkan sampai delapan belas kali lipat dari labanya. Ini angka yang gila untuk sektor yang biasanya dianggap medioker. Tapi kalau dipikir lagi, dengan program biodiesel B50 yang terus dipaksakan oleh pemerintah, ada jaminan permintaan yang membuat emiten sawit kita punya bantalan empuk saat harga global bergoyang. Kita sedang berada dalam situasi di mana kebutuhan perut dan tangki bahan bakar jauh lebih mendesak daripada mimpi-mimpi teknologi masa depan yang valuasinya mulai terasa hambar di angka tujuh belas kali lipat.
Saya agak malas kalau harus membahas sektor perbankan atau konsumsi secara detail karena rasanya semua sudah bisa ditebak. Perbankan kita masih menjadi tulang punggung dengan valuasi sembilan kali lipat yang terlihat masuk akal, tapi mereka tidak punya drama yang bisa membuat adrenalin naik seperti sektor energi. Sektor konsumsi juga sama, mereka terjepit di antara daya beli yang stagnan dan inflasi yang mulai merangkak naik karena biaya energi yang mahal. Ada bias yang sangat kuat di pasar saat ini di mana semua orang ingin mencari perlindungan di sektor yang punya korelasi langsung dengan harga energi dunia. Rasanya seperti semua orang sedang berlari ke bunker yang sama, dan bunker itu bernama komoditas.
Pada akhirnya, kita semua cuma penonton di pinggir lapangan yang mencoba menebak kapan drama di Timur Tengah atau negosiasi di Washington akan mereda. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah inflasi akan melandai atau suku bunga akan turun secara signifikan selama energi masih jadi alat pemukul dalam perang politik global. Memilih saham di awal tahun dua ribu dua puluh enam ini terasa seperti memilih sisi dalam sebuah perselisihan besar yang tidak kita pahami sepenuhnya. Mungkin memang lebih baik kita tidak terlalu sok tahu dengan angka-angka di belakang koma, dan mulai memperhatikan ke mana arah angin politik bertiup. Dunia sedang berubah, dan mereka yang tetap memegang buku panduan lama mungkin akan tertinggal di stasiun yang sudah kosong.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$ADRO $PGEO $TAPG