Saham Bibit dan Pestisida: Sektor Saham yang Sangat Jarang Dibahas di Stockbit
Saham pupuk, bibit, dan pestisida di Indonesia itu jarang banget dibahas di Stockbit. Padahal sektor ini justru memegang tombol paling nyata dari ekonomi riil, karena ujungnya ketemu pangan, siklus tanam, dan produktivitas lahan. Yang bikin banyak orang enggan bukan karena bisnisnya sepi, tapi karena laporan keuangannya sering terlihat membingungkan, laba bisa naik tapi kas bisa habis. Di sektor seperti ini, angka paling sering menipu itu bukan revenue, melainkan rasa aman palsu saat investor cuma melihat profit tanpa mengecek arus kas operasional. Jadi kalau mau ngobrol serius tentang $DGWG, $BISI, $SAMF, dan NPGF, pusat gravitasi analisisnya ada di modal kerja, struktur utang, dan seberapa tahan bisnisnya saat biaya bahan baku dan suku bunga bergerak. External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
DGWG dan SAMF adalah perusahaan pupuk dan pestisida yang berada di kelas multi-triliun, revenue mereka di LK Q3 2025 masing-masing Rp2,6 T dan Rp2,92 T. BISI satu tingkat di bawahnya, Rp1,0 T. NPGF masih kelas ratusan miliar, Rp131,8 B. Skala ini penting karena tren pertumbuhan harus dibaca bareng basisnya. NPGF revenue naik 31% terlihat kencang, tapi basis kecil membuat sedikit perubahan volume dan harga jual bisa langsung membuat grafiknya meletup. Sebaliknya, SAMF revenue turun 20% itu penurunan yang terasa nyata karena basisnya besar, dan biasanya menandakan demand industri melemah, pergeseran pangsa pasar, atau kedua-duanya.
Kalau investor melihat arah laba bersih, polanya terbagi jelas. DGWG profit Rp105,6 B dan masih tumbuh 12,1% dengan revenue naik 9,7%, ini pola ekspansi yang sehat di atas kertas karena top line dan bottom line sama-sama naik. BISI profit Rp90,7 B tapi turun 27,4% walau revenue masih naik 6%, ini pola tekanan biaya, dan data COGS naik 17,3% menguatkan ceritanya. SAMF profit Rp196,8 B turun 37,7% sejalan dengan revenue turun 20%, jadi ini bukan sekadar margin tergerus sedikit, melainkan fase kontraksi bisnis. NPGF profit Rp4,0 B naik 19,8% seiring revenue naik 31%, jadi pertumbuhan ada, tetapi skala laba masih sangat kecil dibanding tiga emiten lain. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Masuk ke kualitas margin, ada keunikan yang menarik. Gross profit margin (GPM) BISI 41,5% itu paling tinggi dan beda kelas dibanding DGWG 28,3%, NPGF 26,8%, dan SAMF 22,4%. Namun BISI membuktikan satu hal, margin kotor tinggi tidak otomatis melindungi laba kalau struktur biaya naik lebih cepat dari kemampuan menaikkan harga jual, karena profit tetap turun 27,4%. Operating profit margin (OPM) justru paling tinggi ada di SAMF 10,7%, lalu BISI 9,2%, NPGF 8,0%, DGWG 7,4%. Ini unik karena SAMF sedang kontraksi revenue, tapi efisiensi operating masih terjaga. Net profit margin (NPM) tertinggi juga BISI 8,4%, disusul SAMF 6,7%, DGWG 4,0%, NPGF 3,1%. Jadi dari sisi margin, BISI dan SAMF terlihat lebih tebal, tapi cerita kesehatannya baru lengkap kalau investor cek arus kas.
Di sinilah sektor ini biasanya memperlihatkan wajah aslinya, cash flow from operations (CFO). Tiga dari empat emiten CFO negatif, DGWG negatif Rp170,3 B, BISI negatif Rp150,6 B, NPGF negatif Rp5,3 B. Hanya SAMF yang CFO positif Rp165,4 B. Penyebab utama CFO negatif juga bukan hal kecil, DGWG mengalami lonjakan persediaan Rp466 B, BISI juga heavy inventory build-up, NPGF terlihat tertekan modal kerja dan skala utang jangka pendek. Polanya jadi konsisten, uang banyak terkunci di gudang dan piutang, sehingga laba di laporan laba rugi tidak berubah menjadi kas. Ini bukan salah atau benar secara otomatis, karena dalam agribisnis kadang persediaan memang dinaikkan untuk musim tanam, tapi dari sisi risiko, CFO negatif panjang adalah alarm yang selalu relevan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Persediaan DGWG Rp1,42 T setara sekitar 54,6% dari revenue Rp2,6 T. Persediaan BISI Rp1,92 T setara sekitar 192,0% dari revenue Rp1,0 T, ini ekstrem dan menjelaskan kenapa CFO bisa negatif besar walau BISI tidak punya utang bank. Persediaan SAMF Rp1,13 T setara sekitar 38,7% dari revenue Rp2,92 T, lebih ringan dibanding DGWG dan jauh lebih ringan dibanding BISI, lalu SAMF tetap bisa menjaga CFO positif. NPGF punya pola berbeda, piutang usaha Rp133,3 B sedikit lebih besar dari revenue Rp131,8 B, sekitar 101,1%, jadi tekanan kasnya lebih condong ke penagihan, terms pembayaran, dan konsentrasi pelanggan.
Struktur utang membuat risiko tiap emiten terasa beda karakternya. BISI itu outlier paling aman dari sisi perbankan karena bank debt nol dan debt-to-equity ratio 0,00, plus tidak ada aset yang dijaminkan. Namun konsekuensinya, investor harus ekstra disiplin membaca persediaan, karena meski tanpa utang bank, CFO tetap negatif dan persediaan sangat besar relatif terhadap revenue. DGWG berada di spektrum agresif, pinjaman bank dan overdraft Rp1,08 T, lalu penerimaan penarikan pinjaman baru Rp1,86 T di 9M 2025, sementara CFO negatif. Secara sederhana, ini pola pertumbuhan yang dibiayai fasilitas, dan risiko terbesarnya muncul jika bank mengetatkan limit, bunga naik, atau perputaran persediaan melambat. SAMF terlihat lebih stabil secara pembiayaan, pinjaman bank Rp796,6 B, CFO positif Rp165,4 B, dan bunga Rp62 B masih tertutup oleh CFO, jadi mesin kasnya masih bekerja untuk melayani utang. NPGF paling rawan secara proporsi, utang bank jangka pendek Rp85,46 B sementara profit hanya Rp4,0 B, lalu CFO negatif, sehingga perusahaan bergantung pada penerimaan pinjaman baru Rp60,5 B untuk menutup kebutuhan dan jatuh tempo. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Rasio profitabilitas terhadap modal juga memberi sinyal kualitas laba dan efisiensi pemakaian ekuitas. Return on equity (ROE) tertinggi SAMF 12,7%, lalu DGWG 10,3%, BISI 2,7%, NPGF 1,7%. Return on assets (ROA) juga paling tinggi SAMF 6,1%, sementara DGWG 3,0%, BISI 2,5%, NPGF 1,2%. Ini menarik karena BISI punya margin kotor paling tebal, tapi ROE rendah, biasanya terjadi ketika ekuitas besar dan laba sedang turun, atau aset produktifnya menumpuk di persediaan yang belum berputar menjadi kas. SAMF terlihat paling efektif mengubah aset dan ekuitas menjadi laba, walau revenue sedang turun, yang berarti manajemen biaya dan struktur operasi masih relatif terkendali.
Kalau investor mau melihat skala operasional lewat produktivitas tenaga kerja, perbedaannya juga unik. DGWG punya 823 karyawan dengan revenue Rp2,6 T, kira-kira Rp3,16 B per karyawan, dan profit sekitar Rp128 M per karyawan. BISI 1.159 karyawan dengan revenue Rp1,0 T, kira-kira Rp0,86 B per karyawan, dan profit sekitar Rp78 M per karyawan, ini menunjukkan model bisnisnya lebih padat aktivitas dan distribusi, atau biaya tenaga kerja dan jaringan lebih besar. SAMF 561 karyawan dengan revenue Rp2,92 T, kira-kira Rp5,21 B per karyawan, dan profit sekitar Rp351 M per karyawan, ini paling tinggi secara profit per karyawan, sinyal efisiensi skala pabrik dan komposisi produk. NPGF hanya 26 karyawan dengan revenue Rp131,8 B, kira-kira Rp5,07 B per karyawan, profit sekitar Rp155 M per karyawan, jadi secara angka terlihat produktif, tapi ini juga efek dari struktur yang kecil dan sangat terpusat, sehingga perubahan kecil di penjualan dan piutang bisa langsung mengguncang arus kas. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Konsentrasi vendor dan customer membuat risiko rantai pasok dan penjualan tidak merata. DGWG punya top vendor 16,2% dan top customer 11,3%, konsentrasi ada tapi masih moderat. BISI paling rapi karena tidak ada single vendor atau customer di atas 10%, sehingga risiko ketergantungan lebih rendah. SAMF punya konsentrasi vendor tinggi, PT Jafa Petrochem 31,9% dan Fertistream 24,4%, total 56,3%, ini membuat risiko supply dan harga bahan baku jadi faktor utama yang bisa menggeser margin. NPGF punya konsentrasi customer besar, dua customer utama 23,1% dan 21,8%, total 44,9%, untuk perusahaan kecil ini bisa menjadi mesin pertumbuhan, tapi juga membuat posisi tawar dan risiko piutang jadi sensitif.
Transaksi pihak berelasi dan sengketa pajak menambah lapisan risiko yang sering diabaikan investor. DGWG punya sengketa pajak Rp76,2 B dan RPT berupa sewa dari pemilik serta pembelian dari pihak terkait, ini perlu dilihat kewajaran harganya karena bisa mempengaruhi margin dan stabilitas biaya. BISI punya klaim pajak Rp200,5 B dan RPT penjualan ke grup Charoen Pokphand, ini bisa memberi captive demand, tapi investor tetap perlu peka pada risiko terms internal grup. SAMF punya sengketa pajak relatif kecil Rp1,95 B, namun ada utang usaha pihak berelasi Rp189,6 B, yang bisa berfungsi sebagai fleksibilitas modal kerja, tapi juga bisa menjadi sumber tekanan jika terms berubah. NPGF paling sensitif karena 42,7% pembelian berasal dari pihak berelasi, untuk skala kecil ini adalah ketergantungan yang besar dan berpotensi mengunci struktur biaya serta keberlanjutan pasokan.
DGWG mengalami selling expense yang naik 5,5% dan karyawan naik 6,5%, cocok dengan fase ekspansi plus pembangunan pabrik Cikande dan penambahan mesin, capex Rp81,3 B. BISI selling expense turun 21,5% walau karyawan naik 6,4%, terlihat ada upaya efisiensi distribusi atau promosi, tetapi tetap kalah oleh kenaikan COGS, sehingga laba turun. SAMF selling expense turun 21% dan karyawan naik tipis 2,9%, ini pola bertahan dan mengencangkan ikat pinggang saat revenue turun. NPGF selling expense naik 114% dengan jumlah karyawan tetap, ini biasanya strategi mendorong penjualan, namun risikonya muncul jika kenaikan biaya tidak diikuti perputaran kas yang membaik, apalagi CFO masih negatif. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
BISI itu neraca paling aman tapi modal kerja paling berat, DGWG itu ekspansi yang hidup dari fasilitas dan butuh disiplin persediaan, SAMF itu yang paling seimbang karena CFO positif dan mampu melayani bunga di tengah kontraksi, NPGF itu growth tinggi dari basis kecil tapi paling rentan karena leverage terhadap laba besar, CFO negatif, konsentrasi pihak berelasi tinggi, dan ketergantungan customer besar. Sentimen optimis biasanya menempel ke DGWG karena pabrik baru, ke BISI karena tanpa utang dan GPM 41,5%, ke SAMF karena CFO positif serta dividen Rp194 B, dan ke NPGF karena pertumbuhan cepat. Sentimen pesimis biasanya menempel ke DGWG karena CFO negatif dan pola rolling pinjaman, ke BISI karena profit drop 27,4% plus COGS naik 17,3%, ke SAMF karena revenue turun 20% yang bisa menandakan pelemahan demand, dan ke NPGF karena ketergantungan pembelian pihak berelasi 42,7% serta utang yang besar relatif terhadap profit. Dalam sektor seperti ini, investor yang unggul biasanya bukan yang paling cepat menangkap cerita growth, tapi yang paling disiplin memantau perputaran persediaan dan piutang, karena di sanalah kas sering menguap tanpa terasa, lalu risiko baru terlihat saat perusahaan mulai makin bergantung pada bank untuk menjaga operasional tetap jalan.
Saham Pupuk dan Pestisida Pertanian
1. ๐งช DGWG
๐ David Yaory 72.34%
๐ฆ Persediaan 1.42 T, agunan
๐ฐ Laba 105.6 B, CFO -170.3 B
๐ฆ Utang 1.08 T, capex 81.3 B, pajak 76.2 B
2. ๐ฝ BISI
๐ก๏ธ Utang bank 0
๐ฆ Persediaan 1.92 T, tanpa agunan
๐ Laba 90.7 B, CFO -150.6 B
3. ๐งฏ SAMF
โ
CFO 165.4 B, bayar bunga dan jatuh-tempo
๐งพ Piutang 1.30 T, agunan
๐ Laba 196.8 B, utang 796.6 B
4. ๐งซ NPGF
๐น Laba 4.0 B, CFO -5.3 B
๐ RPT pembelian 42.7%
๐ฆ Utang 85.5 B, skala kecil
๐ Pola lintas emiten
๐ฆ Modal kerja membengkak, kas ketarik, kecuali SAMF
๐ฐ Neraca paling aman BISI, risiko tertinggi NPGF
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7






