Potensi Insentif Tekstil dan Garmen Dari Hulu ke Hilir
Bisnis tekstil dan garmen di Indonesia itu sebenarnya cukup lengkap.
Di hulu ada suplier nafta dkk seperti TPIA dan FPNI, mereka hasilkan produk bahan baku setelah beli migas dari Pertamina, Shell dkk, untuk bikin bahan baku poliester, yarn dkk
Lalu ada INDR dan SRIL yang ambil produk olahan nafta dkk dari TPIA dan FPNI untuk bikin benang dkk
Lalu setelah jadi benang, masuk lagi ke bisnis buat pakaian jadi seperti $PBRX dkk
Dan setelah itu barangnya dijual ke toko $MAPI MAPA $RALS LPPF
Di tengah-tengah mereka ada midstream sektor logistik dan transportasi dan sektor kawasan industri yang urus limbah, sampah, listrik dll.
Jadi bisnis tekstil dan garmen itu adalah bisnis ratusan triliun. Banyak tenaga kerja dan perusahaan yang terlibat di dalamnya.
Dalam industri yang sehat tentu kalau hilir happy maka midstream hingga hulu pun bisa sehat.
Masalahnya adalah hulu dan hilir kita lagi sakit karena banjir pakaian impor murah dari China. Konsumen tentu suka barang murah. Saya pun suka. Dikasi barang murah ya siapa yang mau nolak.
Bisnis tekstil dan garmen kita tidak bisa saingan melawan impor murah karena efek preman banyak, kang palak banyak, ormas aneh-aneh banyak. Baru buka pabrik, udah datang oknum ormas minta sumbangan.
Daya saing kita rendah. Lalu bagaimana cara meningkatkan daya saing industri tekstil dan garmen kita? Saya pun terus terang tidak tahu. Kalau saya tahu, ya saya udah jadi bos tekstil dan garmen. 馃槦
Makanya Presiden Prabowo tiba-tiba memerintahkan Danantara pakai duit 100 Triliun untuk bisnis tekstil. Kalau melihat rencana ini, menurut keyakinan saya, yang akan untung besar adalah TPIA dan FPNI karena mereka punya bisnis naphta crakcer. Dan industri hilir penjual baju seperti MAPI MAPA LPPF RALS bisa mendapatkan baju harga murah. Kalau ini tidak dikorupsi dan tidak ada yang aneh-aneh, sebenarnya ini kabar baik. Putaran ekonomi bisa kencang, lapangan kerja terbuka. Target 19 juta lapangan kerja terwujud dan Indonesia Emas 20245 tercapai. Idealnya.
Tapi skenario lain yang bisa terjadi menurut saya adalah oversupply barang. Dana itu masuk lalu dikonversi jadi pakaian, otomatis barang di market banjir. Apalagi kalau seandainya barang impor dan thrifting dibiarkan bebas.
Off taker ritel seperti MAPI MAPA LPPF RALS bisa beli barang murah dan jual di harga premium. Misalnya kalau MAPI MAPA LPPF RALS dan toko online punya banyak vendor dan konsiyasi. Mereka bisa memilih vendor murah lalu jual ke konsumen di harga mahal. Cuan.
Jadi menurut keyakinan saya, ini kabar baik buat perusahaan paling hulu nya dan paling hilirnya. Tinggal lihat siapa yang bisa melakukan premiumisasi. Menjual barang high quality dan high branding, memaksa konsumen membayar lebih mahal untuk barang yang sebenarnya sama saja. Ferrari dan Calya sama-sama mobil, tapi harga Ferrari lebih mahal. Premiumisasi dan gentrifikasi. Perusahaan yang bisa menciptakan kondisi premiumisasi dan gentrifikasi yang akan cuan gede memanfaatkan potensi oversupply baru. Tapi sekali lagi, ini hanya opini pribadi. Belum tentu benar.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/2

