Perang Bisnis Pelabuhan: $IPCC vs $IPCM vs $KARW vs PORT
IPCC adalah perusahaan yang secara bisnis sangat erat kaitannya dengan pelabuhan. Jadi kalau mau tahu seberapa bagus perusahaan ini, memang wajib dibandingkan dengan emiten lain yang sama-sama punya aroma pelabuhan. Banyak investor suka kebalik, lihat ceritanya dulu baru cari angkanya, padahal di bisnis pelabuhan justru angka yang paling cepat membocorkan kualitas operasional. Port itu bisnis padat aset, begitu mesin dan lahannya jalan, perbedaan efisiensi langsung kelihatan dari margin, laba, dan Arus Kas Operasi (Cash Flow from Operations, CFO). Dan di Q3 2025, perbandingan IPCC, IPCM, PORT, KARW itu seperti melihat empat cara berbeda mengubah aktivitas pelabuhan menjadi uang nyata. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Request member External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
Kalau bicara skala laba 9M 2025, IPCC mencetak laba Rp190,3 miliar, IPCM Rp140,7 miliar, PORT Rp98,1 miliar, sementara KARW masih rugi AS$325.428 walaupun CFO-nya positif. Dari sisi tren, IPCC tumbuh kuat karena laba naik dari Rp148 miliar menjadi Rp190,3 miliar, naik sekitar 28,6%. IPCM juga naik dari Rp121,1 miliar ke Rp140,7 miliar, naik sekitar 16,2%. PORT paling dramatis karena bukan sekadar tumbuh, tapi berbalik dari rugi Rp105,1 miliar menjadi laba Rp98,1 miliar, ini swing kinerja lebih dari Rp200 miliar, sinyal ada perbaikan volume, tarif, efisiensi biaya, atau kombinasi semuanya. KARW itu kebalikannya, secara akuntansi masih berdarah-darah, sehingga investor harus baca ini sebagai cerita turnaround yang belum selesai, bukan mesin laba yang sudah stabil.
Keunikan IPCC paling gampang terlihat dari bentuk bisnisnya. IPCC itu car terminal, fokusnya bongkar muat kendaraan, penumpukan, dan jasa dermaga khusus kendaraan, jadi demand driver-nya lebih dekat ke arus distribusi otomotif dan logistik kendaraan, bukan peti kemas atau jasa kapal tunda. Model seperti ini biasanya punya karakter margin yang tebal ketika utilisasi tinggi karena biaya tetap sudah keburu ditanggung lewat aset dan fasilitas, sementara tambahan volume sering lebih cepat menetes jadi laba. Ini nyambung dengan Net Profit Margin (NPM) IPCC yang sekitar 28,8%, jauh di atas IPCM sekitar 12,9% dan PORT sekitar 10,8%, sedangkan KARW NPM-nya negatif. Kalau investor mau memahami maknanya, NPM itu ukuran seberapa banyak laba bersih yang tersisa dari setiap Rp1 pendapatan setelah semua biaya, termasuk bunga dan pajak, jadi NPM tinggi di bisnis pelabuhan biasanya berarti pricing power bagus, utilisasi aset bagus, dan biaya terkendali. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bandingkan dengan IPCM yang bisnisnya pemanduan dan penundaan kapal, tug services, dan jasa maritim lain, ini lebih service heavy tapi tetap padat aset karena kapal itu mahal. Aset terbesar IPCM adalah aset tetap kapal neto sekitar Rp593,6 miliar, sementara IPCC aset besarnya lebih dominan ke aset hak-guna sekitar Rp475,8 miliar yang mencerminkan lahan atau fasilitas pelabuhan yang dipakai lewat skema sewa atau konsesi. PORT sebagai operator terminal peti kemas lewat entitas anak, aset tetap plus aset hak-guna mencapai sekitar Rp1,52 triliun, paling besar di kelompok ini, wajar karena terminal peti kemas butuh lapangan, crane, dan peralatan berat yang besar. KARW aset tetapnya sekitar AS$7,1 juta, skala asetnya kecil, tapi problemnya bukan cuma skala, melainkan struktur permodalan dan beban yang membuat ekuitasnya defisit besar, sehingga risiko going concern jauh lebih sensitif.
Kalau kita ingin melihat kualitas laba, kunci di bisnis pelabuhan itu bukan cuma laba, tapi laba harus sejalan dengan CFO. IPCC CFO Rp298 miliar, lebih besar dari labanya Rp190,3 miliar, rasio CFO terhadap laba sekitar 1,57 kali. IPCM CFO Rp203 miliar juga lebih besar dari laba Rp140,7 miliar, rasionya sekitar 1,44 kali. PORT CFO Rp216,5 miliar jauh lebih besar dari laba Rp98,1 miliar, rasionya sekitar 2,21 kali. Secara makna, kalau CFO lebih besar dari laba, ini sering terjadi karena ada biaya non-kas besar seperti depresiasi aset tetap dan amortisasi aset hak-guna yang menekan laba tetapi tidak menguras kas, sehingga kas operasional terlihat lebih gemuk daripada laba. Ini biasanya kabar baik untuk bisnis padat aset, karena artinya laba tidak sekadar angka akuntansi, ada kas yang benar-benar masuk. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Skala operasional juga bisa kebaca dari produktivitas karyawan, dan di sini IPCC itu outlier. IPCC hanya punya 79 karyawan tetap tapi menghasilkan laba Rp190,3 miliar, artinya laba per karyawan sekitar Rp2,41 miliar dalam 9 bulan, dan CFO per karyawan sekitar Rp3,77 miliar. IPCM dengan 116 karyawan mencetak laba Rp140,7 miliar, laba per karyawan sekitar Rp1,21 miliar dan CFO per karyawan sekitar Rp1,75 miliar. PORT jauh lebih besar secara organisasi, 681 karyawan, laba Rp98,1 miliar, laba per karyawan sekitar Rp144 juta dan CFO per karyawan sekitar Rp318 juta. KARW secara CFO punya AS$1,37 juta, kira-kira CFO per karyawan sekitar AS$16.310, tetapi rugi per karyawan sekitar AS$3.874, jadi ini belum level bisnis yang mapan. Cara membaca metrik per karyawan itu sederhana, semakin tinggi angka laba atau CFO per orang, semakin tajam produktivitas organisasi, meski investor tetap perlu ingat, jumlah karyawan tetap tidak selalu menangkap tenaga outsourcing dan vendor, jadi ini hanya indikator, bukan vonis final.
Sekarang bagian rasionalitas, apakah angka-angka ini masuk akal dengan jenis bisnisnya. IPCC yang menjadi bagian ekosistem Pelindo lewat kepemilikan PT Pelindo Multi Terminal 71,28% dan IPCM lewat PT Pelindo Jasa Maritim 76,89% biasanya punya karakter pendapatan yang lebih stabil karena berada dalam jaringan pelabuhan dan layanan yang sifatnya esensial. Stabil bukan berarti tanpa risiko, tapi risikonya cenderung berbentuk kebijakan tarif, konsesi, dan ketergantungan pada grup, bukan semata perang harga. PORT itu beda cerita karena pengendali China Merchants 51,00% membuat pendekatannya lebih korporat dan ekspansif, tapi konsekuensinya sering muncul di struktur utang bank dan beban bunga, sehingga margin dan volatilitas laba bisa lebih sensitif. KARW paling ekstrem karena struktur modalnya yang tertekan, sehingga walaupun aktivitas bongkar muat ada dan CFO bisa positif karena depresiasi besar, investor harus menilai apakah arus kas itu cukup untuk membalikkan defisit modal, bukan cuma cukup untuk bertahan hidup. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
IPCC itu unik karena bermain di rel khusus kendaraan yang margin dan produktivitasnya terlihat paling tajam di Q3 2025, IPCM itu mesin jasa kapal yang lebih stabil tapi margin lebih moderat, PORT itu pemain aset besar yang baru menunjukkan sinyal pemulihan lewat turnaround laba, sedangkan KARW itu masih fase bertahan sambil mencoba membuktikan turnaround. Jadi saat investor membandingkan aroma pelabuhan, jangan cuma lihat siapa yang paling besar asetnya, tapi lihat siapa yang paling rapi mengubah aktivitas pelabuhan menjadi laba dan kas, karena di bisnis seperti ini, kas operasional yang konsisten biasanya lebih jujur daripada cerita.
๐งฉ Bisnis
๐ IPCC car terminal
๐ข IPCM pilotage tug kapal
๐ฆ PORT terminal petikemas holding
โ KARW stevedoring
๐ Kontrol
๐๏ธ IPCC Pelindo Multi Terminal 71,28%
๐๏ธ IPCM Pelindo Jasa Maritim 76,89%
๐จ๐ณ PORT CMIP 51%
๐งโ๐ผ KARW SKI 77,03%
๐ Laba dan CFO Q3 2025
โ
IPCC laba Rp190,3B CFO Rp298B
โ
IPCM laba Rp140,7B CFO Rp203B
โ
PORT laba Rp98,1B CFO Rp216,5B
๐จ KARW rugi USD325K CFO USD1,37Jt
โ ๏ธ Utang
๐ข IPCC IPCM dominan sewa
๐ PORT ada utang bank
๐ฅ KARW defisiensi modal USD32,5Jt utang lain USD43,3Jt
๐ Rasio ringkas
๐ IPCC NPM 28,8% ROE 14,2%
๐ฆ IPCM NPM 12,9% ROE 10,6%
๐จ PORT NPM 10,8% ROE 9,2%
โ KARW margin ROE negatif
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/7






