Raksasa di Balik Rak Sabun
Pernahkah kamu merasa kalau Alfamart itu sebenarnya bukan cuma toko kelontong tapi lebih mirip infrastruktur negara. Ke mana pun saya pergi di awal 2026 ini dari gang sempit di Bali sampai pinggiran jalan besar pun papan merah itu selalu ada. Kita sering kali abai karena tampilannya yang membosankan dan terlalu biasa. Padahal di balik deretan sabun dan mi instan itu ada mesin uang raksasa yang tahun ini diproyeksikan meraup pendapatan seratus tiga puluh delapan triliun rupiah. Angka itu besar sekali bahkan kalau dipikir jumlahnya sudah hampir tidak masuk akal buat ukuran jualan barang recehan. Tapi itulah realitanya. Saat ekonomi terasa agak berat dan inflasi parkir di level dua koma tujuh puluh delapan persen orang mungkin menahan diri beli barang elektronik baru tapi mereka tetap butuh detergen dan kopi saset setiap pagi.
Biasanya orang akan bicara panjang lebar soal efisiensi atau rasio keuangan yang njelimet. Tapi kalau kita bicara jujur $AMRT ini sebenarnya sedang berjudi dengan skala. Mereka tidak bisa berhenti ekspansi. Berhenti berarti kalah. Makanya target delapan ratus gerai baru di 2026 ini bukan cuma soal pertumbuhan tapi soal cara mereka bertahan hidup agar tetap relevan di mata konsumen yang makin pragmatis. Sekarang mereka mulai lari ke luar Jawa karena di sini sudah terlalu sesak. Saya sedikit skeptis sebenarnya. Mengirim logistik ke pelosok itu mahal dan rumit sekali. Apakah margin tipis mereka kuat menahan beban itu dalam jangka panjang. Belum lagi soal upah buruh yang terus merangkak naik setiap tahun yang menjadi beban nyata dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan jargon teknologi.
Lalu ada Lawson yang selalu jadi bahan pembicaraan hangat di kalangan investor. Semua orang sekarang mendadak jadi analis kuliner dan bilang Lawson adalah kunci masa depan karena margin makanan siap saji itu jauh lebih tebal. Memang benar kalau jualan kopi dan odeng itu lebih menguntungkan daripada jualan minyak goreng subsidi. Tapi jangan lupa kalau tren gaya hidup itu sangat cepat berubah. Apa yang hari ini terasa keren dan premium di mata kelas menengah bisa saja jadi basi dalam dua tahun ke depan. Saya melihat Lawson sebagai upaya nekat untuk keluar dari jebakan margin tipis retail tradisional yang mulai jenuh. Berhasil atau tidak itu cerita lain tapi narasi pasar sudah telanjur jatuh cinta dengan ide ini dan harga sahamnya pun ikut terbang ke valuasi yang menurut saya sudah cukup premium.
Investor ritel sering kali terjebak dalam bias narasi kalau perusahaan besar pasti selalu aman. Padahal risiko terbesar perusahaan seperti ini justru ada pada kejenuhan pasar dan biaya operasional yang tidak pernah turun. Di Jawa rasanya setiap beberapa ratus meter sudah ada satu toko yang berdiri. Kalau mereka salah langkah dalam ekspansi luar pulau atau jika strategi digital lewat AlfaGift ternyata cuma jadi tempat bakar uang tanpa menciptakan loyalitas asli maka raksasa ini bisa goyah juga. Saya lebih suka melihatnya sebagai bisnis yang stabil tapi sudah tidak punya banyak ruang untuk memberikan kejutan yang luar biasa. Ini bukan saham buat kamu yang mencari kekayaan instan dalam semalam tapi lebih ke soal menyimpan uang di tempat yang kita tahu tidak akan hilang besok pagi.
Kadang saya merasa kita terlalu memuja angka pertumbuhan tanpa melihat betapa lelahnya manajemen menjaga operasional ribuan toko setiap hari. Memang ekonomi makro sedang stabil dengan bunga acuan bank sentral yang tidak lagi liar tapi daya beli masyarakat bawah sebenarnya sedang diuji secara diam-diam. Mereka belanja tapi mereka makin selektif mencari promosi. Di situlah seninya mengelola bisnis retail yang harus tetap terlihat murah tapi tetap harus menghasilkan untung bagi pemegang saham. Sebuah ironi yang harus dijaga setiap hari demi memuaskan ekspektasi pasar yang tidak pernah puas. Akhirnya investasi di sini adalah soal seberapa sabar kamu menunggu dividen dari recehan yang dikumpulkan setiap jam dari seluruh pelosok negeri ini.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
$MIDI $DNET