“Right Issue Selesai, Harga Terjun: Apakah Ini Awal Akhir Cerita PANI?”
Apakah PANI sudah selesai? Apakah ceritanya sudah kelar?
Pertanyaan ini mulai muncul semakin sering di benak pemegang sahamnya. Bukan tanpa alasan. Setelah right issue raksasa yang menyerap dana belasan triliun rupiah, harga saham PANI justru terus melemah dan jatuh ke kisaran 11 ribu. Harapan bahwa right issue menjadi penopang harga perlahan berubah menjadi kekecewaan kolektif.
Bagi banyak investor ritel, situasinya terasa menyesakkan. Mereka sudah ikut setor modal di harga diskon, dengan keyakinan ekspansi dan penguatan modal akan segera dihargai pasar. Namun yang terjadi justru sebaliknya: tekanan jual tidak berhenti, seolah pasar belum percaya cerita besar yang disampaikan. Saham turun pelan tapi konsisten—jenis penurunan yang paling menguras mental.
Yang membuat ketakutan semakin nyata adalah faktor waktu. Proyek besar, pengembangan kawasan, dan suntikan modal ke anak usaha memang terdengar menjanjikan, tetapi pasar hidup dari bukti, bukan rencana. Selama laporan keuangan belum menunjukkan lonjakan kinerja nyata, cerita PANI berisiko masuk fase mati suri—tidak jatuh brutal, tapi terus melemah dan dilupakan.
Inilah titik paling berbahaya bagi sebuah saham: ketika harapan belum mati, tapi kepercayaan mulai hilang. Jika ke depan tidak ada katalis kuat, bukan tidak mungkin PANI akan dikenang sebagai saham dengan cerita besar, modal besar, namun kesabaran investor yang habis lebih dulu.
$PANI
