$IHSG Mens Rea - Saat Niat Lebih Berbahaya daripada Perbuatan
Beberapa waktu terakhir, publik ramai membicarakan kasus Pandji Pragiwaksono. Bukan hanya soal materi komedinya yang memicu kontroversi, tetapi karena satu istilah hukum tiba-tiba naik ke permukaan dan menjadi bahan pembicaraan nasional: Mens Rea, yaitu niat bersalah yang menentukan apakah seseorang layak dipidana atau hanya dianggap keliru.
Dalam hukum pidana, seseorang tidak pernah diadili hanya berdasarkan tindakan. Selalu ada dua unsur yang berjalan berdampingan. Actus Reus, yaitu perbuatan yang terlihat. Dan Mens Rea, yaitu niat yang tersembunyi di balik perbuatan tersebut. Tanpa niat jahat, pelanggaran bisa dianggap sebagai kesalahan yang tidak disengaja. Sebaliknya, jika Mens Rea-nya memang keliru, tindakan yang tampak biasa dapat berubah menjadi kejahatan.
Pertarungan yang paling menentukan dalam dunia hukum sering kali bukan terjadi di ruang sidang, tetapi jauh sebelumnya sudah berlangsung di dalam kepala. Di sanalah Mens Rea dibangun, dibela, dipoles, dan kadang dikemas agar terlihat tetap bermoral.
Yang ironis, perdebatan publik sering kali bukan lagi tentang benar atau salah, tetapi lomba siapa yang paling kreatif merangkai alasan moral. Pengadilan pun terkadang terlihat seperti panggung untuk mempertahankan citra, bukan sekadar mencari kebenaran.
Yang menarik, logika Mens Rea ini ternyata tidak berhenti di dunia hukum. Cara kerja yang sama hidup dengan sangat subur di tempat yang katanya paling rasional: pasar modal.
Di lantai bursa, banyak tindakan tampak sama, tetapi nilainya berubah total ketika Mens Rea di baliknya dibuka.
Seseorang membeli saham dalam jumlah besar. Secara kasat mata, ia hanya terlihat sebagai pembeli. Namun Mens Rea-nya bisa sangat berbeda. Bisa jadi ia adalah investor yang percaya pada fundamental perusahaan. Bisa juga ia pelaku cornering yang sejak awal memang berniat menggiring harga dan menjebak banyak orang.
Seseorang membagikan analisis saham di media sosial. Tampak edukatif, rapi, penuh data, dan teknikal. Tetapi Mens Rea di baliknya bisa lain sama sekali. Bisa jadi itu hanyalah bagian dari skenario pump and dump yang disusun dengan sadar. Sebuah drama pasar di mana penonton datang terlambat, sementara aktor utamanya sudah selesai mengumpulkan keuntungan.
Regulator pasar, layaknya hakim, tidak hanya melihat grafik atau angka. Mereka juga membaca Mens Rea.
Insider trading tidak dianggap sebagai “kebetulan tepat waktu”, tetapi Mens Rea penyalahgunaan informasi.
Manipulasi harga bukan sekadar transaksi ramai, tetapi Mens Rea untuk menciptakan persepsi palsu.
Yang lucu, ketika Mens Rea mereka ketahuan, sebagian pelaku pasar mendadak berubah menjadi pengkhotbah etika. Mendadak bicara tentang edukasi investor dan niat mulia mencerdaskan publik. Andai energi sebesar itu dipakai untuk benar-benar menganalisis fundamental, mungkin kita sudah punya Warren Buffett versi stockbit.
Namun sebelum menunjuk orang lain, ada pertanyaan yang lebih lebih jujur:
Mens Rea apa yang sebenarnya kita bawa saat membuka aplikasi saham setiap pagi?
Banyak kerugian bukan lahir dari pasar yang kejam. Banyak kerugian lahir karena sejak awal Mens Rea kita tidak jujur. Kita hidup di antara apa yang kita ucapkan dan apa yang sebenarnya kita inginkan.
Kita bilang, saya investor jangka panjang. Tapi Mens Rea-nya: ingin cepat kaya.
Kita berkata, saya sudah riset mendalam. Mens Rea-nya: hanya mencari pembenaran agar tidak dianggap tertinggal.
Kita mengaku siap menanggung risiko. Mens Rea-nya: baru beberapa hari merah sudah menyalahkan dunia.
Di titik ini, pasar bekerja lebih efektif dari pengadilan mana pun. Tidak perlu polisi, tidak perlu jaksa. Kerugian menjadi vonis. Penyesalan menjadi hukuman. Meski begitu, sebagian dari kita masih merasa korban nasib, seolah pasar diciptakan hanya untuk menyakiti perasaan manusia.
Kalau pasar bisa bicara, mungkin ia akan berkata: “Aku tidak jahat. Kamu saja yang tidak jujur pada Mens Rea-mu sendiri.”
Kasus Pandji mengingatkan bahwa ucapan tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada Mens Rea yang ikut diadili. Pasar saham pun bekerja dengan cara yang serupa. Grafik tidak bergerak sendirian. Selalu ada Mens Rea yang menggerakkannya. Bisa niat membangun nilai, bisa niat menipu persepsi.
Di panggung komedi, Mens Rea menentukan apakah kalimat menjadi candaan atau penghinaan.
Di lantai bursa, Mens Rea menentukan apakah transaksi menjadi strategi atau penipuan.
Dan di hidup kita sendiri, Mens Rea menentukan apakah kita membangun aset atau hanya membangun ilusi.
Pelajarannya sederhana tetapi mahal. Pasar modal adalah detektor kebohongan yang paling jujur. Kita bisa berbohong pada publik. Kita bisa berbohong pada diri sendiri. Tetapi saldo rekening dana nasabah tidak pernah berbohong tentang Mens Rea kita terhadap risiko. Jika tetap keras kepala, pasar tidak marah. Ia hanya mengambil uang kita sambil berkata, silakan belajar lagi.
Sebelum menyalahkan sistem, memaki bandar, atau mengutuk nasib, mungkin ada baiknya kita menatap cermin dan bertanya: Mens Rea apa sebenarnya yang saya bawa hari ini?
$LABA $KARW
