Saham Minuman Beralkohol Indonesia ($MLBI, $STRK, $BEER, WINE)
Industri minuman beralkohol di Indonesia berada di persimpangan antara pemulihan konsumsi, dorongan pariwisata, dan risiko regulasi. Setelah pandemi, konsumsi on-trade (hotel, restoran, bar) mulai pulih seiring bangkitnya pariwisata, terutama di Bali dan kota besar. Ini menjadi katalis utama bagi emiten seperti MLBI, STRK, BEER, dan WINE.
Dari sisi struktur industri, pasar masih oligopolistik. MLBI berperan sebagai pemain dominan dengan skala besar dan distribusi luas, sementara STRK, BEER, dan WINE mengisi ceruk craft beer, spirits lokal, dan wine, yang tumbuh seiring perubahan preferensi konsumen urban dan wisatawan. Tren premiumization—konsumen membeli produk dengan harga lebih tinggi namun volume moderat—menjadi penopang margin, khususnya bagi pemain niche.
Namun, industri ini juga sarat tantangan. Kenaikan cukai, isu regulasi alkohol, serta sensitivitas terhadap kebijakan daerah menjadi risiko struktural yang selalu membayangi valuasi sahamnya. Selain itu, biaya distribusi dan bahan baku membuat skala usaha sangat menentukan daya tahan margin, sehingga emiten kecil cenderung lebih volatil secara kinerja dan harga saham.
Kesimpulannya, industri minuman beralkohol menawarkan kombinasi defensif dan spekulatif. MLBI mencerminkan stabilitas dan dividen, sementara STRK, BEER, dan WINE lebih merepresentasikan opsi pertumbuhan berbasis cerita ekspansi dan pariwisata. Bagi investor, kunci utamanya adalah membaca siklus konsumsi, arah regulasi, dan kemampuan emiten mengelola margin di tengah tekanan cukai.