$BSML Perusahaan Kapal Apa? Kapal Tongkang atau Kapal Selam?
Request member bukan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345
BSML itu perusahaan apa sebenarnya? Jawaban singkatnya, ini emiten kapal dan tongkang yang lagi diuji bukan oleh teori, tapi oleh angka yang susah ditawar. Revenue 9M 2025 ambruk 68,5% jadi Rp60,37 miliar, dan kalau skala bisnisnya sampai segitu turun, investor tidak bisa lagi menilai perusahaan ini pakai kacamata normal. Yang bikin nyentil, di saat skala pendapatan runtuh, margin justru membaik, Gross Profit Margin (GPM) naik ke 29,19% dan Operating Profit Margin (OPM) naik ke 13,02%. Jadi pertanyaannya bukan cuma BSML untung atau rugi, tapi BSML ini masih bertumbuh atau sedang mengecil sambil bertahan hidup. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Secara bisnis, PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML) bergerak di jasa pelayaran domestik antar pelabuhan pakai berbagai kapal, plus punya izin perdagangan bahan bakar. Perusahaan berdiri 17 November 2007, baru benar-benar jalan komersial 2017, lalu melantai 31 Desember 2021, jadi jarak berdiri ke IPO sekitar 14 tahun, dan sampai September 2025 usianya sekitar 18 tahun sebagai entitas dan 3 tahun 9 bulan sebagai emiten. Karyawannya cuma 22 orang dan stagnan 0% dibanding Desember 2024, yang bisa dibaca sebagai efisiensi, atau bisa juga dibaca sebagai tidak ada ekspansi tenaga kerja karena bisnisnya lagi tidak melebar. Dengan revenue 9M 2025 Rp60,37 miliar, berarti revenue per karyawan kira-kira Rp2,74 miliar untuk 9 bulan, atau sekitar Rp3,66 miliar kalau disetahunkan, ini terlihat produktif secara top line per kepala, tapi ujungnya tetap balik ke pertanyaan kualitas kas dan stabilitas order.
Dari sisi struktur kepemilikan, Pemegang Saham Pengendali (PSP) PT Goldfive Investment Capital turun dari 45,47% pada Desember 2024 menjadi 30,65% pada 30 September 2025, turun 14,82 poin. Free float publik 27,90% atau sekitar 516,17 juta saham dari total 1,85 miliar saham beredar. Secara likuiditas ini lumayan, tetapi penurunan porsi PSP sebesar itu biasanya membawa dua konsekuensi yang berlawanan. Satu, saham lebih tersebar dan bisa lebih aktif diperdagangkan. Dua, pasar bisa curiga ada distribusi, sehingga persepsi risiko supply overhang naik, apalagi ketika fundamental operasional sedang mengecil. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang masuk ke inti masalah yang bisa diukur. Di 9M 2025, revenue Rp60,37 miliar turun 68,5% dari Rp191,48 miliar. Laba bersih Rp2,25 miliar turun 67,5% dari Rp6,93 miliar. Jadi ini bukan penurunan kecil, ini penurunan skala bisnis. Tetapi menariknya, profitabilitas berbasis margin tidak ikut runtuh. Net Profit Margin (NPM) 3,73% relatif stabil dibanding 3,61% tahun sebelumnya, GPM naik dari 17,27% ke 29,19%, OPM naik dari 9,19% ke 13,02%. Polanya begini, unit economics per kontrak atau per perjalanan membaik, tetapi volume kerja atau utilisasi kapal turun tajam. Secara sederhana, BSML seperti berhasil mengencangkan biaya, namun kehilangan banyak muatan.
Kalau investor hanya melihat margin, ini bisa kelihatan membaik. Namun skala membuat ceritanya berubah total. Dengan aset sekitar Rp202,01 miliar, revenue 9M Rp60,37 miliar berarti revenue setahun kira-kira Rp80,49 miliar bila disetahunkan, sehingga asset turnover sekitar 0,40 kali. Ini tidak jelek untuk bisnis asset heavy, tetapi tidak cukup untuk menolong Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE) yang rendah. Dengan laba disetahunkan sekitar Rp3 miliar, ROA kira-kira 1,49% dan ROE 2,29%. Artinya mesin asetnya berputar, tapi hasil akhirnya tipis. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Bagian yang paling membedakan BSML dari sekadar cerita margin adalah kualitas uang kas. Laporan menunjukkan revenue Rp60,37 miliar tetapi penerimaan kas dari pelanggan Rp68,69 miliar, ini sebenarnya sinyal penagihan bagus, ada piutang lama yang masuk. Tetapi Cash Flow from Operations (CFO) justru negatif Rp11,20 miliar. Ini mismatch yang tidak bisa dianggap sepele, karena laba akuntansi positif Rp2,25 miliar tidak berubah jadi uang kas, malah uangnya keluar. Secara statistik sederhana, CFO margin BSML itu minus 18,55% dari revenue, jadi setiap Rp100 revenue, kas operasionalnya justru berkurang sekitar Rp18,55. Ini biasanya terjadi karena pembayaran besar ke pemasok, biaya operasi tertentu, atau pembayaran yang sifatnya menyapu kewajiban, sementara penerimaan kas pelanggan tidak cukup menutup arus keluar.
Yang bikin makin menarik, dari sisi working capital, metriknya terlihat sehat. Days Sales Outstanding (DSO) 66,8 hari, Days Inventory (DI) 20,7 hari, Days Payable Outstanding (DPO) 87,1 hari, sehingga Cash Conversion Cycle (CCC) cuma 0,4 hari, hampir nol. Secara teori, ini berarti operasional harian tidak butuh banyak modal kerja eksternal karena tempo bayar ke vendor lebih panjang daripada tempo tagih ke pelanggan. Tetapi fakta CFO negatif menunjukkan ada kebocoran lain di luar siklus kas normal. Jadi keunikan BSML bukan di CCC yang bagus saja, melainkan di kontradiksi antara CCC yang rapi versus kas operasional yang tetap negatif. Ini biasanya sinyal ada pembayaran besar yang tidak terlihat jika investor hanya menatap CCC. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang bagian skala risiko yang paling mengganggu, likuiditas. Kas tersisa sekitar Rp171 juta, sementara utang bank jatuh tempo dalam 1 tahun Rp18,27 miliar. Kas cuma menutup sekitar 0,94% dari kebutuhan jatuh tempo tersebut, ada gap sekitar Rp18,10 miliar yang harus ditutup dari refinancing, penagihan, penjualan aset, atau suntikan pihak terkait. Dan dari total utang bank Rp29,85 miliar, porsi yang jatuh tempo 1 tahun itu sekitar 61,21%, jadi konsentrasi maturitasnya tinggi. Ini penting, karena meskipun total utang bank sudah turun jauh, temboknya ada di jangka pendek, bukan di total.
Di sisi struktur neraca, utang bank Rp29,85 miliar itu sekitar 14,78% dari total aset Rp202,01 miliar, dan sekitar 22,78% dari ekuitas Rp131 miliar. Angka ini sebenarnya tidak ekstrem kalau bisnisnya stabil, tapi bisnisnya sedang menyusut, CFO negatif, dan kas hampir nol, sehingga rasio utang yang terlihat biasa berubah jadi tekanan nyata. Apalagi perusahaan sudah berada di mode deleveraging, terlihat dari penjualan kapal. BSML menjual 1 tugboat dan 1 barge senilai Rp39 miliar untuk membayar utang, dan utang bank disebut turun dari sekitar Rp82 miliar menjadi Rp29 miliar dalam 9 bulan, turun sekitar Rp53 miliar atau kira-kira 64,6%. Ini memperbaiki neraca, tetapi sekaligus mengurangi kapasitas menghasilkan revenue di masa depan, karena kapal yang dijual itu biasanya juga bagian dari mesin pendapatan.
Sekarang pembandingnya, supaya jelas BSML ini unik atau tidak, investor perlu lihat dua emiten yang model bisnisnya mirip, PT Rig Tenders Indonesia Tbk ($RIGS) dan PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk (BESS). Dari sisi skala revenue 9M 2025, BSML Rp60,37 miliar, RIGS Rp77,68 miliar, $BESS Rp261,69 miliar. Artinya BSML sekitar 77,7% skala RIGS, tetapi cuma 23,1% skala BESS. Dari sisi aset, BSML Rp202,01 miliar, RIGS Rp886,99 miliar, BESS Rp714,01 miliar. Jadi aset BSML sekitar 22,8% dari RIGS dan 28,3% dari BESS, kecil. Kalau mau jujur, BSML itu pemain skala kecil di kelompok tongkang, dan skala kecil itu membuat fluktuasi kontrak langsung memukul laporan. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Perbedaan paling tajam bukan di revenue, tapi di kualitas kas. CFO BSML negatif Rp11,20 miliar, sedangkan CFO RIGS positif Rp59,73 miliar dan CFO BESS positif Rp93,15 miliar. Kalau dibuat CFO margin, BSML minus 18,55%, RIGS sekitar 76,90%, BESS sekitar 35,59%. Ini jaraknya jauh. Laba bersih juga memperlihatkan gap kualitas. NPM BSML 3,73%, sementara NPM RIGS sekitar 19,93% dan NPM BESS sekitar 23,66%. Jadi secara statistik, BSML jauh lebih tipis margin dan lebih lemah kas dibanding dua pembanding yang paling mirip.
Dari sisi belanja modal, ini juga mengungkap fase siklus bisnis yang berbeda. Capex BSML hanya sekitar Rp47,9 juta, secara persentase cuma sekitar 0,08% dari revenue, nyaris nol. RIGS capex Rp12,48 miliar atau sekitar 16,06% dari revenue, artinya masih ada investasi. BESS capex Rp1,06 miliar atau sekitar 0,41% dari revenue, ini tipe harvesting, tidak agresif belanja, tapi tetap CFO kuat. Jadi BSML terlihat bukan sedang ekspansi, melainkan menahan napas, menunda investasi, dan fokus merapikan utang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Struktur utang juga membuat BSML kelihatan paling rentan dibanding dua pembanding ini. Utang bank BSML Rp29,85 miliar, BESS Rp15,62 miliar, RIGS hampir nihil sekitar Rp0,5 miliar. Kalau dibuat utang terhadap aset, BSML sekitar 14,78%, BESS sekitar 2,19%, RIGS sekitar 0,06%. Dan kalau investor mencoba mengukur kemampuan bayar, BESS secara teori bisa menutup utang banknya dari CFO dalam sekitar 0,17 tahun, kira-kira 2 bulan, sedangkan RIGS bahkan lebih cepat karena utangnya kecil sekali. BSML tidak bisa dihitung payback dari CFO karena CFO negatif, dan dari laba disetahunkan Rp3 miliar, butuh sekitar 9,95 tahun untuk melunasi utang bank Rp29,85 miliar, itu pun asumsi laba stabil, padahal revenue sedang turun tajam.
Jadi BSML tidak unik dari sisi model bisnis, karena inti bisnisnya tetap jasa kapal dan tongkang, mirip perusahaan kapal tongkang lainnya. Yang unik adalah kombinasi tiga hal yang jarang nyaman dilihat bersamaan. Skala bisnis turun 68,5% secara tahunan, kas hampir nol sementara utang jatuh tempo 1 tahun Rp18,27 miliar, dan CFO negatif walau penagihan pelanggan terlihat bagus serta CCC hampir nol. Ditambah lagi, deleveraging dilakukan lewat jual aset kapal Rp39 miliar, ini memperbaiki neraca tapi berisiko mengecilkan mesin pendapatan.
Kalau investor mau menilai BSML dengan jujur dan terukur, fokusnya bukan ke NPM 3,73% yang kelihatan stabil, tetapi ke dua pertanyaan besar. Pertama, BSML bisa balikkan CFO ke positif atau tidak, karena tanpa CFO positif, laba cuma angka. Kedua, BSML bisa melewati tembok likuiditas Rp18,27 miliar jatuh tempo 1 tahun dengan kas Rp171 juta atau tidak, karena ini bukan masalah kosmetik, ini masalah kelangsungan napas operasional. Kalau dua ini beres, barulah docking asset dalam pembangunan Rp22,5 miliar bisa dianggap katalis kapasitas, bukan sekadar catatan. Kalau dua ini tidak beres, maka BSML bukan cerita unik yang menarik, tetapi cerita kecil yang gampang terseret ombak besar industri. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
๐ข Identitas BSML
โ Pelayaran domestik kapal-tongkang
๐ข๏ธ Izin perdagangan BBM
๐ฅ 22 karyawan
๐ Skala 9M 2025
โฌ๏ธ Revenue Rp60,37 M minus 68,5%
โฌ๏ธ Laba Rp2,25 M minus 67,5%
๐ฉ NPM 3,73% stabil
๐ข GPM 29,19% naik
๐ข OPM 13,02% naik
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
๐ง Kas vs napas
๐ธ CFO minus Rp11,20 M
๐ฆ Kas Rp171 Jt
โณ Utang jatuh tempo 1 tahun Rp18,27 M
๐งฉ Kontradiksi unik
๐งฎ CCC 0,4 hari tapi CFO negatif
๐ฆ Jual 1 tugboat + 1 barge Rp39 M untuk bayar utang
Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
๐ Pembanding
๐ CFO margin
๐ด BSML minus 18,55%
๐ข RIGS 76,90%
๐ข BESS 35,59%
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU
1/3


