EXCL Pasca Merger: Masih Layak untuk Investasi Jangka Panjang?
Merger antara PT XL Axiata Tbk dan PT Smartfren Telecom Tbk yang efektif pada April 2025 menandai babak baru bagi industri telekomunikasi Indonesia. Entitas hasil penggabungan tersebut kini beroperasi dengan nama PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL). Namun, di balik transformasi besar ini, kinerja keuangan 2025 justru mencatatkan tekanan signifikan. Hal ini memunculkan pertanyaan penting bagi investor: apakah EXCL masih layak untuk investasi pasca-merger?
Tekanan Kinerja Jangka Pendek Pasca Merger
Pada periode 9M2025, EXCL mencatatkan rugi bersih sebesar Rp2,6 triliun, berbanding terbalik dengan laba bersih Rp1,33 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini bukan mencerminkan lemahnya fundamental inti bisnis, melainkan lebih disebabkan oleh dampak akuntansi dan operasional dari proses merger berskala besar.
Beberapa faktor utama penyebab penurunan kinerja antara lain:
1. Lonjakan Beban Penyusutan dan Amortisasi
Konsolidasi aset pasca-merger, termasuk penyesuaian nilai wajar aset jaringan dan spektrum, mendorong kenaikan beban penyusutan sebesar 36% menjadi Rp12,68 triliun. Di dalamnya terdapat percepatan penyusutan senilai Rp1,92 triliun akibat rencana penggantian perangkat jaringan dan pengembalian spektrum 900 MHz pada 2026. Amortisasi juga melonjak hingga 90%.
2. Kenaikan Beban Operasional
Beban gaji dan tunjangan karyawan meningkat 112% menjadi Rp2,67 triliun seiring integrasi SDM dari Smartfren. Selain itu, beban infrastruktur naik 31%, biaya interkoneksi dan biaya langsung lainnya meningkat 54%, serta muncul biaya integrasi bersifat satu kali (one-off costs).
3. Tekanan Beban Keuangan dan Impairment
Beban keuangan meningkat 29% menjadi Rp2,97 triliun akibat kenaikan utang dan liabilitas sewa. Di sisi lain, perusahaan juga mencatatkan impairment loss sebesar Rp1,09 triliun atas investasi di PT Link Net Tbk, yang kinerjanya masih membukukan rugi.
Dari sisi profitabilitas, EXCL masih berada dalam fase transisi dengan OPM sebesar 0,14 dan NPM -8,50, mencerminkan tekanan margin jangka pendek. Namun, proyeksi kinerja ke depan menunjukkan arah yang lebih konstruktif.
1. Pendapatan tumbuh dari Rp41–42 triliun (2025) menjadi Rp49–52 triliun pada 2027
2. Laba usaha mencapai titik impas pada 2025 dan meningkat menjadi Rp6–8 triliun pada 2027
3. Laba bersih berbalik positif mulai 2026 dan berpotensi mencapai Rp3–4,5 triliun pada 2027
Katalis Positif Jangka Menengah-Panjang (2026–2027)
Prospek pemulihan EXCL sangat bergantung pada keberhasilan realisasi sinergi merger. Beberapa katalis utama yang mendukung outlook positif antara lain:
1. Realisasi Sinergi Merger
Efisiensi biaya dari integrasi jaringan, spektrum, dan operasional ditargetkan mencapai US$150–200 juta pada 2026. Sinergi ini diharapkan meningkatkan margin EBITDA dan menjadi pendorong utama pembalikan laba.
2. Meredanya Beban One-Off
Beban penyusutan percepatan dan biaya integrasi yang menekan laba 2025 diperkirakan mulai mereda pada 2026. Capex intensity juga diproyeksikan menurun setelah periode puncak 2025–2026, dengan leverage membaik dari 2,3x menjadi sekitar 1,7x pada 2027.
3. Pertumbuhan Permintaan Data
Konsumsi data di Indonesia tetap tumbuh struktural. Dengan basis pelanggan yang lebih besar dan posisi pasar yang lebih kuat pasca-merger, EXCL memiliki peluang meningkatkan ARPU secara bertahap.
4. Ekspansi dan Modernisasi Jaringan (5G)
Investasi jaringan dan persiapan 5G diharapkan memberikan nilai tambah melalui layanan data dan digital dengan margin lebih tinggi dalam jangka menengah.
Risiko yang Perlu Dicermati!
Meski prospek jangka menengah terlihat positif, tetap perlu mencermati sejumlah risiko utama:
1. Keterlambatan realisasi sinergi merger yang dapat memperpanjang tekanan margin
2. Persaingan tarif yang ketat dengan Telkomsel dan Indosat
3. Capex dan beban operasional yang masih tinggi pada 2025–2026
3. Risiko regulasi terkait spektrum dan kebijakan industri
Tinjauan Teknikal Jangka Panjang
Secara teknikal, EXCL menunjukkan sinyal konstruktif setelah berhasil breakout dari area resistance 3.750. Dalam perspektif jangka panjang, saham ini berpotensi melanjutkan tren kenaikan dengan target bertahap di area 4.830 hingga 6.975, selama tren utama tetap terjaga.
Layak Investasi?
Meskipun proyeksi kinerja EXCL ke depan menunjukkan arah yang lebih positif seiring realisasi sinergi merger dan meredanya beban integrasi, kerugian yang masih terjadi saat ini mengindikasikan bahwa saham ini berada dalam fase pemulihan. Dengan demikian, EXCL belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang stabil dalam jangka pendek, meskipun outlook jangka menengah–panjang tetap konstruktif.
Bagi investor, pendekatan yang lebih bijak adalah menunggu konfirmasi pemulihan kinerja, baik dari sisi perbaikan laba, margin, maupun realisasi sinergi yang konsisten. Sementara itu, saham ini dapat masuk dalam kategori wait and see atau dipantau untuk akumulasi bertahap, khususnya bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang dan toleransi risiko yang memadai.
$EXCL
