Saat market sedang bull, orang suka percaya pada sebuah mitos manis
“Beli apa aja pasti naik.”
Kalimat yang terdengar seperti kearifan pasar, padahal lebih mirip dongeng pengantar tidur ritel yang lagi mabuk euforia.
Di puncak kenaikan, timeline mendadak penuh orang yang tampil sok seperti dewa saham. Apa pun yang mereka pegang katanya berubah jadi emas. Padahal, kalau ditarik benang halusnya, bukan mereka yang jenius, angin bullishlah yang sedang meniup layar kapal seluruh penumpang.
Namun mitos itu rapuh.
Di balik ceritanya, ada statistik sunyi yang tak pernah dibuatkan konten, banyak ritel tetap minus di tengah pasar yang sebenarnya sedang baik2 saja.
Mereka masuk bukan karena analisa, tapi karena bisik2 panas dari grup.
Mereka beli bukan karena tradeplan, tapi karena takut ketinggalan rombongan.
Dan mereka keluar bukan karena disiplin, tapi karena panik saat candle merah pertama muncul.
Lalu kita sadar...
Bull market memang ramah, tapi tidak adil.
Ia mengangkat saham yang disorot sentimen, memoles chart yang sudah dipoles bandar, tapi ia tak akan menyelamatkan siapa pun yang masuk dengan modal harapan dan keberanian instan.
Di lantai bursa, emas tidak muncul dari keberuntungan.
Emas muncul dari keputusan yang direncanakan.
Itulah sebabnya kalimat “beli apa aja naik” tidak pernah benar2 hidup di dunia nyata.
Pasar tak berubah jadi mesin pencetak cuan hanya karena indeks sedang tersenyum.
Tetap ada yang terpelanting oleh FOMO, tetap ada yang tersandung oleh kesalahan baca momentum, tetap ada yang tersangkut karena memaksa masuk tanpa arah.
Dan pada akhirnya, pasar hanya menghargai dua hal
Analisa yang jernih, dan tradeplan yang dijalankan dengan kepala dingin.
Sisanya?
Hanya noise, yang hilang seperti bisikan saat musik euforia berhenti.
Random tag $SOLA $ESSA $DEWA