Masih belum cukup nambah di $IPCC, tadi war di 1300 ga kebagian, kebagiannya beberapa lot di 1305. cukup selot-selot aja, dry powder masih banyak, average masih double digit jauh
Sampai kapan capeknya akumulasi?
1. Sampai dry powder habis
2. Sampai average rapet di single digit
Mana yang tercapai lebih dulu
FAQ:
1. Targetnya berapa?
a. Untuk Grahamist, sampai tidak ada margin of safety. Jadi bukan harga statis, karena kalau free cash flow naik, margin of safety juga akan naik, KECUALI kalau harganya naik lebih kencang daripada kenaikan free cash flow-nya
b. Untuk Lynchist, sampai story-nya berubah atau terpatahkan
c. Untuk Fisherist, sampai integritas manajemennya rusak permanen
d. Untuk Berkshirist, sampai moat-nya rusak permanen
2. Insentif EV kan dihapuskan?
Pelindo Multi Terminal TIDAK berbisnis terminal kendaraan hanya karena ajimumpung ada katalis insentif EV. Kalau orang bikin bisnis cuma karena ada satu katalis saja, jadinya kaya orang yang pas musim es kepal milo bikin es kepal milo, pas musim dalgona bikin dalgona, pas lebaran bikin nastar, pas tahun baru bikin terompet, pas agustus jahit bendera, dsb.
Pelindo Multi Terminal berbisnis karena sebagai negara maritim, ada demand yang tidak akan pernah habis, dan demand itu akan selalu datang TANPA mereka perlu bermanuver
Tapi kalau tetap mau bahas EV secara khusus, memang ada roadmap-nya:
Low hanging fruit: impor CBU. Impor CBU bukan hanya kendaraan pribadi, tapi juga kendaraan komersial, bahkan alat berat
Jangka menengah: selain CBU, CKD juga tetap butuh handling dan inspeksi khusus. Ini latar belakang dan alasan kenapa Pelindo memekarkan antara Pelindo Terminal Peti Kemas dan Pelindo Multi Terminal
Jangka panjang: baik CBU maupun CKD, terminal kendaraan TIDAK hanya handling inbound, tetapi juga bisa handling outbound. Kalau foreign direct investor mau bikin plant manufaktur di Indonesia, kalau Indonesia mau industrialisasi menjadi negara berbasis produksi, bukan hanya konsumsi, kalau mau neraca dagang surplus, maka mereka akan persiapan infrastrukturnya dulu. Jadi kalau dari sudut pandang asing, kalau mau invest ya partnership-nya akan lewat konsorsium yang dipimpin Pelindo dulu, dari sudut pandang Indonesia, IPCC akan jadi terminal EKSPOR baik CBU maupun CKD
3. Pemain di konsorsium ekosistem industri EV Subang-Patimban kan ada banyak, kenapa memilih IPCC?
a. Posisi dan kinerja keuangan paling solid, manajemen paling pro shareholder berdasarkan prinsip-prinsip Scuttlebutt ala Fisher-Munger-Berkshire. Kamu mau lebih percaya sama "story" bikinan influencer stockbit, atau lebih critical thinking sama tanya-jawab manajemen di public expose dan RUPS, ya itu hak kamu. Moat paling lebar, dan satu-satunya yang bisa merusak adalah jika kebijakan negara tidak sejalan dengan Danantara. Posisinya stalwart, tidak perlu manuver untuk merayu pelanggan, kalau manajemennya brain-dead pun, demand tetap datang, sedangkan manajemen IPCC know what they're doing
b. Pemain-pemain lain di konsorsium-konsorsium ekosistem ini, dari mulai yang dikatain sama influencer, "story-nya sudah berakhir, bandarnya sudah distribusi semua, cuma dibikin false breakout trap biar ritel beli terus," sampai yang hanya bagian dari diversifikasi kecil-kecilan di industri EV, semuanya sudah priced-in. Yang stalwart dan punya moat paling lebar malah paling small cap. Yang lain hari-hari dipompom media, bawa-bawa afiliasi konglomerat, yang ini masih pada akumulasi diam-diam di harga bawah. Bukan berarti pemain lain bisnisnya kopong, tentu saja tidak. Hanya saja kalau mau tahu apa yang dimaksud Ben Graham dan Howard Marks, "Mr. Market salah harga," nah inilah contohnya
4. Teknikal, volume, bandarnya gimana?
Nggak menarik, kalau mau yang menarik silakan ke dada dewa bumi dan dada burung walet, ikuti aja influencer yang mendongeng rumor cocoklogi dengan volume spike, BUKAN dari integritas, interaksi, dan keterbukaan publik manajemennya
5. Apakah akan multibagger dalam seminggu?
Nggak. Ini perusahaan YSSA (yang sabar-sabar aja). Yang nggak sabar, yang maunya swing, nggak akan tahan di sini
Tag juga partner-partner strategisnya: $ASII $IPCM
1/5




