imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Punahnya Kartu Perdana Bonus Kuota

Ingat zaman kita bisa gonta-ganti kartu perdana setiap minggu hanya untuk mencari kuota bonus paling murah? Masa-masa indah nan berdarah-darah itu sepertinya sudah resmi masuk museum. Kalau kamu perhatikan paket data di aplikasi langgananmu belakangan ini, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dompet. Harganya naik pelan tapi pasti, dan promo gila-gilaan yang dulu membuat operator megap-megap mulai hilang ditelan bumi. Para raksasa telekomunikasi kita sepertinya sudah tobat dari hobi bakar uang demi angka jumlah pelanggan yang sebenarnya semu. Mereka mulai sadar kalau punya ratusan juta pengguna tapi hanya setor recehan itu tidak ada gunanya bagi kelangsungan bisnis di tengah tekanan ekonomi yang makin tidak menentu.

Sekarang ceritanya sudah bukan lagi soal siapa yang paling banyak punya menara, melainkan siapa yang paling pintar memeras margin dari setiap byte yang kita konsumsi. Dengan inflasi yang masih membayangi dan daya beli masyarakat yang sedang diuji, internet anehnya tetap jadi pengeluaran yang tidak bisa ditawar. Orang mungkin mulai mengurangi jatah makan di kafe atau menunda beli baju baru, tapi mereka tidak akan sudi kalau akses media sosialnya putus. Inilah yang dimanfaatkan operator untuk melakukan perbaikan harga secara disiplin. Mereka bertaruh pada fakta bahwa kita sudah kecanduan internet dan akan tetap bayar meskipun harganya naik sekitar enam persen. Ini adalah pergeseran struktural yang cukup berani karena mereka lebih memilih kehilangan pelanggan yang tidak loyal daripada merugi terus-menerus.

Yang menarik justru datang dari celah yang selama ini diabaikan, yaitu internet rumah buat kaum yang selama ini merasa internet kabel itu kemahalan. Bayangkan saja, penetrasi internet kabel di kita ini masih sangat rendah karena biayanya yang sering kali membuat dahi mengkerut. Tapi sekarang ada harapan baru lewat teknologi internet nirkabel tetap yang memanfaatkan spektrum frekuensi satu titik empat gigahertz yang baru saja dialokasikan pemerintah. Ini bukan sekadar istilah teknis yang membosankan, tapi tiket buat jutaan rumah tangga untuk punya internet cepat dengan harga seratus ribuan per bulan. $WIFI sedang mencoba peruntungan di sini dengan produk Internet Rakyat mereka. Kalau ini sukses, peta persaingan internet rumah kita bakal berubah total karena selama ini akses tersebut seolah hanya hak istimewa warga kota besar yang mampu membayar langganan mahal.

Di sisi lain, merger antara $EXCL dan Smartfren menunjukkan kalau pemain besar pun mulai lelah berperang sendirian. Mereka butuh sinergi spektrum dan efisiensi biaya infrastruktur supaya bisa bertahan hidup dan punya ruang untuk menaikkan harga lebih tinggi lagi. Pasar sekarang lebih menghargai operator yang punya fundamental bersih daripada yang hanya jualan mimpi pertumbuhan pelanggan tanpa profit yang jelas. Kita sedang melihat proses pendewasaan industri yang tadinya liar menjadi lebih tertata, meski bagi kita sebagai konsumen, ini artinya harus rela merogoh kocek sedikit lebih dalam demi koneksi yang stabil.

Risiko tersembunyi tentu tetap mengintai di balik narasi optimis ini. Strategi menaikkan harga paket data di tengah kondisi daya beli yang lesu bisa jadi bumerang jika ternyata masyarakat lebih memilih mematikan paket data daripada harus memotong anggaran makan. Selain itu, janji internet murah lewat teknologi nirkabel baru juga butuh pembuktian eksekusi di lapangan yang tidak mudah. Namun secara keseluruhan, rasanya kita sedang berada di titik balik di mana industri telekomunikasi tidak lagi dipandang sebagai sekadar komoditas murah. Sektor ini sedang mencoba menulis ulang aturan mainnya sendiri untuk menjadi mesin pencetak uang yang lebih waras. Kita hanya perlu melihat siapa yang paling lincah berdansa di atas frekuensi yang makin terbatas ini sambil tetap menjaga kepercayaan pelanggan yang makin kritis soal harga.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

$TLKM

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy