TAKE PROFIT (TP) Tidak Ada Salahnya..
TAKE PROFIT (TP) MENGUNCI KEUNTUNGAN
Di pasar saham, ada satu pertanyaan yang selalu muncul ketika harga sedang naik tinggi:
“Apakah saya harus menjual Saham sekarang?”
HARI INI YANG DM SAYA 90% BERTANYA SEPERTI DIATAS…
Bagi SEBAGAIAN investor, menjual saat untung terasa seperti “MENGHIANATI KEYAKINAN”.
Seolah-olah menjual berarti kita TIDAK PERCAYA pada perusahaan yang kita beli.
Namun Warren Buffett mengajarkan hal yang berbeda:
Menjual bukan soal takut. Menjual adalah soal disiplin.
Karena pada akhirnya, investasi bukan tentang siapa yang paling keras bertahan, melainkan siapa yang paling konsisten mengambil keputusan rasional di tengah euforia.
Buffett Tidak Anti Take Profit
Banyak orang mengenal Buffett sebagai investor “Buy and Hold Forever”. Tapi kenyataannya, Buffett tidak selalu memegang saham selamanya.
Ia memang menyukai perusahaan hebat untuk jangka panjang.
Namun ia juga sangat realistis:
- Ketika valuasi terlalu mahal
- Ketika peluang lain lebih baik
- Ketika bisnis berubah
- Ketika risiko makin besar dibanding potensi hasil
maka MENJUAL adalah keputusan yang MASUK AKAL.
Buffett pernah mengatakan (dalam berbagai kesempatan) bahwa ia ingin membeli bisnis hebat dan memegangnya lama, tetapi ia juga paham:
Tidak ada yang salah dengan merealisasikan keuntungan, dengan Take Profit (TP) Berarti dia telah MENGUNCI KEUNTUNGAN
Contoh Saham Tersohor yang Pernah Buffett Jual (Take Profit / Exit)
Berikut beberapa contoh saham terkenal yang pernah Buffett (Berkshire Hathaway) kurangi besar-besaran atau keluar, dan bisa kita anggap sebagai “take profit” versi investor besar.
1. Apple (AAPL) - Take Profit Parsial
Ini contoh paling relevan dan “tersohor”.
Apple adalah saham terbesar di Berkshire selama bertahun-tahun. Buffett sangat mencintai bisnisnya karena brand kuat, ekosistem solid, loyalitas konsumen luar biasa.
Tapi… ketika porsinya terlalu besar dan valuasi naik tinggi, Berkshire mengurangi kepemilikan Apple.
Pelajaran dari sini:
Bahkan saham terbaik pun boleh di take profit sebagian, bukan karena jelek, tapi karena risk management dengan MENGUNCI KEUNTUNGAN
Buffett tetap menyukai Apple, tapi dia juga menjaga portofolio tetap sehat.
2. Goldman Sachs (GS) - Masuk Saat Krisis, Keluar Saat Kondisi Membaik
Buffett pernah terkenal masuk Goldman Sachs saat krisis 2008 dengan deal yang sangat menguntungkan.
Setelah situasi membaik, Berkshire kemudian mengurangi/keluar dari posisi tersebut.
Ini mirip gaya klasik Buffett:
- Masuk saat takut melanda,
- keluar saat valuasi dan kondisi sudah “normal kembali”.
Pelajaran:
Ada momen investasi yang sifatnya OPORTUNISTIK.
Saat tujuan tercapai, take profit itu wajar.
3. BYD - Take Profit Parsial Setelah Naik Besar
Berkshire melalui entitasnya pernah memegang BYD (perusahaan EV China) sejak lama.
Setelah BYD naik besar dan menjadi sorotan global, Berkshire kemudian mengurangi kepemilikan BYD secara bertahap.
Pelajaran:
Saat sebuah saham sudah naik tinggi dan menjadi “terlalu ramai”, mengurangi posisi bisa jadi keputusan bijak.
Dan ada Banyak beberapa contoh lagi…
“INTINYA TAKE PROFIT ITU TIDAK ADA SALAHNYA, WALAUPUN SAHAM TERSEBUT NANTINYA SEMAKIN NAIK.. MINIMAL ANDA SUDAH DISIPLIN MENGURANGI RESIKO DENGAN MENGUNCI KEUNTUNGAN”
Sekedar Tag:
$IHSG $BUMI $TAPG