imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

Mana Yang Terbaik dari $ICBP vs $ADES vs $CPRO

Lanjutan dari postingan di External Comunity Pintar Nyangkut di Telegram dengan Kode External Community menggunakan kode: A38138 https://stockbit.com/post/13223345

ICBP memiliki beberapa saingan kelas berat di bisnis konsumer. Di papan bursa, saingan kelas berat itu bukan selalu berarti produknya satu rak, tapi berarti rebutan satu hal yang sama, yaitu kepercayaan investor terhadap kualitas laba dan kualitas kas. Saat pasar sedang sensitif, perusahaan yang labanya besar tapi kasnya rapuh akan dihukum, perusahaan yang kasnya tebal tapi neracanya bawa risiko besar juga bisa ikut dihukum. Itulah kenapa membandingkan ICBP dengan ADES, CPRO, lalu disandingkan juga dengan JPFA, CPIN, MAIN, SIPD, hasilnya jadi seperti melihat dua dunia yang beda, konsumer yang cenderung stabil versus agribisnis yang cenderung siklikal. Dan di tengah semua itu, ICBP kelihatan seperti raksasa yang paling rapi di kas, tapi juga paling berat di beban utang. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Dari sisi skala nominal 9M 2025, ICBP berdiri paling depan di revenue sekitar Rp56,27 T, tipis di atas CPIN sekitar Rp50,60 T dan di atas JPFA sekitar Rp43,10 T, sementara MAIN sekitar Rp9,25 T, CPRO sekitar Rp7,34 T, SIPD sekitar Rp3,93 T, dan ADES sekitar Rp1,85 T. Skala ini langsung terasa di laba bersih juga, ICBP sekitar Rp7,11 T, jauh di atas CPIN sekitar Rp3,37 T dan JPFA sekitar Rp2,41 T, lalu ADES sekitar Rp0,49 T dan CPRO sekitar Rp0,43 T, MAIN sekitar Rp0,14 T, SIPD sekitar Rp0,005 T. Kalau investor suka cara baca yang lugas, ICBP itu bukan cuma paling besar, tapi juga paling tebal labanya dalam kelompok ini. Namun uang yang paling jujur tetap kas, dan di CFO ICBP juga paling besar sekitar Rp7,17 T, mengungguli CPIN sekitar Rp4,02 T dan JPFA sekitar Rp2,21 T, lalu MAIN sekitar Rp0,41 T, ADES sekitar Rp0,39 T, CPRO sekitar Rp0,24 T, SIPD sekitar Rp0,07 T. Setelah dikurangi capex, free cashflow ICBP sekitar Rp3,86 T masih jadi yang terbesar, diikuti CPIN sekitar Rp2,71 T, lalu JPFA sekitar Rp0,68 T, ADES sekitar Rp0,17 T, MAIN sekitar Rp0,17 T, CPRO sekitar Rp0,07 T, dan SIPD minus sekitar Rp0,05 T. Di titik ini sudah kelihatan pola, skala besar yang sehat itu bukan cuma revenue besar, tapi kemampuan menyisakan free cashflow, dan ICBP serta CPIN menonjol.

Kalau diskalakan menjadi margin supaya adil, peta kekuatan berubah lagi. ADES tampil sebagai juara persentase, CFO margin sekitar 20,88% dan NPM sekitar 26,43%, ini level yang membuat ADES terlihat seperti perusahaan yang sangat efisien dan sangat minim gangguan dari struktur pendanaan. ICBP berada di level besar yang jarang bisa ditiru, CFO margin sekitar 12,74% dan NPM sekitar 12,63%, artinya di skala Rp56,27 T revenue, ICBP masih bisa mempertahankan ketebalan kas dan laba yang rapi. CPIN berada di tengah yang sehat, CFO margin sekitar 7,93% dan NPM sekitar 6,65%, sedangkan JPFA CFO margin sekitar 5,12% dan NPM sekitar 5,59%. CPRO lebih tipis, CFO margin sekitar 3,32% dan NPM sekitar 5,82%, MAIN NPM sekitar 1,47% dengan CFO margin sekitar 4,41%, dan SIPD paling tipis, NPM sekitar 0,13% dan CFO margin sekitar 1,79%, lalu free cashflow malah negatif. Jadi kalau investor membandingkan kualitas kas versus laba dalam satu tarikan napas, ADES menang telak di persentase, ICBP menang telak di kombinasi persentase yang tetap tebal di skala raksasa. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Capex memberi sinyal gaya bermain masing-masing. ADES punya capex terhadap revenue sekitar 11,53%, tertinggi, ini biasanya ciri perusahaan yang sedang agresif memperbesar kapasitas dan memperkuat mesin pertumbuhan, selaras dengan cerita penggunaan capex untuk penambahan tanah dan mesin pabrik. ICBP capex terhadap revenue sekitar 5,88%, juga tinggi untuk skala raksasa, dan ini masuk akal karena bisnis makanan olahan butuh pabrik, lini produksi, dan efisiensi logistik yang terus ditingkatkan. CPIN, MAIN, CPRO ada di kisaran 2,38% sampai 2,57%, JPFA 3,54%, SIPD 3,01%, sehingga secara umum grup agribisnis terlihat lebih moderat di capex terhadap revenue dibanding ADES dan ICBP, walau kebutuhan capex mereka tetap besar di nominal untuk skala tertentu. Yang lebih penting lagi, capex dibanding CFO menunjukkan siapa yang belanja dari kas dengan nyaman. CPIN paling longgar, capex sekitar 32,40% dari CFO. ICBP sekitar 46,14% masih masuk kategori nyaman. ADES sekitar 55,24% masih wajar untuk fase ekspansi. JPFA sekitar 69,12% dan CPRO sekitar 71,90% membuat ruang napas lebih sempit, sementara SIPD sekitar 168,15% menunjukkan belanja modalnya melampaui kas operasional, lalu wajar kalau free cashflow jadi negatif. Ini inti perbandingan trend versus skala, perusahaan kecil bisa terlihat sangat profitabel tapi harus belanja besar untuk tumbuh, perusahaan besar bisa belanja besar tapi tetap punya sisa kas, sedangkan perusahaan siklikal bisa belanja besar justru ketika kasnya tidak stabil.

Sekarang masuk ke utang berbunga dan beban yang menempel di tiap model bisnis. ICBP menanggung utang berbunga sekitar Rp46,91 T, paling besar dan jaraknya jauh dari yang lain. JPFA sekitar Rp11,37 T, CPIN sekitar Rp7,06 T, MAIN sekitar Rp1,08 T, CPRO sekitar Rp0,73 T, SIPD sekitar Rp0,89 T, sedangkan ADES nyaris nol, hanya sekitar Rp0,37 B. Di sinilah investor harus tegas membedakan risiko. ADES bisa terlihat sangat cantik di margin karena beban utangnya praktis tidak ada. ICBP bisa terlihat sangat kuat di kas, tapi utangnya besar, sehingga investor wajar memberi diskon risiko ketika kurs dan biaya pendanaan jadi isu. Dan di agribisnis, utang sering berkait dengan siklus modal kerja dan ekspansi, sehingga di periode tertentu terlihat aman, di periode lain bisa cepat terasa berat. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

Efisiensi per karyawan menambah lapisan skala yang lebih manusiawi. CPIN adalah mesin efisiensi revenue per karyawan, sekitar Rp5,16 B per karyawan, disusul CPRO sekitar Rp4,16 B dan ADES sekitar Rp3,95 B, lalu SIPD sekitar Rp2,89 B, MAIN sekitar Rp2,54 B, ICBP sekitar Rp1,52 B, dan JPFA sekitar Rp1,38 B. Namun untuk laba per karyawan, ADES jauh memimpin sekitar Rp1,04 B per karyawan, ini gila-gilaan efisien, lalu CPIN sekitar Rp343 J dan ICBP sekitar Rp192 J, sedangkan JPFA sekitar Rp77 J, CPRO sekitar Rp242 J, MAIN sekitar Rp37 J, SIPD sekitar Rp3,7 J. Di CFO per karyawan, CPIN sekitar Rp410 J masih yang paling tinggi, ADES sekitar Rp825 J terlihat sangat tinggi karena skala karyawan kecil dan margin kas tebal, ICBP sekitar Rp193 J, MAIN sekitar Rp112 J, CPRO sekitar Rp138 J, JPFA sekitar Rp70 J, SIPD sekitar Rp52 J. Dan yang paling nyentil, utang per karyawan ICBP sekitar Rp1,27 B per karyawan, tertinggi, sehingga narasinya konsisten, ICBP kuat di kas, tetapi membawa beban utang besar yang menempel di setiap kepala secara statistik. ADES utang per karyawannya sekitar Rp0,8 juta, praktis nol, sehingga wajar margin dan fleksibilitasnya terlihat paling bersih.

Bagian trend pertumbuhan membuat investor bisa melihat siapa yang sedang menekan gas, siapa yang sedang menghadapi gangguan. Revenue growth dipimpin ADES sekitar 38,3%, jauh meninggalkan CPRO sekitar 6,5% dan JPFA sekitar 4,4%, sementara SIPD turun sekitar 1,7%. Laba growth paling menonjol CPIN sekitar 41,0% dan ADES sekitar 39,5%, sedangkan ICBP turun sekitar 12,7% dan penjelasannya jelas, rugi kurs pendanaan membuat laba bersih tertekan walau mesin operasionalnya relatif stabil. CFO growth juga menarik, JPFA tumbuh sekitar 30,8% dan ADES sekitar 27,4%, tetapi CPRO justru anjlok sekitar 43,9%, ini contoh klasik betapa volatile arus kas di bisnis pakan dan agribisnis, angka laba bisa terlihat wajar, tapi kas bisa berubah drastis ketika modal kerja berputar tidak sesuai ekspektasi. Upgrade Skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf

ICBP hidup dari mi instan sekitar 74,7% revenue, artinya mesin utama jelas dan konsisten. ADES motor utamanya kosmetik sekitar 50,5% revenue, dengan margin kotor kosmetik sekitar 62,2% yang jauh lebih tinggi daripada makanan dan minuman sekitar 40,0%, sehingga wajar margin keseluruhan ADES terlihat sangat tebal. CPRO ditopang pakan sekitar 82,8% revenue, JPFA motor peternakan komersial sekitar 40,1% revenue, dan di grup peternakan margin pakan JPFA sekitar 19,9% menjadi sorotan. Dari sisi aset, ICBP sekitar Rp132,4 T berada di kelas raksasa, CPIN sekitar Rp43,7 T kelas menengah besar, sedangkan ADES sekitar Rp3,2 T dan SIPD sekitar Rp3,0 T adalah pemain kecil. Ini menjelaskan kenapa ADES bisa menang di persentase, tetapi ICBP menang di bobot kas absolut, dan juga menjelaskan kenapa ICBP sering jadi pusat perhatian pasar, karena perubahan kecil di sentimen kurs dan utang bisa menggeser angka laba dalam nominal yang besar.

Rentang NPM di tujuh perusahaan ini bergerak dari sekitar 0,13% sampai 26,43%, dengan rata-rata sekitar 8,39% dan median sekitar 5,82%. CFO margin bergerak dari sekitar 1,79% sampai 20,88%, dengan rata-rata sekitar 8,03% dan median sekitar 5,12%. Capex terhadap revenue bergerak dari sekitar 2,38% sampai 11,53%, dengan rata-rata sekitar 4,49% dan median sekitar 3,01%. Artinya, ICBP dan ADES berada di wilayah di atas rata-rata, tetapi dengan alasan yang berbeda, ADES menang karena efisiensi dan utang nyaris nol, ICBP menang karena kualitas kas yang tebal di skala raksasa. Dan perusahaan agribisnis di kelompok ini memberi pelajaran yang tegas, margin bisa pulih, tapi arus kas bisa berubah cepat, sehingga investor yang mengejar stabilitas biasanya akan lebih menghargai konsistensi CFO dan free cashflow daripada sekadar cerita pertumbuhan revenue.

Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.

Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345

Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm

Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU

Read more...

1/2

testes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy