imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

“IHSG Melambung, Multifinance Tertinggal: Kurang Insentif atau Menunggu Momentum?”

Ketika IHSG terus melambung tinggi dan mencetak level tertinggi baru, ekspektasi pasar secara alami ikut meningkat: sektor-sektor lain diharapkan menyusul reli tersebut. Namun realitanya, sektor Jasa Pembiayaan justru terlihat tertinggal, bergerak datar, minim volume, dan nyaris tanpa “gebrakan”. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar bagi investor: apakah sektor ini kurang mendapat insentif pemerintah, atau ada faktor struktural lain yang membuatnya tertahan?

Pertama, dari sisi kebijakan dan insentif, sektor jasa pembiayaan memang tidak mendapatkan dorongan langsung sebesar sektor perbankan atau infrastruktur. Insentif pemerintah seperti subsidi bunga, stimulus kredit, atau relaksasi likuiditas lebih banyak mengalir ke bank sebagai tulang punggung sistem keuangan. Perusahaan multifinance berada di lapis kedua, sangat bergantung pada cost of fund dari bank atau pasar obligasi. Ketika suku bunga masih relatif tinggi dan likuiditas selektif, ruang ekspansi multifinance menjadi terbatas meskipun IHSG sedang euforia.

Kedua, ada faktor risiko bisnis dan kehati-hatian manajemen. Jasa pembiayaan sangat sensitif terhadap kualitas kredit (NPL). Di tengah pertumbuhan ekonomi yang belum merata, banyak perusahaan pembiayaan memilih strategi defensif: menahan ekspansi, memperketat pembiayaan, dan fokus menjaga rasio keuangan. Strategi ini sehat secara fundamental, tetapi dari sudut pandang pasar saham, langkah defensif sering kali diterjemahkan sebagai “tidak ada katalis”, sehingga harga saham bergerak stagnan meskipun indeks secara keseluruhan naik.

Ketiga, sentimen pasar dan preferensi investor juga berperan besar. Kenaikan IHSG belakangan ini lebih banyak ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar, sektor komoditas tertentu, dan emiten yang memiliki narasi pertumbuhan agresif. Sebaliknya, saham jasa pembiayaan—yang umumnya small hingga mid cap—kurang memiliki story jangka pendek yang “menjual”. Minimnya aksi korporasi, akuisisi, atau ekspansi besar membuat sektor ini kalah pamor dibanding sektor lain yang lebih atraktif secara narasi.

Terakhir, bukan berarti sektor jasa pembiayaan benar-benar kehilangan masa depan. Justru kondisi saat ini bisa mencerminkan fase akumulasi sunyi, di mana valuasi relatif tertinggal sementara fundamental perlahan diperbaiki. Jika ke depan pemerintah mulai mendorong konsumsi, penurunan suku bunga benar-benar terasa, atau muncul kebijakan yang mendukung pembiayaan non-bank, sektor ini berpotensi menyusul. Dengan kata lain, bukan IHSG yang “terlalu tinggi”, melainkan sektor jasa pembiayaan yang masih menunggu momentum dan katalis yang tepat.

$BFIN $ADMF $CFIN

Read more...

1/2

testes
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy