$ADRO
Keberanian ADRO Berinvestasi pada Perusahaannya Sendiri
Kebanyakan investor ritel lebih suka perusahaan yang melakukan aksi korporasi (kalau gak mau disebut aksi akrobatik) penambahan modal entah berupa right issue atau penambahan utang bank. Aksi korporasi itu biasanya didahului oleh narasi-narasi ekspansi usaha, penambahan lini bisnis baru, akuisi dan lain sebagainya.
Selanjutnya muncul para analis (entah analis beneran apa analis karbitan) yang menyodorkan potensi upside harga saham akan kesekian dan akan makin kesekian kalau bisa masuk indeks global. Psikologi massa kepancing, harga pun beneran ngebut kencang hingga puncak tertinggi yang bisa digapainya. Lalu...terjadilah apa yang akhirnya terjadi. Di fase ini tukang bully pun bermunculan menggarami luka para sangkuters yang tengah bermuram durja.
Tidak heran saham-saham yang berlari kencang tanpa spesifikasi mesin yang sepadan dengan kecepatan ngebutnya biasanya adalah saham-saham yang memiliki narasi paling fantastis yang kalau kita tengok "jeroannya" hanya akan membuat kita mengelus dada dan menggelengkan kepala lalu bertanya-tanya: "Apa iya?"
Kalau kebetulan lagi Instagram-an, daripada scrolling Lambe Gosip atau Lambe Ghibah, coba baca-baca ulasan-ulasan singkat Pak Joeliardi Sunendar di IG-nya. Singkat tapi berisi.
Setidaknya ada dua postingan yang relevan diketengahkan terkait bagaimana sebuah perusahaan memandang bisnisnya sendiri. Daripada sibuk memikirkan perusahaan mana yang hendak diakuisisi (tentu akuisisi itu bagus kalau beneran bagus strategi dan hasilnya, kalau sebaliknya ya zonk bin boncos), kenapa perusahaan "tidak berinvestasi di perusahaannya sendiri".
Case pertama yang sempat saya baca itu $ASII, betapa "terlambatnya" manajemen ASII melakukan buyback sahamnya sendiri sehingga mereka harus mengeluarkan modal yang lebih besar untuk itu daripada yang seharusnya jika saja mereka sadar lebih awal. Kenapa ASII lebih memilih membeli saham GOTO dan HEAL yang secara profitabilitas jauh di bawah profitabilitas ASII sendiri? Akhirnya ASII memang buyback juga, meski "agak terlambat". Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Case kedua, lebih ke "sentilan" ke manajemen $ICBP. Kenapa manajemen berani berinvestasi ke Pinehill tapi terkesan tidak berani berinvestasi ke perusahaan sendiri (buyback saham)?
Kembali ke ADRO. Saya memandang keberanian ADRO "membakar" saham hasil buyback merupakan sebuah kepercayaan diri atas bisnis perusahaan saat ini dan di masa mendatang. Di saat perusahaan lain sibuk menambah saham beredar atau melirik perusahaan lain, ADRO mengurangi saham beredar dan mengamankan porsi saham di bisnisnya sendiri. Di saat perusahaan lain sibuk mengakuisisi perusahaan yang lebih agak laen, ADRO "mengeringkan" saham beredar di ADMR, anak kandungnya sendiri. Sebuah kepercayaan diri yang patut diacungi jempol.
Meski sebagai investor di saham ini juga berarti kita sedang berlambat-lambat layaknya siput 馃悓 dalam hal kenaikan harga saham karena perusahaan sendiri juga masih sibuk mengakumulasi sahamnya sendiri untuk "dihilangpaksakan" dari peredaran.
ADRO
The Sleeping 馃悏
"Selalu bijak berinvestasi,
ini bukan ajakan jual beli saham."
