Saham Sektor Makan dan Minum: $ICBP vs $CPIN vs $JPFA vs MYOR vs MAIN vs STTP vs YUPI vs GOOD
Di IHSG, saham yang fokus di sektor makan dan minum itu sangat banyak sehingga sulit untuk mencari yang terbaik. Masalahnya, investor sering keburu jatuh cinta sama merek, padahal yang menentukan nilai jangka panjang itu mesin uangnya, bukan etalasenya. Ada emiten yang labanya naik sambil gas capex, artinya mereka bukan cuma panen tapi juga nanam besar-besaran. Ada juga yang capex naik, karyawan naik, tapi laba justru turun, sinyal sederhana bahwa uang investor sedang dipakai menahan tekanan operasional atau transisi, bukan mencetak hasil. Kalau cuma pegang tiga angka yang paling gampang dibaca, laba, capex, dan jumlah karyawan, peta siapa raksasa, siapa lagi ekspansi, dan siapa lagi ngos-ngosan itu langsung kelihatan. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau fokus ke skala laba dulu, pemenangnya jelas ICBP dengan laba 9M 2025 Rp8,19 T, sendiri sudah sekitar 44,90% dari total laba gabungan 9 emiten di daftar ini. Di bawahnya ada CPIN laba Rp3,37 T, JPFA laba Rp2,63 T, dan MYOR laba Rp1,88 T. Empat nama ini saja sudah menyumbang sekitar 88,14% laba grup, jadi kalau investor bicara siapa yang paling dominan secara skala, sebenarnya pertarungannya berat di empat itu, sisanya lebih ke cerita spesifik masing-masing.
Kalau investor cari kombinasi paling menarik antara tren laba naik dan keberanian investasi, CPIN tampil paling meyakinkan di data ini. Laba CPIN naik 41,13% atau kira-kira tambah Rp982 M, sementara capexnya melonjak 173,81% atau naik sekitar Rp826 M, dari Rp0,48 T jadi Rp1,30 T, dengan karyawan ikut naik 2,28% menjadi 9.799 orang. Ini tipe pola yang biasanya disukai investor yang pengin growth yang masih terasa nyata, karena perusahaan bukan cuma menikmati siklus, tapi juga menambah kapasitas dan mempertebal fondasi. JPFA juga bagus, cuma karakternya lebih kalem dibanding CPIN. Laba JPFA naik 17,29% atau naik sekitar Rp388 M menjadi Rp2,63 T, capex naik 50,01% atau naik sekitar Rp517 M menjadi Rp1,55 T, dan karyawan naik 2,44% menjadi 31.322 orang. Kalau disederhanakan, CPIN itu versi lebih agresif dan lebih cepat dalam kombinasi laba naik plus capex naik, sedangkan JPFA versi lebih stabil tapi tetap ekspansif.
Sekarang bagian yang sering bikin investor salah baca, ICBP. Secara mesin uang, ini tetap raksasa, laba 9M masih Rp8,19 T, jauh di atas yang lain. Tapi trennya menurun, laba turun 12,63% atau berkurang sekitar Rp1,18 T dibanding 9M 2024, sementara capex justru naik 33,09% atau naik sekitar Rp836 M menjadi Rp3,36 T, dan karyawan naik 3,77% menjadi 37.051 orang. Jadi, ini bukan cerita emiten melemah dan pasrah, ini lebih mirip emiten yang tetap investasi besar saat profit lagi tertekan. Investor boleh suka karena skala dan daya tahan grupnya, tapi harus jujur melihat bahwa di periode ini investor belum dikasih pertumbuhan laba, justru dikasih sinyal reinvestasi dan potensi tekanan margin atau biaya. Ini penting, karena kalau investor cari yang paling enak untuk dibaca dari angka saja, CPIN lebih mudah dijadikan jawaban dibanding ICBP, walaupun ICBP tetap nomor satu untuk skala. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau investor pengin lihat efisiensi sederhana, ada dua cara gampang, laba per karyawan dan perbandingan laba terhadap capex. Laba per karyawan tertinggi di data ini itu YUPI dan CPIN, keduanya sekitar Rp344 juta per karyawan untuk periode 9M. Bedanya, CPIN mencetak itu sambil capex besar dan naik kencang, sedangkan YUPI labanya turun tipis 2,34% dan capexnya justru turun 59,93% menjadi Rp55,7 M. Ini pola panen, bukan pola gas pertumbuhan, wajar juga mengingat YUPI baru listing Maret 2025 dan bisa saja 2024 capexnya memang fase build up. Untuk rasio laba dibanding capex, yang paling ekstrem itu STTP sekitar 24,31 kali, karena capexnya kecil sekali Rp36,4 M sementara labanya Rp885 M, tapi dua-duanya turun, laba turun 12,80% dan capex turun 41,04% plus karyawan turun 2,74%. Buat investor, ini terlihat sangat efisien di atas kertas, tapi juga bisa berarti perusahaan sedang menahan ekspansi. Jadi rasio tinggi itu bukan selalu kabar bagus, kadang cuma berarti perusahaan tidak banyak investasi tahun ini.
Masuk ke kelompok yang lebih defensif, GOOD itu yang paling rapi dalam arti minim drama. Laba naik 4,54% menjadi Rp535 M, capex naik 19,30% menjadi Rp382 M, karyawan nyaris datar naik 0,15% jadi 9.237 orang. Ini tipe emiten yang cocok buat investor yang suka konsistensi, walau skalanya jelas tidak segede empat besar. MYOR juga besar, tapi lagi fase mengerem. Laba MYOR turun 8,58% menjadi Rp1,88 T, capex turun 51,31% menjadi Rp575,9 M, dan rata-rata karyawan turun 1,39% menjadi 10.128. Ini bisa dibaca sebagai disiplin belanja setelah periode capex tinggi di 2024, tapi tetap saja, kalau investor sedang cari pemenang berbasis tren 9M 2025, MYOR kalah momentum dibanding CPIN dan JPFA.
Yang paling mengganggu dari sisi pola risiko, MAIN dan ROTI. MAIN capex naik 132,96% menjadi Rp234,7 M dan karyawan naik 1,53% jadi 3.645, tapi laba anjlok 62,22% menjadi Rp136 M. Ini kombinasi yang bikin investor harus ekstra curiga, karena artinya uang keluar lebih besar, tenaga kerja naik, tapi hasil turun jauh, biasanya ada tekanan biaya bahan baku, harga jual, efisiensi pabrik, atau siklus bisnis yang lagi tidak bersahabat. ROTI juga tidak nyaman, capex naik 21,55% menjadi Rp76,2 M, tapi laba turun 45,68% menjadi Rp135 M, karyawan turun 2,78% jadi 5.656. Ini pola restruktur efisiensi yang belum berbuah, karena profit masih tertekan walau ada investasi. Kalau investor lagi pilih yang terbaik, dua ini paling sulit dibela hanya dari data yang investor kasih. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Kalau dipaksa menyimpulkan siapa yang terbaik dengan kacamata paling praktis dari tiga metrik ini, jawabannya tergantung definisi terbaiknya. Terbaik untuk skala mesin uang tetap ICBP karena laba Rp8,19 T, tidak ada yang mendekat. Terbaik untuk kombinasi tren laba naik plus ekspansi agresif, CPIN yang paling unggul karena laba naik 41,13% sambil capex naik 173,81% dengan skala laba masih Rp3,37 T, bukan angka kecil. Terbaik versi ekspansi yang lebih moderat dan relatif stabil, JPFA, karena laba dan capex sama-sama naik dengan basis operasional besar dan karyawan 31 ribuan. Terbaik versi stabil tanpa drama, GOOD. Sementara YUPI dan STTP terlihat sangat menarik di sisi produktivitas dan efisiensi capex, tapi karena labanya turun dan capexnya mengecil, investor sebaiknya menempatkan keduanya sebagai cerita panen atau fase jeda investasi, bukan kandidat utama untuk narasi growth 2025.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU