Oligopoli Bisnis Telco
Saham telekomunikasi saat ini cenderung ke arah konsolidasi mendekati oligopoly. Di fase seperti ini, investor yang masih menilai emiten telko cuma dari narasi pertumbuhan pelanggan biasanya telat paham, karena pertandingan utamanya sudah pindah ke perang efisiensi, perang struktur biaya, dan perang kemampuan membiayai jaringan tanpa bikin neraca sesak. Semakin industri mengerucut, yang menang bukan yang paling kencang promosi, tapi yang paling jago mengubah revenue menjadi kas, lalu kas itu dipakai untuk memperlebar parit jaringan, bukan sekadar untuk bertahan hidup. Jadi kalau mau membedah Telkom $TLKM, $ISAT, dan XLSMART $EXCL per 30 September 2025, fokusnya bukan cuma siapa paling besar, tapi siapa paling kuat napasnya, siapa paling disiplin belanja modal, dan siapa yang lagi sengaja bikin laporan laba-rugi terlihat jelek demi masa depan. Di telko, angka-angka itu bukan kosmetik, itu peta siapa yang akan memimpin babak konsolidasi berikutnya. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Dari sisi skala, Telkom itu mesin raksasa yang sulit ditandingi, aset Rp291,9 triliun, hampir 2,6 kali aset ISAT Rp113,7 triliun dan sekitar 2,7 kali aset XLSMART Rp109,8 triliun. Skala ini penting karena di industri yang makin oligopoly, ukuran tubuh menentukan daya tahan, Telkom bisa menahan tekanan harga lebih lama karena basis aset dan infrastruktur yang lebih dalam. Tapi skala juga punya kutukan, makin besar, makin berat untuk tumbuh cepat, dan itu kelihatan dari tren revenue 9 bulan 2025 yang kontraksi, Telkom -2,3% dan ISAT -1,6%, sementara XLSMART melesat +20,5% karena efek merger. Jadi kalau investor cuma lihat growth, XLSMART terlihat paling kencang, tapi kalau investor lihat kualitas mesin uang, ceritanya lebih kompleks.
Sekarang masuk ke metrik yang paling jujur di telko, arus kas. CFO terhadap revenue itu ukuran seberapa efektif bisnis mengubah pendapatan jadi kas dari operasi. XLSMART unggul paling tinggi di 48,2%, Telkom 45,3%, ISAT 38,2%. Keunggulan XLSMART di metrik ini memberi sinyal bahwa walaupun laporan laba-rugi sedang terlihat buruk, operasionalnya tetap menghasilkan kas yang kuat, dan ini biasanya datang dari kombinasi penerimaan pelanggan yang jalan, efisiensi working capital, dan biaya non-kas yang besar seperti penyusutan yang tidak menggerus kas saat ini. Telkom ada di posisi sangat kuat juga, 45,3% itu kelas berat, artinya revenue yang tidak tumbuh pun masih bisa diperas jadi kas besar. ISAT lebih rendah, 38,2%, bukan berarti jelek, tapi artinya ruang perbaikan efisiensi operasional masih ada, atau ISAT sedang menanggung beban operasional dan pembayaran yang membuat kas tidak secepat dua pesaingnya.
Kalau mau tahu siapa yang paling punya amunisi nyata untuk perang harga dan investasi tanpa drama, lihat FCF terhadap revenue, karena ini kas bersih setelah belanja modal. Telkom juara di 28,5%, XLSMART dekat sekali di 26,4%, ISAT tertinggal di 13,2%. Keunggulan Telkom di sini menunjukkan dua hal yang enak, kas operasional besar dan belanja modal relatif lebih terkendali, jadi kas bebasnya tebal. XLSMART mengejutkan karena meski rugi akuntansi, FCF margin masih tinggi, artinya tekanan laba mereka bukan karena kas bocor, melainkan karena beban non-kas dan penyesuaian akuntansi pasca-merger. ISAT yang 13,2% menggambarkan gaya main yang lebih agresif, kasnya ada, tapi lebih banyak ditelan investasi jaringan, sehingga kas bebas untuk fleksibilitas jangka pendek jadi lebih tipis.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Metrik yang sering bikin investor salah paham adalah capex terhadap revenue. ISAT paling agresif 24,9%, XLSMART 21,9%, Telkom paling konservatif 16,7%. Keunggulan ISAT di metrik ini adalah orientasi menyerang, mereka jelas menaruh uang lebih besar per rupiah pendapatan untuk memperkuat jaringan dan kapasitas, ini bisa jadi pondasi untuk merebut pangsa pasar atau menjaga kualitas layanan ketika kompetisi data makin brutal, tapi konsekuensinya kas bebas mengecil dan sensitivitas ke tekanan harga jadi lebih tinggi. Keunggulan Telkom 16,7% adalah disiplin, efisiensi, dan kemampuan memerah aset jaringan yang sudah matang, cocok untuk fase konsolidasi, tapi risikonya jika terlalu irit, ada peluang kehilangan momentum di area yang butuh ekspansi cepat. XLSMART berada di tengah, masih tinggi karena integrasi dan optimasi jaringan pasca-merger butuh belanja, dan itu wajar di tahun transisi.
Sekarang bicara profitabilitas yang terlihat di laporan laba-rugi. Margin laba bersih Telkom 18,8% adalah yang paling sehat dan paling konsisten untuk menggambarkan mesin monetisasi yang matang. ISAT 9,3% masih positif dan solid, tapi jelas setengahnya Telkom, menunjukkan tekanan biaya atau kompetisi harga yang lebih terasa. XLSMART -8,5% adalah rugi, dan ini yang sering dijadikan bahan panik, padahal konteksnya penting karena mereka melakukan percepatan penyusutan pasca-merger, jadi laba bersih ditekan oleh beban non-kas. Jadi keunggulan Telkom di metrik ini adalah kekuatan pricing power dan efisiensi struktur biaya, keunggulan ISAT adalah masih mampu profit meski industri menekan, sedangkan XLSMART belum bisa dinilai cuma dari margin ini karena sedang membayar biaya transisi akuntansi dan integrasi. Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Supaya makin kebaca kualitas laba, bandingkan laba bersih terhadap CFO. Telkom 41,5%, ISAT 24,4%, XLSMART negatif karena rugi. Interpretasinya sederhana, dari kas operasi yang dihasilkan, berapa bagian yang benar-benar muncul sebagai laba bersih setelah semua beban, termasuk penyusutan dan bunga. Keunggulan Telkom, CFO yang besar tidak habis dimakan beban, jadi profit yang muncul tetap tebal. ISAT lebih rendah, artinya kas operasi mereka lebih banyak tergerus oleh beban non-kas, bunga, atau biaya lain, atau mereka memang sedang menanggung investasi dan biaya yang membuat akuntansi lebih berat. XLSMART negatif di sini menjelaskan bahwa kas operasional kuat belum tentu langsung jadi laba, karena beban penyusutan dipercepat membuat laporan laba-rugi sengaja ditekan.
Lalu laba bersih terhadap FCF, Telkom 65,8% dan ISAT 70,7%, XLSMART negatif. Banyak investor salah membaca metrik ini, padahal maknanya begini, dari kas bebas yang tersisa setelah capex, berapa yang setara dengan laba bersih. ISAT yang lebih tinggi dari Telkom bukan berarti lebih unggul secara absolut, tapi menunjukkan struktur capex yang lebih berat membuat FCF lebih kecil, sehingga laba bersih tampak mengambil porsi besar dari FCF. Telkom lebih rendah karena FCF-nya jauh lebih besar, jadi porsi laba terhadap FCF terlihat lebih kecil, ini justru memberi rasa aman karena kas bebasnya tidak bergantung pada laba semata. XLSMART negatif karena rugi, dan itu kembali menguatkan pesan bahwa perusahaan ini sedang di fase transisi akuntansi, bukan otomatis fase operasional runtuh.
Kalau kita gabungkan tren pertumbuhan, gambar besarnya begini. XLSMART memimpin revenue growth +20,5% karena merger, tapi laba bersih berbalik rugi karena penyesuaian biaya dan penyusutan, jadi ini pertumbuhan yang dibayar mahal di laporan laba-rugi. Telkom dan ISAT sama-sama mengalami kontraksi revenue kecil, laba turun, tapi yang menarik, Telkom justru mencatat tren FCF terbaik dengan growth FCF +21,7% karena efisiensi belanja modal, jadi mereka seperti masuk mode menjaga amunisi. Artinya, Telkom sedang bermain seperti incumbent oligopoly, pertumbuhan tidak dikejar membabi-buta, tapi kas dibikin setebal mungkin untuk menjaga dominasi dan fleksibilitas. ISAT terlihat seperti penantang yang tetap agresif belanja, berharap kualitas jaringan dan penetrasi data bisa mengkompensasi tekanan pertumbuhan.Upgrade skill https://cutt.ly/Ve3nZHZf
Sekarang kita turunkan ke segmen supaya kelihatan sumber tenaga masing-masing. Telkom masih ditopang motor Mobile lewat Telkomsel sekitar Rp59,0 triliun, tapi pendapatan eksternal mobile turun -6,0%, sementara Wholesale and International Business tumbuh +5,2%, ini memberi sinyal Telkom mulai mencari stabilitas dari bisnis yang lebih mirip pipa dan tol data, bukan cuma tarif ritel. ISAT didorong selular sekitar Rp34,5 triliun, MIDI tumbuh +1,6%, tetapi telekomunikasi tetap turun -9,9%, artinya ISAT makin mengandalkan data dan layanan digital sebagai bantalan pertumbuhan, sementara layanan lama terkikis. XLSMART mayoritas pendapatan dari Data dan Layanan Digital 90,8%, interkoneksi tumbuh +157% pasca-merger, tapi Managed Service dan IT turun -31,2%, jadi mereka sedang menggeser komposisi bisnis dan mengencangkan fokus pada mesin yang paling cepat menghasilkan volume setelah penggabungan jaringan.
Telkom unggul di metrik profitabilitas dan kas bebas, net margin 18,8% dan FCF margin 28,5% adalah kombinasi yang sangat sulit ditiru, apalagi ditopang skala aset Rp291,9 triliun, ini profil pemimpin konsolidasi. ISAT unggul di agresivitas investasi, capex terhadap revenue 24,9% menunjukkan mereka tidak mau sekadar bertahan, mereka sedang membangun otot, tetapi konsekuensinya FCF margin 13,2% jadi paling tipis, jadi investor harus nyaman dengan fase belanja berat. XLSMART unggul di konversi kas operasional, CFO margin 48,2% tertinggi, revenue growth tertinggi, dan FCF margin 26,4% yang hampir menyamai Telkom, tetapi laporan laba-rugi masih dipukul penyusutan dipercepat sehingga net margin negatif, ini tipikal cerita transisi merger. Di pasar telko yang makin oligopoly, biasanya pemenang jangka menengah bukan yang paling cantik di laba bersih sesaat, tapi yang menguasai dua hal, kas dari operasi dan disiplin belanja modal, karena dua itulah yang menentukan siapa bisa bertahan saat harga ditekan dan siapa bisa menyerang saat kompetitor kehabisan napas.
Ini bukan rekomendasi jual dan beli saham. Keputusan ada di tangan masing-masing investor.
Untuk diskusi lebih lanjut bisa lewat External Community Pintar Nyangkut di Telegram dengan mendaftarkan diri ke External Community menggunakan kode: A38138
Link Panduan https://stockbit.com/post/13223345
Kunjungi Insight Pintar Nyangkut di sini https://cutt.ly/ne0pqmLm
Sedangkan untuk rekomendasi belajar saham bisa cek di sini https://cutt.ly/Ve3nZHZf
https://cutt.ly/ge3LaGFx
Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW
Disclaimer: http://bit.ly/3RznNpU