imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

$IHSG — Kita Bukan Siapa-Siapa

Ada fase dalam hidup investor
yang tidak pernah masuk seminar,
tidak dijadikan thread motivasi,
dan tidak laku dijual sebagai e-book.

Fase ketika kita tidak bangkrut,
tidak panik,
tidak juga euforia.

Fase ketika kita sadar:
kita tidak terlihat.

Dan di titik jenuh itulah,
kita mulai mengenal satu kata
yang jarang dibahas di forum trading:
ikhlas.

Pagi itu aku membuka aplikasi sekuritas.
Semua berjalan normal.
IHSG bergerak pelan, naik belasan poin.
Miliaran rupiah berpindah tangan
dalam kedipan mata.

Lalu, di tengah hiruk-pikuk angka itu,
satu kenyataan menampar pelan:
Pasar tak pernah bertanya,
“kamu ada atau tidak?”

Ia hanya bergerak
mengikuti arus yang lebih besar
daripada semua analisa kita.

Aku bisa all-in atau all-out.
IHSG tetap mengikuti irama global,
suku bunga,
dan aliran dana raksasa
yang bahkan tidak mengenali wajahku.

Dulu, aku menatap antrian bid-offer
seperti membaca wajah teman atau lawan.
Sekarang aku tahu:
aku tidak sedang bertarung,
juga tidak sedang mencari kawan.
Pasar ada.
Aku hanya ada.

Aku cuma buih di pinggir pantai.
Ombak tak berhenti untukku.
Ia datang,
menarik kembali dirinya,
dan aku pun lenyap
tanpa jejak.

Aku hanya butiran debu di rel kereta.
Kereta raksasa melaju,
tidak peduli apakah aku tersapu naik,
terhempas turun,
atau terlindas.

Aku ingat saham pertama
yang membuatku merasa paham pasar.
Masuk di support,
keluar cuan.
Rasanya seolah pasar memberi anggukan kecil:
“kamu hebat.”

Itu adalah jebakan paling halus.

Karena sejak saat itu,
aku mulai menggantungkan identitas di sana.

Setiap cut loss bukan lagi manajemen risiko,
melainkan penghinaan harga diri.
Setiap nyangkut bukan sekadar angka merah,
tapi gugatan atas kecerdasan sendiri.

Aku pernah menahan saham
yang terus turun
bukan karena fundamentalnya masih bagus,
melainkan karena aku tersinggung.
“Kenapa analisisku salah?”

Aku menunggu laporan kuartalan
seperti terdakwa menunggu vonis banding.
Padahal, pasar sudah menjatuhkan vonis sejak lama.
Tanpa drama,
hanya pelan-pelan dilupakan.

Di titik nadir itu,
ego perlahan runtuh.

Aku mulai memahami bahwa:
analisis adalah ikhtiar,
dan harga adalah takdir.

Aku sering menyebut “bandar”
seolah aku tahu siapa di balik layar.
Padahal sebagian besar waktu,
aku hanyalah noise statistik.
Satu transaksi ritel
tidak menggeser satu tick pun
di saham big caps.

Kesadaran ini awalnya menyedihkan.
Untuk apa belajar pola candle
kalau satu cuitan bisa menghancurkannya?
Untuk apa tau aturan risk-reward
kalau dana raksasa hanya lewat tanpa menoleh?

Namun di dalam kehancuran ego itu,
datang keheningan.
Bukan menyembuhkan,
hanya ada.

Jika aku bukan siapa-siapa di pasar,
maka setidaknya
aku berhenti berpura-pura penting.

Aku tidak perlu membuktikan apa pun pada layar.
Pasar tidak menuntutku menjadi jenius.
Ia hanya menuntutku jujur pada diri sendiri.

Bagiku, ikhlas di pasar bukan pasrah buta.
Ia seperti melepaskan anak panah
setelah menarik busur sekuat tenaga.
Hasilnya
urusan angin, target,
dan takdir.

Ikhlas adalah saat aku menekan tombol sell
tanpa menyisakan benci,
menyadari bahwa rezekiku hari ini
memang hanya sampai di situ,
atau aku sedang dijauhkan
dari kerugian yang lebih besar.

Menjadi kecil berarti
tidak punya beban untuk selalu benar.
Justru sejak tidak merasa penting,
keputusan-keputusan menjadi lebih jernih.
Bukan lebih jago,
tapi lebih jujur.

Aku berhenti berharap pasar mengerti niatku.
Aku hanya memastikan
aku mengerti batasanku.

Stop loss bukan lagi tameng kesuksesan,
melainkan sabuk pengaman
yang kupakai dengan penuh kerelaan.

Diversifikasi bukan strategi jenius,
melainkan pengakuan
bahwa aku tidak tahu masa depan,
dan aku hidup berdampingan
dengan ketidaktahuanku.

Bahkan “investasi jangka panjang”
sering kali hanyalah cara rendah hati untuk berkata:
aku telah menebar benih ikhtiar,
dan aku membiarkan waktu
menumbuhkannya pada saatnya nanti.

Pasar tetap dingin.
Tetap tidak peduli.
Tetap tidak mengenal namaku.
Dan aku juga berhenti
meminta pengakuannya.

Aku bukan pemenang
yang menaklukkan pasar.
Aku hanyalah manusia
yang sadar pada tempatnya.

Kita bukan siapa-siapa.

Di tengah badai pasar,
menjadi bukan siapa-siapa
adalah satu-satunya keadaan
yang tidak langsung hancur
oleh ombak volatilitas.

Karena ketika kita sudah merasa nol,
tidak ada lagi ruang dan waktu untuk merasa rugi.

Seperti debu di rel kereta.
Seperti buih di pinggir pantai.

Antara berusaha dan memaksa,
antara ikhtiar dan ikhlas.

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy