Trading in the Zone & The Disciplined Trader
#1 — Kenapa Trader Pintar Tetap Rugi
Ada sebuah paradoks di market yang sering membuat orang terdiam lama setelah mengalaminya.
Orang yang cerdas, rajin membaca laporan keuangan, menguasai indikator, memahami pola, bahkan mampu menjelaskan market dengan bahasa yang terdengar meyakinkan tapi justru sering kali menjadi korban paling setia dari market itu sendiri.
Bukan karena mereka bodoh.
Justru karena mereka terlalu pintar untuk kepentingan egonya sendiri.
Market tidak pernah menanyakan IPK kita.
Tidak peduli seberapa banyak buku trading yang sudah kita baca.
Tidak terkesan oleh jam terbang, latar belakang, atau kepercayaan diri.
Market hanya melakukan satu hal pasti yaitu bergerak sesuai dengan kemungkinannya sendiri.
Di titik inilah banyak trader mulai keliru.
Mereka mengira trading adalah soal menemukan analisa yang “paling benar”.
Padahal trading adalah soal bagaimana kita bereaksi saat analisa itu tidak bekerja.
“The market is never wrong. Opinions often are.”
— Jesse Livermore
Trader pintar cenderung ingin benar.
Ingin pembuktiannya nyata.
Ingin harga bergerak sesuai dengan logika yang sudah ia susun rapi.
Saat market tidak mengikuti rencana, muncul perasaan yang sulit dijelaskan,
kesal, menyangkal, berharap, lalu memaksa.
Bukan sistem yang rusak.
Bukan market yang kejam.
Melainkan pikiran yang menolak menerima kenyataan sederhana
bahwa salah adalah bagian dari permainan.
Di sinilah jurang pertama terbuka.
Trader yang belum siap secara mental akan mulai melakukan hal-hal kecil yang tampak sepele, tapi fatal seperti menunda cut loss, menambah posisi tanpa rencana, atau mencari pembenaran dari orang lain.
Semua demi satu tujuan halus : menyelamatkan ego.
Padahal sejak awal, trading tidak pernah menjanjikan kepastian.
Yang ada hanyalah probabilitas.
“In trading, it’s not about being right or wrong. It’s about how much you make when you’re right and how much you lose when you’re wrong.”
— George Soros
WiseTrader memahami satu hal lebih cepat dari yang lain:
mereka bisa benar, dan tetap kalah.
mereka bisa salah, dan tetap bertahan.
Karena yang mereka jaga bukan rasa benar, melainkan kelangsungan hidup. survive.
Bab ini bukan untuk membuatmu ragu pada kemampuanmu.
Justru sebaliknya. Ini adalah undangan halus untuk bertanya lebih dalam
Apakah selama ini kamu trading untuk mencari uang atau untuk membuktikan bahwa kamu benar?
Dan jika besok market membuktikan kamu salah,
apakah kamu siap menerimanya tanpa melawan?
Pertanyaan itu sederhana.
Jawabannya akan menentukan apakah perjalananmu sebagai trader baru saja dimulai atau akan terhenti lebih cepat dari yang kamu kira.
$BUMI $MINA $BIPI
