imageProfile
Potential Junk
Potential Spam

#94
Sab, 10 Jan 2026

Edisi Spesial ☕


Cerdas Belum Tentu Pintar dalam Keuangan


Bayangkan dua orang teman sekolah dulu. Yang satu brilian: lulusan terbaik universitas ternama, PhD di bidang fisika, profesor yang dikagumi mahasiswa, IQ-nya pasti di atas 140. Dia punya penghasilan tinggi, mobil bagus, rumah di kawasan elit. Tapi di balik itu, dia sering gelisah setiap akhir bulan, kartu kreditnya maxed out, cicilan hutang menumpuk, dan tabungan pensiunnya hampir nol.

Yang satunya? Lulusan SMA, dulu dianggap "biasa saja" di kelas. Sekarang dia pengusaha kecil, hidup santai tanpa hutang, anak-anaknya sekolah di tempat bagus, dan dia sudah bisa traveling setiap tahun. Mana yang lebih "pintar" soal uang?

Ini bukan cerita fiksi. Pola seperti ini terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia. Banyak orang dengan pendidikan tinggi dan kecerdasan akademis luar biasa justru kesulitan finansial, sementara orang "biasa" bisa membangun kekayaan stabil. Mengapa? Karena "cerdas (akademis) belum tentu pintar dalam keuangan".


Mengapa Orang Cerdas Bisa "Gagal" Soal Uang?

Kecerdasan IQ membantu Anda mendapatkan pekerjaan bagus dan gaji tinggi. Studi menunjukkan ada korelasi positif antara IQ dan pendapatan tahunan setiap poin IQ tambahan bisa meningkatkan income ratusan dolar per tahun. Tapi korelasi itu melemah saat bicara soal kekayaan (wealth). Mengapa? Karena kekayaan bukan hanya soal berapa Anda hasilkan, tapi bagaimana Anda mengelola, menginvestasikan, dan melindungi uang itu.

Contoh nyata: Banyak selebriti dan orang sukses yang cerdas tapi bangkrut karena manajemen uang buruk. Nicolas Cage, aktor pemenang Oscar dengan penghasilan ratusan juta dolar, pernah hampir bangkrut karena pengeluaran gila-gilaan beli kastil, pulau pribadi, hingga tengkorak dinosaurus. MC Hammer, Mike Tyson, bahkan Michael Jackson semuanya pernah di puncak, tapi jatuh karena tidak pintar mengelola keuangan.

Di kalangan profesional, dokter dan residen di negara maju sering punya literasi keuangan rendah meski pendidikannya tinggi. Di Indonesia sendiri, meski indeks literasi keuangan nasional sudah naik menjadi sekitar 65-66% pada 2024-2025, masih banyak orang berpendidikan tinggi yang terjebak hutang konsumtif atau tidak punya investasi jangka panjang.

Intinya: Sekolah mengajarkan kita matematika, fisika, sejarah tapi jarang mengajarkan cara uang bekerja. Hasilnya? Orang cerdas sering jatuh ke jebakan psikologis: spending untuk status, takut rugi sehingga tidak investasi, atau percaya "nanti saja" pensiun.


Rahasia Sebenarnya: Kekuatan Compound Interest

Salah satu "ilmu baru" paling powerful yang jarang diajarkan di sekolah adalah bunga majemuk (compound interest). Albert Einstein konon menyebutnya "keajaiban dunia kedelapan" karena uang bisa berkembang biak sendiri seiring waktu.

Mari kita lihat contoh nyata. Asumsikan Anda investasi Rp 12 juta per tahun (sekitar Rp 1 juta per bulan) di instrumen dengan return rata-rata 10% per tahun (mirip indeks saham jangka panjang).

• Jika mulai dari umur 25 tahun dan rutin sampai umur 65 (40 tahun investasi):

Total uang yang Anda keluarkan: Rp 480 juta.

Saldo akhir: sekitar Rp 5,31 miliar.

• Jika mulai dari umur 35 tahun (30 tahun investasi):
Total uang yang Anda keluarkan: Rp 360 juta (lebih sedikit!).

Saldo akhir: hanya Rp 2,18 miliar.

Bedanya? Mulai 10 tahun lebih lambat membuat Anda kehilangan lebih dari Rp 3 miliar padahal Anda investasi lebih sedikit total!

Contoh lain yang lebih ambisius: Mau punya Rp 1 miliar saat pensiun umur 65?

• Mulai umur 25: Cukup sisihkan sekitar Rp 180 ribu per bulan.

• Mulai umur 35: Harus sisihkan sekitar Rp 485 ribu per bulan hampir tiga kali lipat!

Waktu adalah aset terbesar Anda. Orang cerdas sering sadar ini terlambat.


Pelajaran Baru untuk Anda

Kabar baiknya: Pintar keuangan bukan bakat bawaan. Ini skill yang bisa dipelajari seperti naik sepeda. Tidak perlu IQ jenius; yang dibutuhkan adalah disiplin, kesabaran, dan kebiasaan sederhana:

1. Bedakan asset (yang menghasilkan uang) dan liability (yang menguras uang).

2. Hidup di bawah kemampuan (live below your means).

3. Investasi rutin, biarkan compound bekerja.

4. Hindari hutang konsumtif.

5. Terus belajar baca buku, dan mulai praktek kecil-kecilan.

Jika anda tadi mulai belajar ini lebih dini, ceritanya bisa berbeda. Anda? Masih ada waktu. Mulai hari ini, dan 20-30 tahun lagi, Anda akan berterima kasih pada diri sendiri yang "pintar" ini.
$IHSG $BBCA $TLKM

Read more...
2013-2026 Stockbit ·About·ContactHelp·House Rules·Terms·Privacy